Dilihat : 6 kali

Jakarta, pukul 05.45 pagi.

 

Dimas bangun dengan suara dering alarm dari ponsel bututnya yang layar depannya sudah retak. Sinar matahari belum sempat menembus tirai jendela kos-kosan sempit berukuran 2x3 meter yang ia sewa seharga 800 ribu sebulan. Di luar, suara motor ojek online sudah ramai, menandai dimulainya pertempuran baru di hari itu.

 

Ia menatap langit-langit sebentar, lalu menghela napas panjang. "Ayo, hidup dimulai," gumamnya, meskipun tubuhnya enggan untuk beranjak.

 

Dimas adalah anak rantau dari sebuah desa kecil di pinggiran Purwokerto. Setelah lulus kuliah dengan gelar sarjana komunikasi yang ia banggakan, ia pindah ke ibu kota dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan bergengsi. Namun kenyataannya jauh dari ekspektasi. Ia bekerja sebagai admin media sosial untuk sebuah perusahaan startup kecil, dengan gaji hanya 3,5 juta rupiah per bulan. Potong sewa kos, makan, transportasi, dan sedikit pulsa—habis. Tidak ada ruang untuk sakit, apalagi liburan.

 

Pagi itu, ia sarapan seadanya: nasi putih sisa semalam dan telur dadar yang sudah dingin. Ia menolak beli kopi sachet yang biasa ia minum karena harus berhemat. Ia tahu, sekalipun nilainya kecil, pengeluaran kecil yang berulang bisa membuat dompetnya berdarah.

 

Di dalam TransJakarta menuju kantornya di bilangan Kuningan, Dimas berdiri, memegang erat pegangan besi karena tidak kebagian tempat duduk. Di sekelilingnya, orang-orang dengan wajah letih menatap kosong ke layar ponsel masing-masing. Ia teringat kembali percakapan dengan temannya kemarin malam, Reno, yang bekerja di kantor besar dengan gaji dua kali lipat dirinya.

 

"Lo tuh harus upgrade gaya hidup, Dim. Pake baju yang branded dikit kek. Biar diliat profesional."

 

Dimas hanya tersenyum waktu itu. Tapi pagi ini, dengan napas sempit dan mata kantuk, ia merasa sedih. Bukan karena tidak punya baju mahal, tapi karena di dunia ini, terlalu banyak orang yang diukur dari apa yang mereka pakai, bukan dari apa yang mereka kerjakan.

 

Sesampainya di kantor, Dimas langsung disambut oleh wajah sinis atasannya. "Telat lima menit, Mas Dimas. Udah tiga kali minggu ini."

 

Dimas hanya mengangguk dan minta maaf. Ia tahu, memperdebatkan lima menit tidak akan mengubah hidupnya. Namun, batinnya mulai merasa ada sesuatu yang salah dengan cara hidup yang ia jalani.

 

Setelah jam kantor selesai, Dimas duduk sendirian di taman kecil belakang kantor. Ia membuka catatan digital di ponselnya dan menulis: *"Tips bertahan hidup di kota besar: jangan beli produk bermerek, jangan beli di minimarket, dan jangan pernah berharap sistem akan berpihak padamu."*

 

Saat itulah ia bertemu dengan Lina, seorang perempuan muda yang menjual keripik rumahan. Mereka bertukar senyum. Lina menawarkan keripik singkong original tanpa label, tanpa merek, tanpa iklan.

 

"Berapa, Mbak?""Lima ribu aja, Mas. Tanpa merek, tapi rasa rumah."Dimas tertawa kecil. "Itu tagline bagus, Mbak.""Yang penting kenyang," jawab Lina.

 

Dan mungkin—itu benar. Yang penting kenyang.

 

Hari itu, Dimas pulang dengan secuil harapan. Mungkin ia belum sukses, belum punya rumah, belum punya tabungan. Tapi ia tahu, ada cara lain untuk bertahan. Dan itu semua akan ia mulai dari sejengkal langkah kecil.---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 1 Gaji Kecil Hidup Mahal

Kibul Gonzales : **HS Part 16 - Hari Ini untuk Esok**

Pagi itu, Pasar Sejengkal masih berdenyut seperti biasa. Matahari baru muncul dari balik deretan rumah ketika Dimas sudah menjejakkan kaki di lorong tengah pasar. Udara dingin bercampur aroma kopi dan sayur segar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 15 - Pasar dan Perlawanan**

Fajar baru saja menyingsing ketika Dimas sudah berdiri di halaman balai warga. Udara pagi masih segar, bau tanah basah dari sisa hujan semalam menenangkan pikiran. Di depannya, bentangan spanduk putih sederhana terpampang ...

Kibul Gonzales : **HS Part 12 - Kota Tak Selalu Kejam**

Pagi itu, matahari naik pelan di balik gedung-gedung yang berbaris rapat seperti buku-buku tinggi di rak besar. Dimas berdiri di jembatan penyeberangan, memandangi arus manusia yang tak pernah berhenti: pegawai kantoran dengan ...

Kibul Gonzales : **HS Part 11 - Cinta Tak Butuh Merek**

Pagi di pasar tradisional selalu memiliki ritme sendiri. Aroma sayur segar, bumbu dapur, dan gorengan panas bercampur dengan teriakan pedagang yang saling bersahutan. Dimas melangkah pelan di lorong sempit pasar, kantong kain ...

Kibul Gonzales : **HS Part 9 - Hak Adalah Harga Mati**

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Dimas baru saja sampai, masih memegang secangkir kopi panas dari warung depan, ketika melihat beberapa rekan kerja berkerumun di dekat pantry. Wajah-wajah mereka tegang, bisik-bisik terdengar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 8 - Hidup di Hari Ini**

Pagi itu, Dimas duduk di tepi ranjang kosnya. Udara masih lembap, sisa hujan semalam menempel di jendela. Jam di dinding menunjukkan pukul 05.12, tapi matanya sudah terbuka sejak satu jam lalu. Bukan karena ...

Kibul Gonzales : **HS Part 6 - Dividen Keringat**

Dimas sudah tiga bulan bekerja di perusahaan barunya sebagai digital strategist. Meski gajinya tidak tinggi, ia menikmati fleksibilitas yang ditawarkan. Ia bisa bekerja dari mana saja, bahkan sesekali dari taman kota atau ...

Kibul Gonzales : **HS Part 5 - Gaji Tanpa Pajak**

Dimas sedang duduk di sebuah kafe coworking space sederhana, mengedit konten untuk klien freelance barunya. Ia masih bekerja penuh waktu sebagai admin media sosial, tapi diam-diam mulai membuka jasa kecil-kecilan di luar ...

Kibul Gonzales : **HS Part 4 - Tanah Sejengkal**

Sabtu sore, Dimas duduk di taman kecil yang tidak jauh dari kos-kosannya. Biasanya, taman itu sepi, hanya didatangi oleh beberapa anak kecil dan pedagang keliling.    Tapi hari itu, ada seorang ...