Dilihat : 43 kali

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Dimas baru saja sampai, masih memegang secangkir kopi panas dari warung depan, ketika melihat beberapa rekan kerja berkerumun di dekat pantry. Wajah-wajah mereka tegang, bisik-bisik terdengar. Udara terasa berat, seakan ada kabar yang membuat semua orang berhati-hati bicara.

 

Ia menghampiri Bagas, yang sedang berdiri dengan kedua tangan di saku celana. "Kenapa, Gas? Kok kayak lagi ada rapat rahasia?"

 

Bagas melirik kanan-kiri sebelum menjawab. "Lo tahu Andri? Yang di divisi desain, rambutnya agak gondrong, suka bawa bekal nasi uduk?"

 

"Iya, yang kadang ngasih gue desain gratis buat presentasi."

 

Bagas mengangguk pelan. "Dia di-PHK kemarin sore. Katanya sih karena performa buruk. Tapi gue yakin banget itu gara-gara minggu lalu dia protes soal lembur yang nggak dibayar."

 

Dimas merasakan darahnya menghangat. Andri adalah salah satu karyawan paling rajin. Ia sering lembur, bahkan membantu divisi lain tanpa diminta. "Serius?"

 

"Serius. Dan yang lebih parah, dia nggak dikasih kesempatan klarifikasi. Surat langsung disodorkan, tanda tangan, selesai."

 

***Siang itu, Dimas memutuskan mencari Andri. Setelah beberapa kali bertanya ke teman-teman, ia tahu Andri sering nongkrong di warung kopi kecil di belakang kantor. Saat tiba, ia melihat Andri duduk sendirian di pojok, memandangi layar ponsel. Wajahnya letih.

 

"Boleh duduk?" tanya Dimas.

 

Andri mengangguk tanpa senyum. "Lo udah denger, ya?"

 

"Udah. Lo mau cerita?"

 

Andri menghela napas panjang. "Mereka bilang gue nggak capai target. Padahal target berubah tiap minggu. Gue protes, minta kejelasan dan minta lembur dibayar. Besoknya, gue dipanggil HR. Udah, langsung dikasih surat. Katanya gue bisa dapat rekomendasi kerja kalau nggak ribut."

 

Dimas menatapnya serius. "Lo mau lawan?"

 

"Lawan gimana, Dim? Gue cuma satu orang. Kontrak gue lemah. Gue nggak mau ribet."

 

"Mungkin lo cuma satu orang, tapi lo nggak sendirian," kata Dimas pelan.

 

***Malam itu, Dimas tak bisa tidur. Ia menyalakan laptop, mengetik di kolom pencarian: "Hak karyawan kontrak di Indonesia", "PHK sepihak", "cara melapor ke Dinas Ketenagakerjaan". Halaman demi halaman ia baca. Semakin lama, ia sadar banyak pekerja yang bahkan tak tahu apa haknya sendiri. Ada aturan yang melindungi mereka, tapi jarang digunakan karena ketakutan dan ketidaktahuan.

 

Ia teringat Sarah pernah aktif di serikat pekerja sebelum menjadi pekerja sosial. Keesokan harinya, ia langsung menemuinya.

 

"Kalau ada karyawan dipecat nggak adil, apa yang bisa dilakukan?" tanya Dimas.

 

Sarah menatapnya lama. "Cari bukti, jangan bergerak sendiri, dan hubungi orang yang paham hukum tenaga kerja. Aku kenal satu orang, Bima. Dia aktivis di serikat pekerja kota. Mau ketemu?"

 

"Mau," jawab Dimas mantap.

 

***Pertemuan itu diatur di sebuah kedai sederhana dekat terminal. Bima adalah pria berusia awal 30-an, berperawakan tegap dengan mata yang tajam tapi ramah.

 

"Sarah bilang lo mau bantu temen lo?" tanya Bima sambil menyesap teh panas.

 

"Iya. Dia dipecat setelah protes soal lembur nggak dibayar," jelas Dimas.

 

Bima mengangguk. "Kasus kayak gini sering banget. Masalahnya, banyak yang nggak mau ribut karena takut blacklist. Tapi kalau lo mau bantu, kita mulai dari dokumentasi: kronologi, bukti lembur, bukti komunikasi. Semua harus jelas dan rapi."

 

Dimas mencatat setiap kata. Rasanya seperti kuliah kilat tentang hukum ketenagakerjaan.

 

***Dalam seminggu berikutnya, Dimas dan beberapa rekan kerja yang setia mengumpulkan bukti. Chat internal, email, foto papan target yang berubah-ubah, dan slip lembur yang tak pernah dibayar. Mereka bertemu diam-diam di rumah Ujang atau warung Lina. Andri awalnya ragu, takut masalah makin besar. Tapi perlahan ia ikut aktif.

 

"Gue nggak nyangka kalian peduli segini," kata Andri suatu malam.

 

"Kalau kita diam, besok bisa giliran kita," jawab Dimas.

 

***Namun, tidak semua rekan setuju. Beberapa takut jika nama mereka terseret. Seorang teman sekantor, **Reno**, mendekati Dimas di lift.

 

"Dim, gue ngerti lo peduli. Tapi hati-hati, ini bisa ngaruh ke kerjaan lo. Lo masih baru di sini."

 

"Gue tahu, Ren. Tapi kalau kita cuma mikirin aman sendiri, nggak akan ada yang berubah."Reno menggeleng. "Kadang lebih baik diem. Sistem ini gede banget buat dilawan."

 

Dimas tidak menjawab. Ia paham ketakutan itu nyata, tapi ia juga tahu ketidakadilan akan terus berjalan kalau semua orang memilih diam.

 

***Suatu malam, Dimas dan Andri pergi menemui mantan karyawan yang dulu juga dipecat mendadak. Namanya **Hendra**, pria paruh baya yang sekarang bekerja di bengkel.

 

"Gue dulu diperlakukan sama kayak lo," kata Hendra sambil menyeruput kopi. "Bedanya, waktu itu gue sendirian. Gue nggak punya teman yang mau dukung. Akhirnya gue cuma pasrah."

 

Cerita Hendra menjadi penguat semangat Dimas dan Andri. Mereka sadar, perjuangan ini bukan cuma untuk Andri, tapi untuk semua yang pernah mengalami hal serupa.

 

***Beberapa hari kemudian, kabar buruk datang. Salah satu rekan yang mereka percaya, **Taufik**, ternyata membocorkan rencana pertemuan mereka ke manajemen. Taufik membantah, tapi bukti chat yang didapat Bagas tak terbantahkan.

 

"Gue terpaksa, Dim," kata Taufik saat Dimas menemuinya. "Mereka janji nggak akan ganggu gue kalau gue kasih info."

 

Dimas merasa marah sekaligus kecewa. "Lo sadar nggak, yang lo lakukan ini bisa bikin Andri dan semua orang yang bantu dia kena masalah?"

 

Taufik menunduk, tak menjawab.

 

***Tak lama, tekanan dari manajemen meningkat. Dimas dipindahkan ke meja kerja di pojok dekat gudang, jauh dari timnya. Andri dikeluarkan dari semua grup proyek. Rumor beredar bahwa mereka berdua "bermasalah" dan "sulit diatur".

 

Manajemen mulai memainkan perang psikologis: memanggil Dimas ke rapat yang tidak penting, menunda persetujuan cutinya, hingga menghapus namanya dari daftar peserta pelatihan. Beberapa rekan mulai menjauh, takut tertular masalah.

 

Meski begitu, mereka tetap mengumpulkan bukti. Bima mengatur pertemuan rahasia di sebuah rumah kontrakan di pinggir kota. Di sana, mereka memetakan strategi menghadapi mediasi.

 

***Hari mediasi tiba. Ruangan itu penuh ketegangan. Di satu sisi meja, Andri dan Dimas duduk bersama Bima. Di sisi lain, manajer HR, pengacara perusahaan, dan dua staf legal.

 

Perdebatan berlangsung berjam-jam. HR berusaha membelokkan pembicaraan, tapi Bima dengan tenang mengarahkan kembali ke inti masalah. "Fakta-fakta ini jelas menunjukkan pelanggaran. Tidak ada dasar yang sah untuk pemecatan mendadak, apalagi setelah korban meminta hak lemburnya."

 

Pengacara perusahaan mencoba menekan: "Andri sudah menandatangani kontrak yang menyatakan perusahaan berhak mengakhiri kerja sama."

 

Bima membalas dengan pasal undang-undang yang relevan. "Kontrak kerja tidak boleh bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi. PHK tanpa proses peringatan yang sah adalah pelanggaran."

 

Ketika giliran Andri bicara, suaranya sempat bergetar. "Saya nggak mau lebih dari yang seharusnya. Saya cuma mau dibayar apa yang sudah saya kerjakan, dan nama saya dibersihkan."

 

Pernyataan itu membuat suasana hening sesaat. Bahkan pengacara perusahaan terlihat menunduk.

 

Akhirnya, pihak perusahaan menyerah. Mereka setuju membayar kompensasi penuh, lembur yang tertunda, dan memberikan surat rekomendasi kerja.

 

***Di luar ruangan, Andri menatap Dimas. "Kalau lo nggak ada, gue udah nyerah dari awal."

 

Dimas tersenyum. "Hak itu harga mati, Andri. Kalau kita biarin diambil sekali, besok nggak ada yang tersisa."

 

Malam itu, Dimas menulis di catatan hariannya:

 

"Hak itu bukan hadiah. Dia lahir bersama kita, dan harus kita jaga. Kalau kita diam saat hak orang lain diinjak, sama saja kita mengizinkan hak kita sendiri hilang di masa depan. Dan satu hal yang gue pelajari hari ini: keberanian itu menular."

 

Ia menutup buku, merasa langkah kecilnya hari ini adalah bagian dari jalan panjang membuat kota ini sedikit lebih adil.

 

---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 9 Hak Adalah Harga Mati

Promo Buat Software Crm Untuk Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Sendiri- Cara Mengubah Visi Menjadi Kenyataan Penawaran istimewa ini sejalan dengan semangat inovasi, memungkinkan perusahaan untuk menjadi pionir dalam penerapan teknologi terbaru tanpa harus menjadi ahli koding. Kibul Gonzales ...

Jasa Buat Software Crm Untuk Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaInovasi Digital- Membuat Software Bisnis Online yang Menciptakan Trend Ketersediaan promo untuk membuat aplikasi software dengan biaya terjangkau membuka pintu bagi inovasi di tingkat yang sebelumnya sulit diakses oleh bisnis kecil. Kibul ...

Promo Buat Software Untuk Bisnis

Rp 650.000

seowaLangkah Lebih Jauh- Membuat Software Aplikasi Bisnis yang Terkini Dukungan terhadap langkah-langkah bisnis kecil dan menengah tidak hanya tentang biaya, tetapi juga memberikan mereka akses ke alat yang mendukung pertumbuhan bisnis secara ...

Jasa Buat Software Untuk Bisnis

Rp 650.000

seowaBisnis yang Terdepan- Membuat Software Bisnis Online Sendiri yang Menonjol Bisnis yang memanfaatkan promo ini akan menemukan bahwa pembuatan aplikasi software di bidang bisnis sendiri dapat dilakukan dengan cepat dan efisien, memberikan ...

Promo Buat Software Yang Digunakan Dalam Bisnis

Rp 650.000

seowaLangkah Demi Langkah- Membuat Software CRM yang Tepat untuk Bisnis Sendiri Pengaruh pandemi global telah mendorong perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, di mana transformasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ...

Jasa Buat Software Yang Digunakan Dalam Bisnis

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Online- Langkah Menuju Kemapanan Bisnis Platform bermetode low-code tidak hanya menjawab kebutuhan teknologi, tetapi juga mengoptimalkan pengeluaran bisnis dengan cara yang efisien. Kibul Gonzales HS Part 9 Hak Adalah Harga ...

Promo Buat Aplikasi Software Di Bidang Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaPintu Gerbang Kesuksesan- Membuat Software House dan Bisnis Sendiri Transformasi digital menjadi landasan utama bagi perusahaan yang ingin tetap relevan di era perubahan yang cepat, dengan promo sebagai langkah konkret menuju inovasi. ...

Jasa Buat Aplikasi Software Di Bidang Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaBisnis yang Terhubung- Membuat Software CRM untuk Transformasi Bisnis Promo ini memberikan dampak positif pada fleksibilitas bisnis, memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan bisnis. Kibul Gonzales HS Part 9 Hak ...

Promo Buat Software Bisnis Online Sendiri

Rp 650.000

seowaBerkembang Lebih Jauh- Membuat Software Bisnis Online Sendiri yang Menguntungkan Platform bermetode low-code tidak hanya memotong biaya pengembangan, tetapi juga mengurangi waktu yang diperlukan untuk membawa aplikasi baru ke pasar. Kibul Gonzales ...

Jasa Buat Software Bisnis Online Sendiri

Rp 650.000

seowaPintu Keberhasilan- Membuat Software Bisnis Terbaik dengan Kecerdasan Dengan biaya yang terjangkau, bisnis dapat mengalokasikan sumber daya ke area lain yang membutuhkan perhatian lebih intensif, meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. Kibul Gonzales ...

Promo Buat Peluang Bisnis Software House Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Terbaik- Rangkul Era Digital dengan Percaya Diri Dengan minimnya keterlibatan koding, bisnis dapat merancang aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa perlu menjadi ahli dalam bahasa pemrograman. Kibul Gonzales ...

Jasa Buat Peluang Bisnis Software House Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Langkah Besar- Membuat Software Bisnis Online yang Revolusioner Bisnis kecil dan menengah mendapatkan dukungan melalui promo istimewa yang menawarkan pembuatan aplikasi software di bidang bisnis sendiri dengan biaya terjangkau dan proses ...

Promo Buat Software Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaBisnis yang Berkembang Pesat- Membuat Software Bisnis Sendiri yang Tepat Pemanfaatan metode low-code tidak hanya mempercepat proses transformasi digital, tetapi juga memberikan solusi hemat biaya yang sangat diinginkan oleh bisnis kecil dan ...

Jasa Buat Software Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Jejak Digital- Software Bisnis Sendiri untuk Pemula Dengan minimnya keterlibatan koding, bisnis dapat merancang aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa perlu menjadi ahli dalam bahasa pemrograman. Kibul Gonzales HS Part 9 ...

Promo Buat Software Untuk Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaRevolutionize Bisnis Anda dengan Menciptakan Software Aplikasi Bisnis Inovatif Bisnis yang memanfaatkan promo ini akan menemukan bahwa pembuatan aplikasi software di bidang bisnis sendiri dapat dilakukan dengan cepat dan efisien, memberikan keunggulan ...

Jasa Buat Software Untuk Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaBisnis Digital- Membuat Software untuk Bisnis Sendiri yang Terdepan Pembuatan aplikasi software sendiri melalui promo ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan perusahaan pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan teknologi mereka. ...