Dilihat : 35 kali

Dimas duduk di ujung tempat tidur sambil memandangi nota belanja bulanannya. Nominalnya tidak besar, tapi tetap saja terasa berat. Detergen, sabun, pasta gigi, kopi sachet, semuanya bermerek. Ia mulai menghitung ulang berapa banyak uang yang habis hanya karena sebuah nama pada kemasan.

 

Malam itu, ia memutuskan untuk mengubah cara hidupnya. Ia menulis ulang daftarnya, mengganti semua produk bermerek dengan alternatif generik. Ia mulai mencari warung terdekat, pasar tradisional, dan toko kelontong yang tidak menjual "brand".

 

Besoknya, sepulang kerja, Dimas menyusuri gang-gang kecil dekat kos-kosannya. Ia menemukan sebuah toko kecil yang nyaris tidak terlihat dari jalan raya. Di sanalah ia bertemu **Lina** lagi. Ternyata, selain berjualan keripik, Lina juga membantu orang tuanya mengelola toko kelontong itu.

 

"Mas Dimas, nyari apa?" tanya Lina dengan senyum ramah."Sabun cuci piring. Tapi... jangan yang bermerek."Lina tertawa kecil. "Tenang, di sini semua tanpa merek."

 

Dimas membeli banyak hal malam itu. Sabun curah, minyak goreng dalam botol bekas air mineral, bahkan pasta gigi buatan lokal dengan nama asing yang belum pernah ia dengar. Total belanjanya hanya separuh dari biasanya.

 

Di perjalanan pulang, Dimas merasa puas. Ia merasa seperti menemukan celah kecil dalam sistem yang memaksa orang untuk membeli label, bukan kebutuhan.

 

***Di kantor, perubahan kecil ini mulai terlihat. Dimas tidak lagi membawa kopi bermerek dalam termos, melainkan kopi bubuk yang ia racik sendiri. Temannya, **Bagas**, penasaran.

 

"Lo sekarang ngirit banget, Dim?"

 

"Bukan ngirit. Gue cuma capek dikendalikan iklan," jawab Dimas sambil menyeruput kopinya.

 

Bagas mengangkat alis. "Tapi kan kualitas?"

 

"Kualitas gak selalu berarti merek. Lo cuma gak pernah nyoba yang lain."

 

***Sore hari, Dimas kembali ke toko Lina, kali ini hanya untuk membeli keripik. Mereka duduk di depan toko sambil ngobrol. Toko itu sederhana, tanpa pendingin, tanpa banner besar. Tapi pelanggan tetap datang karena harga murah dan suasana kekeluargaan.

 

"Lo gak pengen buka cabang gitu?" tanya Dimas.

 

"Nanti aja. Gue lebih suka begini dulu. Lambat asal selamat."

 

Dimas mengangguk. Kalimat itu seperti menyentil isi kepalanya. Selama ini, semua orang mengejar yang besar, cepat, dan mewah. Tapi ia baru sadar, mungkin kebahagiaan justru hadir dari yang kecil, lambat, dan sederhana.

 

***Di malam hari, ia kembali menulis di catatannya:

 

"Tips hari ini: Jangan biarkan merek mengatur isi kantongmu. Yang penting fungsi, bukan gengsi."Dan dengan itu, Dimas mulai merasa sedikit lebih merdeka.---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 2 Merek Tak Membuat Kenyang