Dilihat : 35 kali

Sabtu pagi, Dimas berencana belanja mingguan. Biasanya, ia akan langsung menuju minimarket modern yang buka 24 jam. Tapi sejak ia mulai menata ulang gaya hidupnya, ia merasa enggan melangkah ke tempat-tempat yang dulu jadi rutinitas.

 

Ia memutuskan untuk berjalan kaki ke pasar tradisional di belakang kompleks. Sepanjang jalan, ia melewati tiga cabang minimarket besar yang selalu terlihat terang dan steril. Di luar salah satu toko, terpasang spanduk promosi besar bertuliskan "Diskon Besar! Beli 2 Gratis 1!"Dimas hanya melirik. Ia tahu jebakan itu: membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan, hanya karena merasa mendapatkan "diskon".

 

Sesampainya di pasar, bau ikan asin, sayuran segar, dan tanah basah langsung menyambut. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada musik lembut, tidak ada keranjang belanjaan stylish. Tapi ada satu hal yang terasa nyata: kehidupan.

 

"Mas, tomatnya pilih sendiri ya!" seru seorang ibu penjual sambil sibuk menimbang bawang untuk pembeli lain.

 

Dimas tersenyum. Ia menikmati suasana itu. Ia membeli cabai segenggam, bawang, telur, dan minyak goreng dalam botol daur ulang. Semua itu dengan harga yang bahkan lebih murah dibanding harga promosi minimarket.

 

Saat sedang memilih sayur, ia bertemu **Ujang**, seorang pria paruh baya dengan logat Sunda yang kental.

 

"Baru pertama ke pasar sini, Kang?" tanya Ujang sambil menawarkan kantong kresek.

 

"Iya, Pak. Dulu saya biasa ke... ya, ke minimarket itu."

 

Ujang tertawa. "Itu mah buat orang yang buru-buru. Di sini, buat yang mau ngobrol juga."

 

Dimas duduk di bangku kayu di depan lapak Ujang sambil menyeruput teh panas gratis. Mereka berbincang soal harga kebutuhan pokok, soal tanah yang makin mahal, dan soal anak muda yang lebih suka duduk di kafe daripada berbelanja di pasar.

 

***

 

Sore harinya, Dimas merenung di kamarnya. Ia menyadari sesuatu yang sederhana tapi dalam: minimarket modern memang menawarkan kemudahan, tapi juga menjauhkan orang dari interaksi manusia.

 

Di pasar, ia bicara dengan penjual, mendengar keluhan mereka, melihat tawa mereka, bahkan belajar menawar harga. Sesuatu yang tidak akan ia temukan di minimarket dengan karyawan yang dibatasi oleh skrip layanan pelanggan.

 

***Di catatan hariannya, ia menulis:

 

"Minimarket modern bukan musuh. Tapi mereka membuat kita lupa bahwa belanja bukan hanya soal barang, tapi juga soal hubungan. Mungkin kita butuh lebih banyak warung, bukan lebih banyak cabang."

 

Dan malam itu, Dimas menandai hari itu sebagai titik balik: ia tidak akan kembali ke minimarket untuk kebutuhan harian. Ia ingin uangnya berputar di sekitar rumah, bukan terbang ke kantor pusat yang entah di mana.

 

---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 3 Minimarket Modern Bukan Segalanya