Dilihat : 7 kali

Dimas duduk di ujung tempat tidur sambil memandangi nota belanja bulanannya. Nominalnya tidak besar, tapi tetap saja terasa berat. Detergen, sabun, pasta gigi, kopi sachet, semuanya bermerek. Ia mulai menghitung ulang berapa banyak uang yang habis hanya karena sebuah nama pada kemasan.

 

Malam itu, ia memutuskan untuk mengubah cara hidupnya. Ia menulis ulang daftarnya, mengganti semua produk bermerek dengan alternatif generik. Ia mulai mencari warung terdekat, pasar tradisional, dan toko kelontong yang tidak menjual "brand".

 

Besoknya, sepulang kerja, Dimas menyusuri gang-gang kecil dekat kos-kosannya. Ia menemukan sebuah toko kecil yang nyaris tidak terlihat dari jalan raya. Di sanalah ia bertemu **Lina** lagi. Ternyata, selain berjualan keripik, Lina juga membantu orang tuanya mengelola toko kelontong itu.

 

"Mas Dimas, nyari apa?" tanya Lina dengan senyum ramah."Sabun cuci piring. Tapi... jangan yang bermerek."Lina tertawa kecil. "Tenang, di sini semua tanpa merek."

 

Dimas membeli banyak hal malam itu. Sabun curah, minyak goreng dalam botol bekas air mineral, bahkan pasta gigi buatan lokal dengan nama asing yang belum pernah ia dengar. Total belanjanya hanya separuh dari biasanya.

 

Di perjalanan pulang, Dimas merasa puas. Ia merasa seperti menemukan celah kecil dalam sistem yang memaksa orang untuk membeli label, bukan kebutuhan.

 

***Di kantor, perubahan kecil ini mulai terlihat. Dimas tidak lagi membawa kopi bermerek dalam termos, melainkan kopi bubuk yang ia racik sendiri. Temannya, **Bagas**, penasaran.

 

"Lo sekarang ngirit banget, Dim?"

 

"Bukan ngirit. Gue cuma capek dikendalikan iklan," jawab Dimas sambil menyeruput kopinya.

 

Bagas mengangkat alis. "Tapi kan kualitas?"

 

"Kualitas gak selalu berarti merek. Lo cuma gak pernah nyoba yang lain."

 

***Sore hari, Dimas kembali ke toko Lina, kali ini hanya untuk membeli keripik. Mereka duduk di depan toko sambil ngobrol. Toko itu sederhana, tanpa pendingin, tanpa banner besar. Tapi pelanggan tetap datang karena harga murah dan suasana kekeluargaan.

 

"Lo gak pengen buka cabang gitu?" tanya Dimas.

 

"Nanti aja. Gue lebih suka begini dulu. Lambat asal selamat."

 

Dimas mengangguk. Kalimat itu seperti menyentil isi kepalanya. Selama ini, semua orang mengejar yang besar, cepat, dan mewah. Tapi ia baru sadar, mungkin kebahagiaan justru hadir dari yang kecil, lambat, dan sederhana.

 

***Di malam hari, ia kembali menulis di catatannya:

 

"Tips hari ini: Jangan biarkan merek mengatur isi kantongmu. Yang penting fungsi, bukan gengsi."Dan dengan itu, Dimas mulai merasa sedikit lebih merdeka.---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 2 Merek Tak Membuat Kenyang

Kibul Gonzales : **HS Part 16 - Hari Ini untuk Esok**

Pagi itu, Pasar Sejengkal masih berdenyut seperti biasa. Matahari baru muncul dari balik deretan rumah ketika Dimas sudah menjejakkan kaki di lorong tengah pasar. Udara dingin bercampur aroma kopi dan sayur segar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 15 - Pasar dan Perlawanan**

Fajar baru saja menyingsing ketika Dimas sudah berdiri di halaman balai warga. Udara pagi masih segar, bau tanah basah dari sisa hujan semalam menenangkan pikiran. Di depannya, bentangan spanduk putih sederhana terpampang ...

Kibul Gonzales : **HS Part 12 - Kota Tak Selalu Kejam**

Pagi itu, matahari naik pelan di balik gedung-gedung yang berbaris rapat seperti buku-buku tinggi di rak besar. Dimas berdiri di jembatan penyeberangan, memandangi arus manusia yang tak pernah berhenti: pegawai kantoran dengan ...

Kibul Gonzales : **HS Part 11 - Cinta Tak Butuh Merek**

Pagi di pasar tradisional selalu memiliki ritme sendiri. Aroma sayur segar, bumbu dapur, dan gorengan panas bercampur dengan teriakan pedagang yang saling bersahutan. Dimas melangkah pelan di lorong sempit pasar, kantong kain ...

Kibul Gonzales : **HS Part 9 - Hak Adalah Harga Mati**

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Dimas baru saja sampai, masih memegang secangkir kopi panas dari warung depan, ketika melihat beberapa rekan kerja berkerumun di dekat pantry. Wajah-wajah mereka tegang, bisik-bisik terdengar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 8 - Hidup di Hari Ini**

Pagi itu, Dimas duduk di tepi ranjang kosnya. Udara masih lembap, sisa hujan semalam menempel di jendela. Jam di dinding menunjukkan pukul 05.12, tapi matanya sudah terbuka sejak satu jam lalu. Bukan karena ...

Kibul Gonzales : **HS Part 6 - Dividen Keringat**

Dimas sudah tiga bulan bekerja di perusahaan barunya sebagai digital strategist. Meski gajinya tidak tinggi, ia menikmati fleksibilitas yang ditawarkan. Ia bisa bekerja dari mana saja, bahkan sesekali dari taman kota atau ...

Kibul Gonzales : **HS Part 5 - Gaji Tanpa Pajak**

Dimas sedang duduk di sebuah kafe coworking space sederhana, mengedit konten untuk klien freelance barunya. Ia masih bekerja penuh waktu sebagai admin media sosial, tapi diam-diam mulai membuka jasa kecil-kecilan di luar ...

Kibul Gonzales : **HS Part 4 - Tanah Sejengkal**

Sabtu sore, Dimas duduk di taman kecil yang tidak jauh dari kos-kosannya. Biasanya, taman itu sepi, hanya didatangi oleh beberapa anak kecil dan pedagang keliling.    Tapi hari itu, ada seorang ...