Dilihat : 30 kali

Pagi itu, Dimas membuka lemari kecil di kosnya dan memandangi beberapa bungkus mi instan, sekantong beras, dan beberapa bahan makanan sederhana lainnya. Ia ingat, minggu lalu ia mendapat sedikit uang tambahan dari dividen keringat. Sebagian sudah ia sisihkan untuk tabungan, sebagian lagi untuk kebutuhan pokok. Namun, ada dorongan lain yang muncul: berbagi. Bukan berbagi ala media sosial dengan foto-foto pamer, tetapi berbagi senyap—yang tidak meminta sorot lampu dan tidak haus pujian. Berbagi yang menutup pintu, bukan yang membuka kamera.

 

Ia menghela napas panjang dan tersenyum kecil. "Bisa lah," gumamnya. Ia mengemas dua kantong berisi beras, telur, gula, garam, beberapa sayuran segar yang kemarin ia beli di pasar Ujang, serta minyak goreng yang dibeli curah dalam botol bekas air mineral. Ia menempelkan secarik kertas kecil di tiap kantong: *"Semoga bermanfaat."*

 

Di gang kecil dekat kosnya, ada seorang ibu tua yang tinggal sendirian. Suaminya sudah lama meninggal, dan anak-anaknya merantau jauh. Dimas mengetuk pintu rumahnya pelan. Sejurus kemudian, daun pintu kayu itu berderit, memperlihatkan wajah keriput dengan mata teduh."Ibu, ini ada sedikit rezeki. Mohon diterima," ucap Dimas sambil menunduk.

Ibu itu tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Mas Dimas, terima kasih banyak. Allah yang balas."

Dimas tidak lama-lama. Ia tahu, sebagian orang malah merasa canggung jika kebaikan diulur terlalu lama, seolah ada yang harus dibalas. Ia pamit, lalu beranjak ke warung Ujang, mengantar kantong kedua. Di sana, ia membeli beberapa makanan ringan dan menyerahkan uang lebih dari harga seharusnya.

 

"Buat tambah modal, Kang," katanya.

 

Ujang tertawa, kumisnya bergoyang. "Kamu ini, rezeki orang lain belum tentu uang, tapi kamu bawa dua-duanya. Sehat terus ya, Dim."

 

Dimas mengangguk. Ada damai yang tidak bisa ia jelaskan melainkan dengan kalimat: *berbagi itu menata ulang jarak antarmanusia.* Ia tahu persis, uangnya tidak banyak. Namun rasa lapang itu melebihi nilai rupiah yang ia keluarkan.

 

***

 

Siang hari, ia menerima pesan dari **Sarah**, seorang pekerja sosial yang sudah lama ia kenal: *"Dim, daerah RW 05 kebanjiran lagi. Kita buka dapur umum di mushala. Kalau bisa, butuh tenaga buat siang sampai malam."*

 

Tanpa ragu, Dimas menjawab, *"Oke, gue berangkat setelah Zuhur."*

 

Di mushala kecil itu, bau bawang tumis bercampur wangi kayu basah. Relawan berbaris rapi di balik meja panjang: ada yang memotong sayuran, ada yang menanak nasi di magic com besar, ada yang mengaduk kari sederhana dalam panci aluminium. Sarah berdiri di tengah, wajahnya penuh peluh, rambutnya diikat asal. Ia tersenyum begitu melihat Dimas.

 

"Kamu datang juga. Makasih banget. Nih, pakai celemek dulu," kata Sarah sambil menyodorkan celemek plastik biru.

 

Dimas mengenakannya. "Jobdesk?"

 

"Kita kekurangan orang di bagian sayur sama packing. Pilih salah satu. Tapi kayaknya kamu cocok di packing, teliti soalnya."

 

Dimas tertawa kecil. "Teliti karena pelit."

 

"Bagus! Dapur suka orang pelit. Porsi jadi rapi," balas Sarah, terkekeh.

 

Dimas mengambil pos di ujung meja. Di hadapannya ada wadah styrofoam, sendok sayur, dan bungkusan plastik. Menu siang itu: nasi putih, tumis kol-wortel, telur balado, dan kuah bening dengan irisan daun bawang. Sederhana, tetapi hangat. Barisan warga mulai mengular. Ada bapak-bapak dengan celana komprang dan kaki masih berlumur lumpur, ada ibu-ibu memeluk anak kecil yang mengantuk, ada remaja yang pura-pura tangguh padahal matanya merah kelelahan.

 

"Untuk berapa orang, Pak?" tanya Dimas pada seorang bapak.

 

"Bertiga. Anak sama istri nunggu di rumah kontrakan. Tadi kerendem semua, Mas."

 

Dimas menambahi porsi sayur sedikit lebih banyak. "Semoga cukup ya, Pak. Kalau kurang, nanti balik lagi."

 

Bapak itu mengangguk, suaranya serak. "Sehat-sehat, Mas."

 

Di sebelah Dimas, seorang relawan muda bernama **Reno**—bukan teman Dimas yang dulu, kebetulan saja namanya sama—bertugas membagikan air minum. Ia berbisik, "Gila ya, banjir lagi. Padahal baru surut."

 

Dimas menatap sebentar ke luar mushala, ke gang yang berubah menjadi sungai kelabu. "Kota ini cepat membangun, tapi lambat mengingat."

 

Reno mengerutkan dahi. "Mengingat apa?"

 

"Mengingat bahwa air punya jalan pulang," jawab Dimas singkat.

 

Mereka kembali fokus. Satu per satu kotak nasi berpindah tangan. Di sela pekerjaan, Dimas memperhatikan Sarah: ia tak hanya mengatur, tetapi mendengar. Ada ibu yang curhat soal kasur yang hanyut, Sarah menunduk dan memegang tangannya. Ada anak kecil yang kehilangan sandal, Sarah mencarikan sandal bekas layak pakai dari kotak donasi. Ia tidak berdiri di atas; ia berjalan di samping.

 

Menjelang sore, stok telur hampir habis. Panik kecil melanda dapur umum. Dimas menghitung: antrian masih panjang, sementara panci telur tinggal seperempat. Ia merapat ke Sarah."Stok telur mau habis. Kalau dipaksain, anak-anak di belakang bisa nggak kebagian protein," kata Dimas.

 

Sarah menatap barisan, lalu menatap panci. "Oke, kita ubah strategi. Yang dapat telur kita ganti dengan tempe bacem. Ada tempe di kotak sebelah. Biar seimbang, orang yang bawa anak kecil kita prioritaskan telur."

 

"Siap," jawab Dimas. Ia mengumumkan dengan suara pelan tapi tegas, meminta maaf pada warga sambil menjelaskan alasan. Orang-orang mengangguk. Ada kecewa yang matang, tetapi dapat diterima. Kejujuran membuat pahit terasa masuk akal.

 

***Usai Magrib, hujan mulai reda. Dapur umum beralih pada sesi makan malam untuk relawan. Dimas duduk bersisian dengan Sarah. Mereka makan dalam diam, hanya terdengar suara sendok menggesek piring plastik.

 

"Capek?" tanya Sarah."Enggak. Badan iya, tapi kepala enteng," jawab Dimas.

 

Sarah tersenyum. "Itu manfaatnya berbagi sesuai kemampuan. Kamu datang; kamu kasih waktu, tenaga, dan sedikit uang kemarin. Besok kamu masih bisa kerja, masih bisa hidup. Dan kalau diperlukan, kamu bisa datang lagi. Kalau kamu memaksakan diri hari ini, besok kamu tumbang."

 

Dimas memandang wajah Sarah yang diterangi lampu mushala. Ada keteguhan di sana, semacam kepercayaan yang tidak lahir dari buku motivasi, tetapi dari hari-hari yang dilewati bersama manusia lain. "Gue ngerti sekarang. Kedermawanan bukan lomba lari. Ini maraton.""Hidup juga," balas Sarah.

 

***Malam kian padat. Hujan berubah menjadi rintik. Warga mulai pulang membawa bekal makan malam. Dimas dan relawan lain membereskan meja. Begitu selesai, Sarah tiba-tiba menepuk tangan. "Guys, sebelum pulang, aku mau bahas satu hal. Ada beberapa warga yang minta dapur umum jalan sampai tiga hari ke depan. Kita butuh memastikan stok bahan, jadwal piket, dan cara transparansi dana. Ada yang keberatan kalau kita bikin daftar kebutuhan dan laporan harian terbuka?"

 

Semua menggeleng."Bagus. Dimas, kamu bisa bantu bikin format laporan harian? Nanti di-print dan ditempel di papan mushala. Biar semua orang lihat pemasukan dan pengeluaran."

 

Dimas mengangguk. "Gampang."Reno menukas, "Dan tolong ya, kita nggak pasang logo brand apa pun di sini. Kemarin ada yang nawarin sponsorship tapi minta foto-foto close up."

 

Sarah menghela napas. "Iya, kita tolak. Ini ruang warga, bukan billboard. Kalau ada yang mau bantu, silakan. Tapi jangan jadikan bantuan sebagai panggung."

 

Dimas merasa kalimat itu menepuk dadanya. Ia pernah berada di tempat kerja yang memoles bantuan seperti campaign—menata rasa menjadi KPI. Malam ini, ia melihat kebalikannya: memoles sistem agar rasa bisa mengalir jujur.

 

***Sekitar pukul sembilan malam, dapur umum menutup aktivitas. Dimas berjalan pulang melewati gang sempit. Bau tanah basah bercampur wangi kayu, suara air menetes dari talang, dan beberapa tawa kecil dari rumah-rumah yang lampunya sudah temaram. Di persimpangan, ia berpapasan dengan dua remaja yang sedang mengangkut kasur basah.

 

"Butuh bantuan?" tanya Dimas."Bisa, Bang?"

 

Mereka bertiga mengangkat kasur bersama-sama, memerasnya di selokan kecil, lalu menjemurnya di pagar baja. Hal-hal seperti ini, pikir Dimas, membuat manusia kembali merasa punya lengan. Di kota, terlalu banyak yang diserahkan pada mesin; pada malam basah seperti ini, yang dibutuhkan adalah tangan yang mau terulur.

 

Sampai di kos, Dimas mandi air hangat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia membuka catatan hariannya. Di halaman kosong, ia menulis: *"Berbagi tanpa berlebihan adalah disiplin. Mengetahui batas diri supaya bisa terus hadir."*

 

Ia menutup buku. Lampu kamar dimatikan. Namun, tepat ketika ia hendak memejamkan mata, ponselnya bergetar. Pesan dari Sarah: *"Besok pagi rapat kecil jam 8 di mushala. Bikin format laporan ya. Thanks, Dim."*

 

"Siap," balas Dimas, lalu benar-benar terlelap.

 

***Pagi berikutnya, mushala kembali ramai. Kali ini bukan karena pembagian makanan, melainkan rapat kecil relawan. Sarah membuka pertemuan dengan ringkas: target hari ini, estimasi kebutuhan, dan evaluasi kemarin. Dimas mempresentasikan format laporan harian yang ia susun semalam: tabel pemasukan (donasi uang, donasi barang yang dikonversi ke nilai estimasi), pengeluaran (bahan makanan, gas, peralatan), serta stok tersisa. Ia juga menambahkan catatan: *"Dapur umum menerima kritik tertulis. Sampaikan saran di kotak masukan."*

 

"Bagus," kata Sarah. "Transparansi itu bentuk tertinggi dari rasa terima kasih. Kita menjaga kepercayaan warga dengan menunjukkan aliran rezeki."

 

Seorang relawan bernama **Mira** mengangkat tangan. "Kak, ada satu kendala. Kemarin ada warga yang dua kali ambil jatah makan malam. Katanya buat temannya. Tapi kita nggak bisa verifikasi. Gimana?"

 

Ruangan mendadak hening. Dilema klasik: mengatur keadilan tanpa jadi polisi."Kita pakai pendekatan tetangga," ujar Dimas. "Minta RT atau relawan yang tinggal dekat situ bantu memastikan. Tapi jangan dipermalukan di depan umum. Kalau dia memang butuh lebih, kita bisa ubah jadi skema *pre-order* internal. Biar dapur siapin porsi sesuai jumlah real di rumah."

 

Sarah mengangguk pelan. "Setuju. Di ruang krisis, persangkaan baik harus jadi default, tapi sistem tetap harus adaptif."

 

"Default baik, sistem adaptif," gumam Reno sambil menulis di kertas. "Noted."

 

***Menjelang siang, sebuah mobil dengan stiker komunitas influencer parkir di depan mushala. Tiga orang turun, membawa kamera mirrorless dan ring light portable. Salah satunya menghampiri Sarah.

 

"Kak, kita mau liputan dapur umum ini. Nanti kita tag komunitas, bisa bantu naikin donasi."Sarah tersenyum sopan. "Boleh liputan, tapi tanpa menyorot wajah warga penerima bantuan. Kita ingin menjaga martabat mereka."

 

"Wah, kalau wajah nggak kelihatan engagement-nya turun, Kak. Nanti kurang menyentuh."Dimas, yang berdiri tidak jauh, merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Ia melangkah maju. "Mas, yang menyentuh itu lauknya cukup, bukan air mata yang dekat ke kamera. Kalau mau bantu, bantu. Kalau mau konten, jangan bareng kita."

 

Suasana tegang sepersekian detik. Namun Sarah menyentuh lengan Dimas. "Santai, Dim." Lalu ia menoleh ke tim influencer itu. "Kami menghargai niat baik kalian. Kami izinkan liputan, tapi mohon ikuti aturan kami. Kalau tidak cocok, tidak apa-apa—kalian tetap boleh menyebarkan info kebutuhan tanpa visual orang."

 

Setelah berbisik sebentar, tim influencer setuju. Mereka memotret dapur, rak bumbu, catatan transparansi, dan tangan-tangan relawan yang sedang meracik. Hasilnya justru lebih kuat: narasi tentang kerja, bukan nestapa. Dimas merasa lega. Ada garis yang terasa nyata, garis yang membedakan kemanusiaan dari konsumsi.

 

***Sore harinya, Dimas mendapat telepon dari **Pak Rasid**. Suara baritonnya terdengar cerah. "Dim, kamu di mushala ya? Saya lewat tadi. Bagus itu, catatan keuangannya ditempel. Orang jadi lihat, yang masuk-apa, yang keluar-apa."

 

"Belajar dari Pak Rasid juga," jawab Dimas. "Semua yang sejengkal harus jelas batasnya."Pak Rasid terkekeh. "Hehe, iya. Ngomong-ngomong, minggu depan saya mau ke Cirebon nengok tanah sejengkal. Kamu ikut?"

 

Dimas menoleh ke papan jadwal. "Kalau dapur sudah stabil, saya nyusul."

 

"Oke. Kalau ikut, nanti kamu kenalan sama Pak Haji pemilik warung sate. Dia suka ngobrolin arus banjir juga. Katanya sungai itu seperti tamu. Kalau kita lupa kirim undangan, dia datang sendiri."

 

Dimas tertawa. "Analogi unik.""Unik tapi benar," tutup Pak Rasid.

 

***Menjelang malam, hujan benar-benar berhenti. Warga RW 05 seperti menarik napas pertama setelah lama tenggelam. Di mushala, stok habis sesuai perhitungan. Dimas menatap papan laporan yang ia tempel. Angka-angka kecil bersahaja berdiri berbaris, menandai arus rezeki yang singgah. Ia menambahkan satu catatan di paling bawah: *"Terima kasih kepada semua yang membantu—dengan uang, bahan, tenaga, waktu, tawa, dan doa."*

 

Sarah menghampiri. "Bagus tulisannya.""Terinspirasi dari kamu," jawab Dimas.

 

Sarah mendengus. "Jangan lebay. Kamu juga sama pentingnya. Btw, kamu kelihatan capek. Pulang, istirahat. Besok kita bagi dua shift."

 

"Siap."

 

Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang mushala. Di luar, para bocah berlarian menjejak genangan. Tawa mereka memantul di dinding rumah, seperti mengabarkan: kota ini belum kalah. Dimas menatap langit malam yang digaris tipis awan. Ia bertanya-tanya, berapa banyak bintang yang tertutup cahaya lampu kota dan masih tetap bersinar tanpa dilihat siapa pun. Ia merasa, barangkali begitu pula dengan kebaikan: banyak yang tidak terlihat, tapi tetap bekerja.

 

***Di kamar kos, Dimas merebus air. Ia membuat teh gula batu, minuman sederhana yang mengirim hangat hingga ke ujung jari. Sambil menunggu, ia membuka kembali buku catatannya. Kali ini, ia menulis lebih panjang, semacam manifesto kecil yang lahir dari dua hari ini:

 

"**Tentang Berbagi Tanpa Berlebihan**1) Berbagi adalah fungsi, bukan gengsi. Karena itu, ukur manfaat, bukan penampilan. 2) Berbagi adalah maraton. Simpan tenaga untuk esok, agar tangan tetap kuat menolong. 3) Transparansi bukan untuk pamer, melainkan untuk menyejukkan hati yang percaya. 4) Prioritas adalah etika: anak kecil dulu, yang sakit dulu, yang paling lemah dulu. 5) Menolak panggung bukan berarti anti-publisitas; itu artinya menjaga marwah penerima. 6) Ketika stok menipis, ubah strategi: kurangi porsi, tukar menu—asal semua kebagian. 7) Tetapkan default prasangka baik, lalu perkuat dengan sistem yang adaptif. 8) Ingat, uang bukan satu-satunya alat berbagi. Waktu, tenaga, dan telinga juga mata uang. 9) Jangan menggantikan tangan warga dengan sistem kita; sistem harus menjadi kerangka, bukan belenggu. 10) Pulanglah sebelum lelah jadi amarah."

 

Ia menutup buku, menyesap teh pelan-pelan. Ponselnya bergetar lagi—kali ini dari Lina."Mas Dimas, besok aku kirim keripik dua kardus buat dapur umum ya. Gratis. Biar jadi camilan anak-anak."

 

Dimas mengetik: "Makasih banyak, Lin. Kamu hebat."Balasan datang kilat. "Kita semua kan warga. Kalau warga nggak nolong warga, siapa lagi?"Dimas tersenyum. Di detik itu, kota terasa seperti rumah yang berantakan tapi hangat. Ada paku yang menonjol, ada kursi yang patah, ada atap yang bocor. Tetapi juga ada tangan-tangan yang mengangkat, menyapu, menambal, merapikan. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam rasa syukur yang sederhana.

 

***Keesokan harinya, situasi membaik, tetapi dapur umum tetap beroperasi untuk berjaga. Dimas datang lebih pagi. Ia dan Ujang belanja sayur di pasar: kol, wortel, daun bawang, tahu, tempe, dan sedikit ayam yang diolah menjadi sop ringan. Dalam perjalanan pulang, Ujang bercerita tentang masa mudanya.

 

"Dulu, saya juga sering kena banjir, Dim. Tapi waktu itu orang gak marah-marah ke pemerintah terus. Marah boleh, tapi habis itu kami sisihkan satu jam buat gotong royong. Kumpulkan batu, buat tanggul sementara. Gali parit kecil. Tukar jadwal ronda, bukan cuma jaga maling, tapi jaga sampah juga."

 

"Sekarang, gimana?"

 

"Sekarang orang lebih sibuk jaga diri. Maklum, hidup berat. Tapi kalau ada yang mengajak duluan, mereka ikut. Yang susah itu mengajak pertama kali."

 

Perkataan Ujang melekat, seperti paku yang menahan papan. Dimas menatap tumpukan sayur di keranjang. "Aku paham, Kang. Makanya kita butuh orang yang *memulai*."

 

"Dan orang yang *merawat*," tambah Ujang. "Mulai itu gampang. Merawat itu yang bikin panjang umur."

 

***Siang itu, seorang pejabat kelurahan datang meninjau. Ia menggunakan rompi oranye, membawa map, dan tersenyum formal. Sarah menyambut dengan wajar. Pejabat itu mengangguk-angguk melihat aktivitas dapur, menanyakan laporan, dan memuji transparansi. "Bagus ini. Bisa jadi prototipe kelurahan lain," katanya.

 

Dimas berharap dalam hati, semoga pujian berubah menjadi kebijakan: parit yang dibersihkan berkala, sampah yang dikelola dengan benar, tanggul yang dikuatkan. Sebab dapur umum seharusnya tidak menjadi rutinitas. Ia adalah jembatan darurat; kota mesti membangun jembatan permanen.

 

Sebelum pulang, pejabat itu bertanya, "Ada kebutuhan khusus?"

 

Sarah tidak minta tenda baru atau banner. Ia menjawab, "Butuh bak sampah tertutup di tiga titik rawan, Pak. Dan tolong bantu pengangkutan lebih sering selama seminggu ini."

 

"Catat," kata si pejabat pada stafnya. Dimas diam-diam kagum pada Sarah. Ia tidak terjebak dalam logika tampilan. Ia memukul paku tepat di titik yang menahan papan: kebutuhan dasar.

 

***Menjelang petang, suasana mushala lengang. Antrian menipis, udara lebih ramah. Dimas duduk di tangga, menyaksikan sinar jingga yang menyelinap di sela-sela genteng. Ia membuka catatan di ponselnya, menulis pesan singkat untuk dirinya sendiri: *"Kalau besok kamu ingin berhenti, ingat rasanya hari ini."*

 

Reno duduk di sampingnya. "Ngopi?"

 

"Boleh," kata Dimas. Mereka menyeruput kopi panas dari gelas plastik kecil. Reno menatap jauh. "Gue dulu cuma peduli sama diri sendiri. Lulus kuliah, kerja, nabung, beli motor, nabung lagi. Gue pikir, urusan orang lain ya urusan mereka. Tapi habis ikut begini, gue ngerasa... gue bodoh banget."

 

"Bukan bodoh," bantah Dimas. "Belum ketemu panggilan aja."

 

"Panggilan, ya?"

 

"Panggilan itu bukan yang gelegar. Kadang cuma bisikan kecil: *bukain pintu, bagiin porsi, bersihin meja.* Dan anehnya, bisikan itu bikin kita ngerasa... cukup."

 

Reno tertawa pendek. "Cukup. Kata yang langka di kota."

 

"Karena kota ini selalu bilang: kamu kurang," jawab Dimas. "Kurang kaya, kurang cantik, kurang berpengaruh. Padahal, mungkin yang kita kurang itu yang sederhana: *kurang hadir* untuk orang lain."

 

Mereka kembali diam, menikmati sisa senja. Di kejauhan, suara azan Magrib memantul. Waktu menutup seperti kembang malam.

 

***Malam terakhir dapur umum, hujan tidak turun. Warga sudah mulai membereskan rumah masing-masing. Mushala menjadi senyap setelah piring-piring dicuci, kompor dimatikan, dan papan laporan hari itu diupdate. Sarah mengumpulkan relawan untuk evaluasi penutup."Terima kasih semuanya. Tiga hari ini berjalan baik. Besok dapur kita tutup, kecuali ada perubahan. Tapi kita akan tetap standby dalam skala kecil. Jangan hilang kontak," ujar Sarah."Setuju," sahut Dimas.

 

Sebelum bubar, Sarah berkata pada Dimas, "Kamu pegang dokumentasi ya? Bukan foto-foto haru, tapi catatan: daftar kontak donatur, ritme kebutuhan, alur kerja, daftar perlengkapan yang harus siap di mushala. Nanti kita bikin *playbook* dapur umum warga."

 

"Siap. Gue bikin ringkas, gampang dipahami, bisa diterapkan di RW lain."

 

"Makanya kamu berguna," canda Sarah.

 

Dimas tertawa. "Gue berguna karena ada kamu."

 

"Basi," balas Sarah, tapi pipinya memerah samar.

 

***Di kamar, malam itu, Dimas bertarung dengan kata-kata. Ia membuka laptop, mengetik *playbook* sederhana yang ia janjikan. Ia menamai dokumen itu: *"Dapur Warga: Berbagi Tanpa Berlebihan."* Isinya bab-bab pendek: *Tujuan, Prinsip, Peran, Alur, Transparansi, Etika Publikasi, Prioritas, Manajemen Stok, Skema Prioritas Anak dan Lansia, Skenario Saat Stok Menipis, Penutupan dan Evaluasi.*

 

Di bagian *Prinsip*, ia menulis kalimat pembuka yang diambil dari catatan hariannya: *"Berbagi adalah maraton. Pulanglah sebelum lelah jadi amarah."*

 

Ia mengetik hingga lewat tengah malam. Setelah selesai, ia mengirim dokumen ke Sarah dan tim relawan. Pundaknya terasa pegal, tetapi hatinya seperti kursi yang baru dipernis: licin, bersih, siap diduduki lagi bila diperlukan.

 

Sebelum mematikan lampu, ia menulis satu paragraf terakhir di buku catatannya—sebuah rangkuman yang selama ini ia cari-cari:

 

"*Aku bukan orang kaya. Aku bukan pejabat. Aku bukan siapa-siapa. Tapi hari ini, aku menyadari ini: menjadi siapa-siapa itu cukup di satu tempat kecil, di satu waktu yang tepat, untuk satu orang yang sedang butuh. Itu sudah cukup untuk membuat dunia bergerak sejengkal.*"

 

Ia menutup mata. Kota di luar terus berdenyut—mobil melintas, lampu bertukar, suara anjing menggonggong jauh di ujung gang. Namun di kamar itu, keheningan adalah karpet yang menenangkan. Dimas tertidur, memeluk rasa cukup yang jarang ia temukan sejak pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota.---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 7 Berbagi Tanpa Berlebihan

Odol Gigi Pasta Gigi Propolis di Karawang Indonesia

Area Layanan : Seluruh Indonesia seowa Odol Gigi Pasta Gigi Propolis: Keajaiban untuk Senyuman Berkilau di Karawang dan Seluruh Indonesia Sebuah senyuman indah adalah cerminan dari kesehatan gigi dan gusi yang prima. Untuk ...

Skincare All in One di Karawang Indonesia

Area Layanan : Sumatra, Jawa, dan Kalimantan seowa Shean Beauty & Glow: Keajaiban Skincare All in One di Karawang, Indonesia Pernahkah Anda merasa lelah dengan rangkaian skincare yang rumit? Shean Beauty & ...

Toko & Distributor Susu Peninggi Badan di Karawang

Area Layanan :  Kota2 di Pulau Jawa + Kota Makassar, Bali, Balikpapan, Medan, Riau, Palembang seowa Selamat Datang di S-GROW: Solusi Tinggi Badan Terbaik di Karawang dan Seluruh Indonesia! Apakah Anda memiliki impian ...

Jasa Renovasi Bangunan di Bintaro

Area Layanan : Bintaro, Bintaro Jaya, BSD, Pamulang, Ciputat, Rempoa, Alma Sutera, Paramount, Summarecon Serpong (Tangerang Selatan dan sekitarnya) seowa Penjelasan Jasa Renovasi Bangunan di Bintaro dan Sekitarnya Halo warga Bintaro dan sekitarnya! ...

Rendang Kemasan Terdekat di Karawang

Area Layanan : Seluruh Kota di Indonesia seowa Rendang Mamaks: #RendangPrul Terbaik di Karawang dan Seluruh Indonesia Selamat datang di Rendang Mamaks! Anda sedang mencari rendang berkualitas tinggi dengan rasa lezat yang menggoda? ...

Jasa Cuci Toren di Kota Bekasi Jawa Barat

Nama Produk : Jasa Cuci Toren  Area Layanan : Kota dan Kab. Bekasi seowa   Jasa Cuci Toren di Bekasi Bismillah, Salam Sejahtera! 🌟 Apakah Anda tinggal di Bekasi atau sekitarnya di ...

Etalase Optik Kacamata terdekat dan Terbaik di Karawang

Area Layanan : Nasional seowa   ETALASE OPTIK KACAMATA TERDEKAT DAN TERBAIK DI KARAWANG: DESAIN MODERN YANG MEMUKAU Apakah Anda sedang mencari etalase optik kacamata yang terdekat dan terbaik di Karawang? Selamat, Anda ...

Jual Beli Mobil Bekas Terdekat di Karawang

Area Layanan : Nasional seowa   Kota-kota Bersinar di Dunia Otomotif: Temukan Harga Terbaik untuk Jual Beli Mobil Bekas Di tengah gemerlapnya dunia otomotif, kami hadir sebagai solusi untuk kebutuhan Anda dalam jual ...

Gamis Muslimah Syar i Terbaru 2024 Jakarta

Area Layanan Nasional : Jakarta seowa 🌸 Selamat Datang di Dunia Elegan Alika d'series ZC Syari by Charissa Syari! 🌸 🌟 Dalam keindahan ibu kota yang gemerlap, Jakarta menjadi pusat inspirasi bagi setiap langkah fashion. ...

Jadwal Umroh & Haji Berizin Resmi Kemenag di BanjarMasin Kalimantan

Area Layanan : Kalimantan Selatan, Banjarbaru, Banjarmasin seowa Mengalami Perjalanan Ibadah yang Tak Terlupakan bersama Khazzanah Al-Anshary di Banjarmasin, Kalimantan Selatan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan sekitarnya, bersiaplah untuk menemani perjalanan spiritual Anda menuju ...