Dilihat : 8 kali

Dimas sedang duduk di sebuah kafe coworking space sederhana, mengedit konten untuk klien freelance barunya. Ia masih bekerja penuh waktu sebagai admin media sosial, tapi diam-diam mulai membuka jasa kecil-kecilan di luar jam kantor. Bukan untuk kaya mendadak, tapi untuk menambah napas hidupnya yang kerap pendek di akhir bulan.

 

Suatu hari, tawaran pekerjaan datang dari seorang kenalan di LinkedIn. Sebuah perusahaan kecil di Bandung mencari digital strategist. Gajinya lumayan besar, hampir dua kali lipat dari yang sekarang. Dimas diundang wawancara online.

 

Di sesi wawancara, sang manajer HRD bertanya, "Berapa ekspektasi gaji Anda, Mas Dimas?"

 

Dimas sempat terdiam. Pikiran logisnya ingin menjawab tinggi. Tapi ia teringat satu hal: penghasilan kena pajak. Ia mulai menghitung cepat di kepala, membandingkan take home pay bersih antara gaji tinggi yang dipotong pajak dengan gaji sedang yang tetap bersih karena di bawah ambang batas.

 

"Kalau boleh jujur, saya tidak mengincar angka besar. Saya butuh angka yang bersih, stabil, dan tidak membuat saya masuk kategori pajak yang memberatkan," jawab Dimas dengan jujur.

 

Manajer HRD mengerutkan dahi. "Anda tidak mau gaji lebih tinggi?"

 

"Saya lebih suka punya waktu dan kepala yang tenang, daripada uang banyak tapi stres dengan kewajiban yang gak sebanding."

 

***

 

Beberapa hari kemudian, Dimas diterima di perusahaan itu. Gaji yang ia terima memang tidak tinggi, tapi cukup. Ia bahkan mendapatkan fleksibilitas kerja jarak jauh, yang berarti pengeluaran untuk transportasi bisa ditekan.

 

Keputusan itu dianggap aneh oleh sebagian temannya.

 

"Gila lo, Dim. Gaji gede ditolak?"

 

Dimas hanya tersenyum. "Gede di atas kertas. Tapi potong pajak, potong transport, potong stres... yang tersisa berapa?"

 

Ia mulai menjalani kehidupan baru dengan gaya yang semakin ringan. Tidak ada pamer di media sosial, tidak ada belanja impulsif, dan yang paling penting—tidak ada rasa tercekik menjelang tanggal 20.

 

***

 

Di suatu malam, ia menulis catatan:

 

"Besar bukan selalu lebih baik. Kadang, kecil tapi bersih itu lebih menenangkan. Hidup bukan soal angka, tapi bagaimana cara kita bernapas."

 

Dengan gaji yang pas-pasan dan waktu kerja yang fleksibel, Dimas mulai menekuni hal-hal yang dulu ia tinggalkan: menulis cerita, bersepeda pagi, dan mengunjungi tanah sejengkalnya di Bogor.

 

Ia tahu, sistem tidak akan pernah benar-benar berpihak. Tapi ia bisa memilih di mana ia berdiri.---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 5 Gaji Tanpa Pajak

Kibul Gonzales : **HS Part 16 - Hari Ini untuk Esok**

Pagi itu, Pasar Sejengkal masih berdenyut seperti biasa. Matahari baru muncul dari balik deretan rumah ketika Dimas sudah menjejakkan kaki di lorong tengah pasar. Udara dingin bercampur aroma kopi dan sayur segar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 15 - Pasar dan Perlawanan**

Fajar baru saja menyingsing ketika Dimas sudah berdiri di halaman balai warga. Udara pagi masih segar, bau tanah basah dari sisa hujan semalam menenangkan pikiran. Di depannya, bentangan spanduk putih sederhana terpampang ...

Kibul Gonzales : **HS Part 12 - Kota Tak Selalu Kejam**

Pagi itu, matahari naik pelan di balik gedung-gedung yang berbaris rapat seperti buku-buku tinggi di rak besar. Dimas berdiri di jembatan penyeberangan, memandangi arus manusia yang tak pernah berhenti: pegawai kantoran dengan ...

Kibul Gonzales : **HS Part 11 - Cinta Tak Butuh Merek**

Pagi di pasar tradisional selalu memiliki ritme sendiri. Aroma sayur segar, bumbu dapur, dan gorengan panas bercampur dengan teriakan pedagang yang saling bersahutan. Dimas melangkah pelan di lorong sempit pasar, kantong kain ...

Kibul Gonzales : **HS Part 9 - Hak Adalah Harga Mati**

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Dimas baru saja sampai, masih memegang secangkir kopi panas dari warung depan, ketika melihat beberapa rekan kerja berkerumun di dekat pantry. Wajah-wajah mereka tegang, bisik-bisik terdengar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 8 - Hidup di Hari Ini**

Pagi itu, Dimas duduk di tepi ranjang kosnya. Udara masih lembap, sisa hujan semalam menempel di jendela. Jam di dinding menunjukkan pukul 05.12, tapi matanya sudah terbuka sejak satu jam lalu. Bukan karena ...

Kibul Gonzales : **HS Part 6 - Dividen Keringat**

Dimas sudah tiga bulan bekerja di perusahaan barunya sebagai digital strategist. Meski gajinya tidak tinggi, ia menikmati fleksibilitas yang ditawarkan. Ia bisa bekerja dari mana saja, bahkan sesekali dari taman kota atau ...

Kibul Gonzales : **HS Part 5 - Gaji Tanpa Pajak**

Dimas sedang duduk di sebuah kafe coworking space sederhana, mengedit konten untuk klien freelance barunya. Ia masih bekerja penuh waktu sebagai admin media sosial, tapi diam-diam mulai membuka jasa kecil-kecilan di luar ...

Kibul Gonzales : **HS Part 4 - Tanah Sejengkal**

Sabtu sore, Dimas duduk di taman kecil yang tidak jauh dari kos-kosannya. Biasanya, taman itu sepi, hanya didatangi oleh beberapa anak kecil dan pedagang keliling.    Tapi hari itu, ada seorang ...