Dilihat : 6 kali

Sabtu sore, Dimas duduk di taman kecil yang tidak jauh dari kos-kosannya. Biasanya, taman itu sepi, hanya didatangi oleh beberapa anak kecil dan pedagang keliling. 

 

Tapi hari itu, ada seorang pria tua yang menarik perhatiannya. Ia mengenakan kemeja batik lusuh, topi rajut, dan sedang memberi makan burung-burung kecil di rerumputan.

 

Dimas duduk di bangku yang sama. Pria tua itu menoleh dan tersenyum ramah.

 

"Jarang yang suka duduk di sini sore-sore," katanya.

 

"Mungkin karena gak ada WiFi, Pak," jawab Dimas sambil tertawa kecil.

 

Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya pria itu memperkenalkan diri sebagai **Pak Rasid**, pensiunan PNS yang kini tinggal di sekitar situ. Obrolan ringan berubah serius ketika Pak Rasid menyinggung soal tanah.

 

"Dulu saya juga punya mimpi beli tanah luas. Tapi makin ke sini, saya sadar, sejengkal tanah di banyak tempat lebih bernilai daripada seluas-luasnya di satu tempat."

 

Dimas penasaran. "Maksudnya, Pak?"

 

"Kalau kamu beli tanah kecil-kecil, sejengkal demi sejengkal, di banyak tempat—bahkan yang dianggap gak strategis—kamu bukan cuma pegang nilai investasi. Kamu pegang jembatan silaturahim."

 

Pak Rasid membuka ponselnya dan menunjukkan peta digital. Di sana ada titik-titik kecil di berbagai wilayah: Bekasi, Cianjur, Banyuwangi, bahkan satu di Sabah, Malaysia.

 

"Itu semua saya beli bukan buat bangun rumah. Tapi buat punya alasan ke sana. Setiap saya datang, saya bisa kenal tetangga baru, ngobrol sama warga, bahkan kadang numpang tidur di masjid setempat. Peluang silaturahim itu gak bisa dibeli."

 

***

 

Ucapan itu menempel kuat di benak Dimas. Ia mulai mencari informasi tentang kavling kecil, tanah desa, dan bahkan lahan produktif bekas sawah. Ia sadar, dengan gajinya yang kecil, ia tak bisa menyaingi investor besar. Tapi ia bisa mulai dari sejengkal.

 

Dua minggu kemudian, Dimas berhasil membeli sebidang kecil tanah di lereng Gunung Salak. Harganya murah, hanya cukup untuk satu pondok kecil. Tapi perasaannya luar biasa.Ia menelepon Pak Rasid.

 

"Pak, saya udah beli tanah sejengkal. Di Bogor."

 

Pak Rasid hanya tertawa senang. "Nah, sekarang kamu punya alasan ke Bogor tiap tahun. Jangan lupa bawa oleh-oleh."

 

***Hari itu, Dimas menulis catatan:

 

"Tanah sejengkal bukan sekadar investasi. Ia adalah pintu untuk bertemu dunia lain. Dunia di mana nama kita mungkin belum dikenal, tapi sapaan kita ditunggu."

 

Dan untuk pertama kalinya, Dimas merasa memiliki sesuatu. Bukan hanya properti, tapi kemungkinan—akan petualangan, pertemanan, dan masa depan yang tak ditentukan oleh uang semata.---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 4 Tanah Sejengkal

Kibul Gonzales : **HS Part 16 - Hari Ini untuk Esok**

Pagi itu, Pasar Sejengkal masih berdenyut seperti biasa. Matahari baru muncul dari balik deretan rumah ketika Dimas sudah menjejakkan kaki di lorong tengah pasar. Udara dingin bercampur aroma kopi dan sayur segar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 15 - Pasar dan Perlawanan**

Fajar baru saja menyingsing ketika Dimas sudah berdiri di halaman balai warga. Udara pagi masih segar, bau tanah basah dari sisa hujan semalam menenangkan pikiran. Di depannya, bentangan spanduk putih sederhana terpampang ...

Kibul Gonzales : **HS Part 12 - Kota Tak Selalu Kejam**

Pagi itu, matahari naik pelan di balik gedung-gedung yang berbaris rapat seperti buku-buku tinggi di rak besar. Dimas berdiri di jembatan penyeberangan, memandangi arus manusia yang tak pernah berhenti: pegawai kantoran dengan ...

Kibul Gonzales : **HS Part 11 - Cinta Tak Butuh Merek**

Pagi di pasar tradisional selalu memiliki ritme sendiri. Aroma sayur segar, bumbu dapur, dan gorengan panas bercampur dengan teriakan pedagang yang saling bersahutan. Dimas melangkah pelan di lorong sempit pasar, kantong kain ...

Kibul Gonzales : **HS Part 9 - Hak Adalah Harga Mati**

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Dimas baru saja sampai, masih memegang secangkir kopi panas dari warung depan, ketika melihat beberapa rekan kerja berkerumun di dekat pantry. Wajah-wajah mereka tegang, bisik-bisik terdengar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 8 - Hidup di Hari Ini**

Pagi itu, Dimas duduk di tepi ranjang kosnya. Udara masih lembap, sisa hujan semalam menempel di jendela. Jam di dinding menunjukkan pukul 05.12, tapi matanya sudah terbuka sejak satu jam lalu. Bukan karena ...

Kibul Gonzales : **HS Part 6 - Dividen Keringat**

Dimas sudah tiga bulan bekerja di perusahaan barunya sebagai digital strategist. Meski gajinya tidak tinggi, ia menikmati fleksibilitas yang ditawarkan. Ia bisa bekerja dari mana saja, bahkan sesekali dari taman kota atau ...

Kibul Gonzales : **HS Part 5 - Gaji Tanpa Pajak**

Dimas sedang duduk di sebuah kafe coworking space sederhana, mengedit konten untuk klien freelance barunya. Ia masih bekerja penuh waktu sebagai admin media sosial, tapi diam-diam mulai membuka jasa kecil-kecilan di luar ...

Kibul Gonzales : **HS Part 4 - Tanah Sejengkal**

Sabtu sore, Dimas duduk di taman kecil yang tidak jauh dari kos-kosannya. Biasanya, taman itu sepi, hanya didatangi oleh beberapa anak kecil dan pedagang keliling.    Tapi hari itu, ada seorang ...