Dilihat : 4 kali

Sabtu pagi, Dimas berencana belanja mingguan. Biasanya, ia akan langsung menuju minimarket modern yang buka 24 jam. Tapi sejak ia mulai menata ulang gaya hidupnya, ia merasa enggan melangkah ke tempat-tempat yang dulu jadi rutinitas.

 

Ia memutuskan untuk berjalan kaki ke pasar tradisional di belakang kompleks. Sepanjang jalan, ia melewati tiga cabang minimarket besar yang selalu terlihat terang dan steril. Di luar salah satu toko, terpasang spanduk promosi besar bertuliskan "Diskon Besar! Beli 2 Gratis 1!"Dimas hanya melirik. Ia tahu jebakan itu: membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan, hanya karena merasa mendapatkan "diskon".

 

Sesampainya di pasar, bau ikan asin, sayuran segar, dan tanah basah langsung menyambut. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada musik lembut, tidak ada keranjang belanjaan stylish. Tapi ada satu hal yang terasa nyata: kehidupan.

 

"Mas, tomatnya pilih sendiri ya!" seru seorang ibu penjual sambil sibuk menimbang bawang untuk pembeli lain.

 

Dimas tersenyum. Ia menikmati suasana itu. Ia membeli cabai segenggam, bawang, telur, dan minyak goreng dalam botol daur ulang. Semua itu dengan harga yang bahkan lebih murah dibanding harga promosi minimarket.

 

Saat sedang memilih sayur, ia bertemu **Ujang**, seorang pria paruh baya dengan logat Sunda yang kental.

 

"Baru pertama ke pasar sini, Kang?" tanya Ujang sambil menawarkan kantong kresek.

 

"Iya, Pak. Dulu saya biasa ke... ya, ke minimarket itu."

 

Ujang tertawa. "Itu mah buat orang yang buru-buru. Di sini, buat yang mau ngobrol juga."

 

Dimas duduk di bangku kayu di depan lapak Ujang sambil menyeruput teh panas gratis. Mereka berbincang soal harga kebutuhan pokok, soal tanah yang makin mahal, dan soal anak muda yang lebih suka duduk di kafe daripada berbelanja di pasar.

 

***

 

Sore harinya, Dimas merenung di kamarnya. Ia menyadari sesuatu yang sederhana tapi dalam: minimarket modern memang menawarkan kemudahan, tapi juga menjauhkan orang dari interaksi manusia.

 

Di pasar, ia bicara dengan penjual, mendengar keluhan mereka, melihat tawa mereka, bahkan belajar menawar harga. Sesuatu yang tidak akan ia temukan di minimarket dengan karyawan yang dibatasi oleh skrip layanan pelanggan.

 

***Di catatan hariannya, ia menulis:

 

"Minimarket modern bukan musuh. Tapi mereka membuat kita lupa bahwa belanja bukan hanya soal barang, tapi juga soal hubungan. Mungkin kita butuh lebih banyak warung, bukan lebih banyak cabang."

 

Dan malam itu, Dimas menandai hari itu sebagai titik balik: ia tidak akan kembali ke minimarket untuk kebutuhan harian. Ia ingin uangnya berputar di sekitar rumah, bukan terbang ke kantor pusat yang entah di mana.

 

---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 3 Minimarket Modern Bukan Segalanya

Kibul Gonzales : **HS Part 16 - Hari Ini untuk Esok**

Pagi itu, Pasar Sejengkal masih berdenyut seperti biasa. Matahari baru muncul dari balik deretan rumah ketika Dimas sudah menjejakkan kaki di lorong tengah pasar. Udara dingin bercampur aroma kopi dan sayur segar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 15 - Pasar dan Perlawanan**

Fajar baru saja menyingsing ketika Dimas sudah berdiri di halaman balai warga. Udara pagi masih segar, bau tanah basah dari sisa hujan semalam menenangkan pikiran. Di depannya, bentangan spanduk putih sederhana terpampang ...

Kibul Gonzales : **HS Part 12 - Kota Tak Selalu Kejam**

Pagi itu, matahari naik pelan di balik gedung-gedung yang berbaris rapat seperti buku-buku tinggi di rak besar. Dimas berdiri di jembatan penyeberangan, memandangi arus manusia yang tak pernah berhenti: pegawai kantoran dengan ...

Kibul Gonzales : **HS Part 11 - Cinta Tak Butuh Merek**

Pagi di pasar tradisional selalu memiliki ritme sendiri. Aroma sayur segar, bumbu dapur, dan gorengan panas bercampur dengan teriakan pedagang yang saling bersahutan. Dimas melangkah pelan di lorong sempit pasar, kantong kain ...

Kibul Gonzales : **HS Part 9 - Hak Adalah Harga Mati**

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Dimas baru saja sampai, masih memegang secangkir kopi panas dari warung depan, ketika melihat beberapa rekan kerja berkerumun di dekat pantry. Wajah-wajah mereka tegang, bisik-bisik terdengar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 8 - Hidup di Hari Ini**

Pagi itu, Dimas duduk di tepi ranjang kosnya. Udara masih lembap, sisa hujan semalam menempel di jendela. Jam di dinding menunjukkan pukul 05.12, tapi matanya sudah terbuka sejak satu jam lalu. Bukan karena ...

Kibul Gonzales : **HS Part 6 - Dividen Keringat**

Dimas sudah tiga bulan bekerja di perusahaan barunya sebagai digital strategist. Meski gajinya tidak tinggi, ia menikmati fleksibilitas yang ditawarkan. Ia bisa bekerja dari mana saja, bahkan sesekali dari taman kota atau ...

Kibul Gonzales : **HS Part 5 - Gaji Tanpa Pajak**

Dimas sedang duduk di sebuah kafe coworking space sederhana, mengedit konten untuk klien freelance barunya. Ia masih bekerja penuh waktu sebagai admin media sosial, tapi diam-diam mulai membuka jasa kecil-kecilan di luar ...

Kibul Gonzales : **HS Part 4 - Tanah Sejengkal**

Sabtu sore, Dimas duduk di taman kecil yang tidak jauh dari kos-kosannya. Biasanya, taman itu sepi, hanya didatangi oleh beberapa anak kecil dan pedagang keliling.    Tapi hari itu, ada seorang ...