Dilihat : 16 kali

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Dimas baru saja sampai, masih memegang secangkir kopi panas dari warung depan, ketika melihat beberapa rekan kerja berkerumun di dekat pantry. Wajah-wajah mereka tegang, bisik-bisik terdengar. Udara terasa berat, seakan ada kabar yang membuat semua orang berhati-hati bicara.

 

Ia menghampiri Bagas, yang sedang berdiri dengan kedua tangan di saku celana. "Kenapa, Gas? Kok kayak lagi ada rapat rahasia?"

 

Bagas melirik kanan-kiri sebelum menjawab. "Lo tahu Andri? Yang di divisi desain, rambutnya agak gondrong, suka bawa bekal nasi uduk?"

 

"Iya, yang kadang ngasih gue desain gratis buat presentasi."

 

Bagas mengangguk pelan. "Dia di-PHK kemarin sore. Katanya sih karena performa buruk. Tapi gue yakin banget itu gara-gara minggu lalu dia protes soal lembur yang nggak dibayar."

 

Dimas merasakan darahnya menghangat. Andri adalah salah satu karyawan paling rajin. Ia sering lembur, bahkan membantu divisi lain tanpa diminta. "Serius?"

 

"Serius. Dan yang lebih parah, dia nggak dikasih kesempatan klarifikasi. Surat langsung disodorkan, tanda tangan, selesai."

 

***Siang itu, Dimas memutuskan mencari Andri. Setelah beberapa kali bertanya ke teman-teman, ia tahu Andri sering nongkrong di warung kopi kecil di belakang kantor. Saat tiba, ia melihat Andri duduk sendirian di pojok, memandangi layar ponsel. Wajahnya letih.

 

"Boleh duduk?" tanya Dimas.

 

Andri mengangguk tanpa senyum. "Lo udah denger, ya?"

 

"Udah. Lo mau cerita?"

 

Andri menghela napas panjang. "Mereka bilang gue nggak capai target. Padahal target berubah tiap minggu. Gue protes, minta kejelasan dan minta lembur dibayar. Besoknya, gue dipanggil HR. Udah, langsung dikasih surat. Katanya gue bisa dapat rekomendasi kerja kalau nggak ribut."

 

Dimas menatapnya serius. "Lo mau lawan?"

 

"Lawan gimana, Dim? Gue cuma satu orang. Kontrak gue lemah. Gue nggak mau ribet."

 

"Mungkin lo cuma satu orang, tapi lo nggak sendirian," kata Dimas pelan.

 

***Malam itu, Dimas tak bisa tidur. Ia menyalakan laptop, mengetik di kolom pencarian: "Hak karyawan kontrak di Indonesia", "PHK sepihak", "cara melapor ke Dinas Ketenagakerjaan". Halaman demi halaman ia baca. Semakin lama, ia sadar banyak pekerja yang bahkan tak tahu apa haknya sendiri. Ada aturan yang melindungi mereka, tapi jarang digunakan karena ketakutan dan ketidaktahuan.

 

Ia teringat Sarah pernah aktif di serikat pekerja sebelum menjadi pekerja sosial. Keesokan harinya, ia langsung menemuinya.

 

"Kalau ada karyawan dipecat nggak adil, apa yang bisa dilakukan?" tanya Dimas.

 

Sarah menatapnya lama. "Cari bukti, jangan bergerak sendiri, dan hubungi orang yang paham hukum tenaga kerja. Aku kenal satu orang, Bima. Dia aktivis di serikat pekerja kota. Mau ketemu?"

 

"Mau," jawab Dimas mantap.

 

***Pertemuan itu diatur di sebuah kedai sederhana dekat terminal. Bima adalah pria berusia awal 30-an, berperawakan tegap dengan mata yang tajam tapi ramah.

 

"Sarah bilang lo mau bantu temen lo?" tanya Bima sambil menyesap teh panas.

 

"Iya. Dia dipecat setelah protes soal lembur nggak dibayar," jelas Dimas.

 

Bima mengangguk. "Kasus kayak gini sering banget. Masalahnya, banyak yang nggak mau ribut karena takut blacklist. Tapi kalau lo mau bantu, kita mulai dari dokumentasi: kronologi, bukti lembur, bukti komunikasi. Semua harus jelas dan rapi."

 

Dimas mencatat setiap kata. Rasanya seperti kuliah kilat tentang hukum ketenagakerjaan.

 

***Dalam seminggu berikutnya, Dimas dan beberapa rekan kerja yang setia mengumpulkan bukti. Chat internal, email, foto papan target yang berubah-ubah, dan slip lembur yang tak pernah dibayar. Mereka bertemu diam-diam di rumah Ujang atau warung Lina. Andri awalnya ragu, takut masalah makin besar. Tapi perlahan ia ikut aktif.

 

"Gue nggak nyangka kalian peduli segini," kata Andri suatu malam.

 

"Kalau kita diam, besok bisa giliran kita," jawab Dimas.

 

***Namun, tidak semua rekan setuju. Beberapa takut jika nama mereka terseret. Seorang teman sekantor, **Reno**, mendekati Dimas di lift.

 

"Dim, gue ngerti lo peduli. Tapi hati-hati, ini bisa ngaruh ke kerjaan lo. Lo masih baru di sini."

 

"Gue tahu, Ren. Tapi kalau kita cuma mikirin aman sendiri, nggak akan ada yang berubah."Reno menggeleng. "Kadang lebih baik diem. Sistem ini gede banget buat dilawan."

 

Dimas tidak menjawab. Ia paham ketakutan itu nyata, tapi ia juga tahu ketidakadilan akan terus berjalan kalau semua orang memilih diam.

 

***Suatu malam, Dimas dan Andri pergi menemui mantan karyawan yang dulu juga dipecat mendadak. Namanya **Hendra**, pria paruh baya yang sekarang bekerja di bengkel.

 

"Gue dulu diperlakukan sama kayak lo," kata Hendra sambil menyeruput kopi. "Bedanya, waktu itu gue sendirian. Gue nggak punya teman yang mau dukung. Akhirnya gue cuma pasrah."

 

Cerita Hendra menjadi penguat semangat Dimas dan Andri. Mereka sadar, perjuangan ini bukan cuma untuk Andri, tapi untuk semua yang pernah mengalami hal serupa.

 

***Beberapa hari kemudian, kabar buruk datang. Salah satu rekan yang mereka percaya, **Taufik**, ternyata membocorkan rencana pertemuan mereka ke manajemen. Taufik membantah, tapi bukti chat yang didapat Bagas tak terbantahkan.

 

"Gue terpaksa, Dim," kata Taufik saat Dimas menemuinya. "Mereka janji nggak akan ganggu gue kalau gue kasih info."

 

Dimas merasa marah sekaligus kecewa. "Lo sadar nggak, yang lo lakukan ini bisa bikin Andri dan semua orang yang bantu dia kena masalah?"

 

Taufik menunduk, tak menjawab.

 

***Tak lama, tekanan dari manajemen meningkat. Dimas dipindahkan ke meja kerja di pojok dekat gudang, jauh dari timnya. Andri dikeluarkan dari semua grup proyek. Rumor beredar bahwa mereka berdua "bermasalah" dan "sulit diatur".

 

Manajemen mulai memainkan perang psikologis: memanggil Dimas ke rapat yang tidak penting, menunda persetujuan cutinya, hingga menghapus namanya dari daftar peserta pelatihan. Beberapa rekan mulai menjauh, takut tertular masalah.

 

Meski begitu, mereka tetap mengumpulkan bukti. Bima mengatur pertemuan rahasia di sebuah rumah kontrakan di pinggir kota. Di sana, mereka memetakan strategi menghadapi mediasi.

 

***Hari mediasi tiba. Ruangan itu penuh ketegangan. Di satu sisi meja, Andri dan Dimas duduk bersama Bima. Di sisi lain, manajer HR, pengacara perusahaan, dan dua staf legal.

 

Perdebatan berlangsung berjam-jam. HR berusaha membelokkan pembicaraan, tapi Bima dengan tenang mengarahkan kembali ke inti masalah. "Fakta-fakta ini jelas menunjukkan pelanggaran. Tidak ada dasar yang sah untuk pemecatan mendadak, apalagi setelah korban meminta hak lemburnya."

 

Pengacara perusahaan mencoba menekan: "Andri sudah menandatangani kontrak yang menyatakan perusahaan berhak mengakhiri kerja sama."

 

Bima membalas dengan pasal undang-undang yang relevan. "Kontrak kerja tidak boleh bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi. PHK tanpa proses peringatan yang sah adalah pelanggaran."

 

Ketika giliran Andri bicara, suaranya sempat bergetar. "Saya nggak mau lebih dari yang seharusnya. Saya cuma mau dibayar apa yang sudah saya kerjakan, dan nama saya dibersihkan."

 

Pernyataan itu membuat suasana hening sesaat. Bahkan pengacara perusahaan terlihat menunduk.

 

Akhirnya, pihak perusahaan menyerah. Mereka setuju membayar kompensasi penuh, lembur yang tertunda, dan memberikan surat rekomendasi kerja.

 

***Di luar ruangan, Andri menatap Dimas. "Kalau lo nggak ada, gue udah nyerah dari awal."

 

Dimas tersenyum. "Hak itu harga mati, Andri. Kalau kita biarin diambil sekali, besok nggak ada yang tersisa."

 

Malam itu, Dimas menulis di catatan hariannya:

 

"Hak itu bukan hadiah. Dia lahir bersama kita, dan harus kita jaga. Kalau kita diam saat hak orang lain diinjak, sama saja kita mengizinkan hak kita sendiri hilang di masa depan. Dan satu hal yang gue pelajari hari ini: keberanian itu menular."

 

Ia menutup buku, merasa langkah kecilnya hari ini adalah bagian dari jalan panjang membuat kota ini sedikit lebih adil.

 

---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 9 Hak Adalah Harga Mati

Cicak Cicak di Dinding - Band - Alternative Version

Judul : Cicak Cicak di Dinding - Band - Alternative Version Artist : Aisha S.V. cc: push rank music studio Singer Songwriter (45%) Dance Pop (33%) Adult Contemporary (31%) Alt Pop (21%) 🎶 Cicak Cicak di Dinding – ...

Aqiqah Bahagia di Tasikmalaya ~ Randy S.V.

Verse 1: Bersama kita rayakan, Kelahiran buah hati tercinta, Dengan aqiqah penuh makna, Di Tasikmalaya, ceria menyapa. Chorus: Paket aqiqah murah, di Tasik yang indah, Melayani dengan cinta, di setiap daerah. Singaparna, Ciamis, ...

Biru Langit Kemenangan (Persib Juara) ~ Randy S.V.

Biru Langit Kemenangan (Persib Juara) ~ Randy S.V. Biru Langit Kemenangan (Persib Juara) cc : www.purwana.net @PushRankMusicStudio let's play to support : https://bit.ly/push-rank ================== connect & support: ytb : https:// ...

Sewa Rumah Kontrakan di Cimahi

Rp 23.000.000

Menyewa Rumah Kontrakan di Cimahi: Temukan Hunian Ideal Anda seowa Menyewa rumah kontrakan adalah pilihan populer bagi banyak orang yang ingin menetap sementara di daerah tertentu tanpa komitmen jangka panjang membeli properti. ...

Cicak Cicak di Dinding - Band - Alternative Version

let's play to support : https://bit.ly/push-rank   Ciptaan: Chatgpt Artist : Randomy Suno Vokaloid Copyright: push rank music studio ordershopee Singer Songwriter (45%) Dance Pop (33%) Adult Contemporary (31%) Alt Pop (21%) lagu Cicak ...

Hati Terbelah (Disini Senang, Disana Senang)

Let's play support : https://bit.ly/push-rank Judul : Hati Terbelah (Disini Senang, Disana Senang) Ciptaan: Chatgpt Angga Purwana Artist : Melanie Suno Vokaloid Copyright: www.purwana.net push rank music studio Verse 1: ...

Bisnis Digital - jasa push rank google

Mengoptimalkan Bisnis Digital dengan Jasa Push Rank: Menjadikan Brand Produk dan Jasa Anda Mendominasi Visibilitas Online Dalam era digital yang terus berkembang, visibilitas online menjadi kunci utama dalam kesuksesan bisnis. Baik Anda ...

Produsen Map Merek Biola - Cimahi - Jawa Barat

Menapaki Jejak Elegan dalam Dunia Suplai dan Produksi Map Merek Biola Dalam irama bisnis yang semakin dinamis, cerita dibalik suplai dan produksi map merek biola menjadi sebuah simfoni yang memikat. Di dalam ...

QRIS Masjid Indonesia

QRIS Masjid Indonesia: Saling Berbagi Kebaikan Melalui Aplikasi     Indonesia, negara dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, memiliki ribuan masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Dalam era digitalisasi ...