Dilihat : 17 kali

Dimas sudah tiga bulan bekerja di perusahaan barunya sebagai digital strategist. Meski gajinya tidak tinggi, ia menikmati fleksibilitas yang ditawarkan. Ia bisa bekerja dari mana saja, bahkan sesekali dari taman kota atau kafe kecil milik temannya. Tapi hari itu, ia mulai merasa ada sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Proyek yang ia kerjakan selama dua bulan terakhir—sebuah kampanye media sosial untuk produk lokal ramah lingkungan—membuahkan hasil luar biasa. Penjualan klien naik signifikan, dan perusahaan mendapat kontrak lanjutan yang nilainya jauh lebih besar dari sebelumnya.

Namun, ketika pengumuman bonus diberikan, nama Dimas tidak ada dalam daftar penerima. Ia merasa heran dan sedikit kecewa. Bukan karena mengharapkan uang lebih, tapi karena merasa jerih payahnya tidak dihargai secara layak.

Ia memberanikan diri berbicara dengan atasannya, Mbak Rani, yang dikenal adil namun tegas.

"Mbak, saya cuma mau tanya... kontribusi saya di kampanye kemarin apakah dinilai?"

Mbak Rani menatap Dimas serius.

"Dinilai, tentu. Tapi kamu masih kontrak, Mas Dimas. Bonus hanya untuk karyawan tetap."

Dimas mengangguk, namun hatinya menolak diam.

"Saya paham, tapi... apakah sistem ini adil? Kalau hasil kerja saya membantu mendatangkan nilai besar untuk perusahaan, apakah tidak layak kalau saya dapat dividen yang sepadan?"

Malam harinya, Dimas tidak bisa tidur. Ia merasa sedang berdiri di batas: antara bersyukur dan menuntut hak. Ia menulis di catatannya:

"Dividen bukan hanya untuk pemilik modal. Keringat juga butuh dihargai, meski hanya setetes."

Keesokan harinya, ia kembali berbicara dengan Mbak Rani. Kali ini ia membawa data: engagement rate, konversi iklan, hingga pertumbuhan akun media sosial selama kampanye. Semua hasil kerja yang ia pimpin.

Mbak Rani membaca semua dengan seksama.

"Kamu benar, Mas Dimas. Mungkin sudah waktunya kita evaluasi ulang sistem kompensasi."

Beberapa hari kemudian, manajemen perusahaan memutuskan untuk membuat skema kompensasi tambahan bagi karyawan kontrak berdasarkan performa proyek. Dimas menjadi karyawan pertama yang menerima kompensasi tersebut. Bukan dalam bentuk bonus besar, tapi sebagai dividen keringat: penghargaan simbolis dan uang tambahan yang cukup untuk membeli sepeda lipat impiannya.

Sore harinya, ia bersepeda mengelilingi taman kota sambil tersenyum. Bukan karena ia merasa menang, tapi karena tahu bahwa ia telah memperjuangkan haknya tanpa menjatuhkan siapa pun.

Dan malam itu, ia menulis:

"Keringat tidak selalu dihargai di awal. Tapi kalau kau punya data, suara, dan keberanian—keringatmu bisa jadi dividen, bukan sekadar kenangan."

To be continued..


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 6 Dividen Keringat

Kibul Gonzales : **HS Part 16 - Hari Ini untuk Esok**

Pagi itu, Pasar Sejengkal masih berdenyut seperti biasa. Matahari baru muncul dari balik deretan rumah ketika Dimas sudah menjejakkan kaki di lorong tengah pasar. Udara dingin bercampur aroma kopi dan sayur segar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 15 - Pasar dan Perlawanan**

Fajar baru saja menyingsing ketika Dimas sudah berdiri di halaman balai warga. Udara pagi masih segar, bau tanah basah dari sisa hujan semalam menenangkan pikiran. Di depannya, bentangan spanduk putih sederhana terpampang ...

Kibul Gonzales : **HS Part 12 - Kota Tak Selalu Kejam**

Pagi itu, matahari naik pelan di balik gedung-gedung yang berbaris rapat seperti buku-buku tinggi di rak besar. Dimas berdiri di jembatan penyeberangan, memandangi arus manusia yang tak pernah berhenti: pegawai kantoran dengan ...

Kibul Gonzales : **HS Part 11 - Cinta Tak Butuh Merek**

Pagi di pasar tradisional selalu memiliki ritme sendiri. Aroma sayur segar, bumbu dapur, dan gorengan panas bercampur dengan teriakan pedagang yang saling bersahutan. Dimas melangkah pelan di lorong sempit pasar, kantong kain ...

Kibul Gonzales : **HS Part 9 - Hak Adalah Harga Mati**

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Dimas baru saja sampai, masih memegang secangkir kopi panas dari warung depan, ketika melihat beberapa rekan kerja berkerumun di dekat pantry. Wajah-wajah mereka tegang, bisik-bisik terdengar. ...

Kibul Gonzales : **HS Part 8 - Hidup di Hari Ini**

Pagi itu, Dimas duduk di tepi ranjang kosnya. Udara masih lembap, sisa hujan semalam menempel di jendela. Jam di dinding menunjukkan pukul 05.12, tapi matanya sudah terbuka sejak satu jam lalu. Bukan karena ...

Kibul Gonzales : **HS Part 6 - Dividen Keringat**

Dimas sudah tiga bulan bekerja di perusahaan barunya sebagai digital strategist. Meski gajinya tidak tinggi, ia menikmati fleksibilitas yang ditawarkan. Ia bisa bekerja dari mana saja, bahkan sesekali dari taman kota atau ...

Kibul Gonzales : **HS Part 5 - Gaji Tanpa Pajak**

Dimas sedang duduk di sebuah kafe coworking space sederhana, mengedit konten untuk klien freelance barunya. Ia masih bekerja penuh waktu sebagai admin media sosial, tapi diam-diam mulai membuka jasa kecil-kecilan di luar ...

Kibul Gonzales : **HS Part 4 - Tanah Sejengkal**

Sabtu sore, Dimas duduk di taman kecil yang tidak jauh dari kos-kosannya. Biasanya, taman itu sepi, hanya didatangi oleh beberapa anak kecil dan pedagang keliling.    Tapi hari itu, ada seorang ...