Dilihat : 35 kali

Pagi itu, Dimas membuka map lusuh yang sudah lama ia simpan di laci bawah meja kerjanya. Di dalamnya ada sertifikat tanah—sejengkal saja luasnya—yang ia beli bertahun-tahun lalu di pinggiran kota. Saat itu, banyak yang menertawakannya. "Buat apa beli tanah cuma segitu?" begitu komentar teman-temannya.

 

Namun bagi Dimas, itu bukan sekadar soal ukuran. Tanah itu adalah awal dari prinsip yang ia pegang: menyebar aset, menjaga koneksi di banyak titik, dan tak menumpuk di satu tempat saja. Ia teringat Pak Rasid, pensiunan yang dulu mengajarkannya filosofi ini.

 

Telepon berdering. Nomor tak dikenal. Dimas mengangkatnya.

 

"Selamat pagi, Pak Dimas. Kami dari PT Cakrawala Properti. Kami tertarik membeli tanah Bapak di Kelurahan Sukamaju. Apakah Bapak bersedia bertemu untuk membicarakannya?"Nada suara si penelepon terdengar ramah, tapi Dimas tahu maksudnya. Ia sudah dengar kabar bahwa pengembang besar sedang memborong lahan di sana untuk membangun kawasan superblok.

 

"Maaf, tanah itu tidak dijual," jawab Dimas singkat.

 

***Siangnya, Dimas memutuskan untuk menengok tanah itu. Ia berangkat dengan motor tua, menembus jalanan padat menuju pinggiran kota. Sesampainya di lokasi, ia berdiri di tepi petak kecil yang sebagian ditumbuhi ilalang, sebagian lagi dimanfaatkan warga sekitar untuk menjemur padi.

 

Di seberang jalan, papan besar bertuliskan *"Segera Hadir: Cakrawala City"* terpampang. Ia melihat beberapa pekerja survei sedang mengukur tanah-tanah sekitar.

 

"Pak Dimas?" terdengar suara dari belakang. Seorang pria berkemeja putih dengan papan nama di dada menghampiri. "Saya Rudi, staf akuisisi lahan. Kami benar-benar berharap Bapak mempertimbangkan penawaran kami. Harga yang kami tawarkan jauh di atas pasaran."

 

Dimas menatap tanahnya, lalu menatap Rudi. "Bukan soal harga. Tanah ini punya cerita. Kalau saya jual, hilang sudah bagian dari sejarah saya."

 

Rudi mencoba tersenyum. "Kami bisa memberikan bonus tambahan, bahkan membantu proses apapun yang Bapak perlukan. Pikirkan lagi, Pak."

 

***Malam itu, Dimas merenung di rumah. Ia membuka kembali buku catatannya. Halaman demi halaman dipenuhi coretan tentang filosofi hidup sejengkal: membagi aset, menolak rakus, menjaga silaturahmi. Ia sadar, tanah itu mungkin kecil, tapi maknanya besar.

 

Telepon berdering lagi. Kali ini dari Bagas. "Dim, gue dengar tanah lo diincar pengembang? Hati-hati, mereka bisa pakai cara kasar kalau lo nolak."

 

Dimas menghela napas. "Gue tahu, Gas. Tapi kalau gue nyerah cuma karena takut, semua prinsip yang gue pegang selama ini percuma."

 

***Beberapa hari kemudian, Dimas duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi. Matanya menatap kosong ke halaman depan, namun pikirannya melayang ke masa lalu.

 

— *Flashback* —

 

Lima tahun lalu, ia pertama kali melihat tanah itu saat mengantar barang untuk klien di daerah Sukamaju. Di tepi jalan, ada papan kayu sederhana bertuliskan *"Tanah Dijual – Hubungi Pak Jaya"*. Rasa penasaran membuatnya berhenti.

 

Pak Jaya adalah seorang kakek berusia sekitar 70 tahun, tubuhnya kurus, rambutnya memutih. "Tanah ini kecil, Nak. Hanya cukup untuk satu rumah kecil atau kebun sayur. Tapi saya terpaksa jual. Istri saya sakit dan butuh biaya operasi."

 

Dimas melihat sekeliling. Tanah itu memang kecil, tapi letaknya strategis, dekat jalan utama dan memiliki akses ke sumur warga. "Kalau saya beli, boleh saya biarkan warga pakai untuk jemur padi atau bermain?" tanyanya.

 

Pak Jaya tersenyum, matanya berbinar. "Itu akan jadi berkah, Nak."

 

Tanpa banyak pikir, Dimas membelinya. Ia tak tahu, keputusan sederhana itu kelak akan menjadi simbol harga dirinya.

 

— *Kembali ke masa kini* —

 

***Keesokan harinya, Dimas mendapat undangan makan siang dari seorang wanita bernama Ratna, perwakilan senior dari PT Cakrawala Properti. Mereka bertemu di sebuah restoran mewah.

 

Ratna bicara lembut, penuh diplomasi. "Pak Dimas, kami ingin membangun kawasan yang akan mengubah wajah daerah ini. Infrastruktur, lapangan kerja, fasilitas umum—semuanya akan meningkat. Bapak bisa menjadi bagian dari perubahan besar ini."

 

Dimas tersenyum tipis. "Saya tidak menolak pembangunan, Bu Ratna. Tapi tanah saya bukan sekadar lahan kosong. Itu simbol perjuangan. Simbol bahwa sesuatu yang kecil pun bisa punya nilai besar kalau dijaga."

 

Ratna menghela napas. "Saya paham Bapak punya alasan pribadi. Tapi izinkan saya mengingatkan, proyek ini didukung pemerintah daerah. Semua yang berada di lokasi akan pada akhirnya direlokasi."

 

Kata-kata itu seperti peringatan halus. Dimas menyadari, penolakannya mungkin akan membuatnya berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar.

 

***Beberapa minggu kemudian, pengembang mulai menunjukkan gigi. Pekerja lapangan memagari area sekitar dengan seng tinggi, membuat akses ke tanah Dimas terbatas. Warga mulai resah.

 

Di warung kopi, Dimas bertemu beberapa tetua kampung, di antaranya Pak Rahmat. "Nak Dimas, kalau kamu terus bertahan, kami ikut. Tanahmu kecil, tapi keberanianmu besar. Itu yang bikin kami semangat."

 

Ternyata, masih ada enam keluarga lain yang menolak menjual. Mereka membentuk kelompok kecil, mengadakan pertemuan malam di balai warga. Dimas ditunjuk sebagai salah satu juru bicara.

 

***Ketegangan memuncak saat satu sore, Dimas datang dan mendapati dua pria berbadan tegap sedang menancapkan papan bertuliskan *"Tanah dalam proses akuisisi – PT Cakrawala Properti"* di tanahnya.

 

"Maaf, papan ini harus kami cabut," kata Dimas sambil mencabut paku di sudut papan.Salah satu pria mendorong bahunya. "Kami hanya menjalankan perintah, Pak. Kalau ada masalah, silakan bicara dengan manajer proyek."

 

"Baik, saya akan bicara langsung," balas Dimas tegas.

 

***Pertemuan dengan manajer proyek berlangsung panas. Dimas datang bersama dua warga senior, sedangkan pihak pengembang membawa tiga orang staf.

 

"Pak Dimas, kami menghargai pendirian Bapak. Tapi proyek ini punya izin resmi. Kalau Bapak bersikeras, kami akan tempuh jalur hukum," ujar sang manajer.

 

"Silakan. Saya juga siap tempuh jalur hukum. Selama surat saya sah, tanah ini milik saya, dan saya berhak menolak," jawab Dimas.

 

Suasana hening sejenak. Mata mereka saling mengunci, dan Dimas tahu ini belum berakhir.

 

***Beberapa hari kemudian, seorang wartawan lokal mendengar kisah perlawanan ini. Ia menulis artikel berjudul *"Sejengkal Tanah, Harga Diri Warga Sukamaju"*. Artikel itu viral di media sosial. Banyak yang mendukung, tapi tak sedikit pula yang sinis.

 

Bagas menelepon, suaranya campuran antara khawatir dan bangga. "Dim, lo sekarang jadi berita, bro. Semoga ini bikin pengembang mundur."

 

Dimas hanya tertawa kecil. "Yang penting, suara kita nggak tenggelam."

 

***Suatu sore, Dimas kembali ke tanah itu. Seorang anak kecil lewat sambil menggiring sepeda tuanya. "Pak, makasih ya udah nggak jual tanahnya. Kalau Bapak jual, lapangan tempat kami main juga ikut hilang."

 

Ucapan polos itu membuat hati Dimas hangat. Ia tersenyum. "Selama bisa, Bapak akan jagain."Tanah sejengkal itu mungkin tak akan membuatnya kaya. Tapi Dimas tahu, ada hal yang lebih berharga dari uang: mempertahankan prinsip, menjaga kenangan, dan memberi ruang bagi orang lain.

 

Malam itu, ia menulis di catatan hariannya:"Warisan bukan selalu rumah besar atau harta melimpah. Kadang, warisan adalah sepetak tanah kecil yang menyimpan cerita, menjadi pengingat bahwa harga diri tak diukur dari luas atau nominal, tapi dari keberanian untuk mempertahankannya."

 

Ia menutup bukunya, menatap ke luar jendela. Angin malam membawa aroma tanah basah, seolah mengingatkan bahwa sejengkal warisan itu akan terus ia jaga—selama ia masih berdiri.

 

***Beberapa hari setelah artikel tentang Dimas viral, suasana di Sukamaju semakin tegang. Alat berat mulai bermunculan di jalan utama, dan pagar seng yang sebelumnya hanya setinggi dada kini ditinggikan hampir dua meter. Warga yang menolak menjual tanahnya mulai merasa terisolasi.

 

Suatu sore, Dimas duduk di bale-bale balai warga bersama enam keluarga lainnya yang sepakat bertahan. Mereka merencanakan aksi sederhana: membuat blokade dari bambu dan karung pasir di jalan masuk menuju area tanah mereka.

 

"Kalau alat berat nggak bisa masuk, mereka nggak bisa mulai pembangunan," ujar Pak Rahmat sambil mengencangkan simpul tali di salah satu bambu.

 

Dimas mengangguk. "Kita nggak melawan dengan kekerasan, tapi kita juga nggak mau diinjak. Kita jaga dengan cara damai."

 

***Pagi berikutnya, suara mesin berat terdengar mendekat. Warga sudah bersiap di blokade. Dimas berdiri di depan, bersama dua pemuda kampung. Di kejauhan, truk dan ekskavator berhenti, diikuti oleh beberapa petugas berseragam rompi proyek.

 

Seorang pria berjaket hitam turun dari mobil double cabin. "Bapak-bapak, tolong beri jalan. Kami punya izin resmi."

 

Dimas melangkah maju. "Kalau izin itu melanggar hak kami, maka kami berhak mempertahankan tanah kami. Silakan tunjukkan surat perintah masuk."

 

Pria itu terdiam sejenak sebelum mengangkat walkie-talkie-nya, berbicara singkat, lalu memutuskan untuk mundur. Warga bersorak kecil, namun Dimas tahu ini hanya kemenangan sementara.

 

***Dua hari kemudian, kejutan lain datang. Seorang pejabat dari pemerintah daerah, ditemani staf dan dua mobil dinas, muncul di Sukamaju. Ia langsung menuju balai warga.

 

"Saya ingin mendengar langsung dari pihak yang menolak menjual," ucap pejabat itu.Pak Rahmat mempersilakan duduk, lalu menunjuk Dimas. "Ini Dimas, salah satu yang paling vokal."

 

Pejabat itu memandang Dimas. "Proyek ini akan membawa kemajuan. Jalan diaspal, sekolah dibangun, fasilitas kesehatan ditambah. Mengapa masih menolak?"

 

Dimas menarik napas dalam. "Pak, kami tidak anti kemajuan. Tapi kalau kemajuan itu mengorbankan sejarah, kenangan, dan hak warga, apa artinya? Tanah saya kecil, tapi itu simbol perjuangan. Kalau simbol ini hilang, generasi berikutnya hanya akan tahu bahwa uang selalu menang."

 

Pejabat itu terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Saya tidak bisa menjanjikan apapun, tapi saya akan membawa aspirasi ini ke rapat komite proyek."

 

***Malamnya, Dimas duduk sendiri di teras rumah. Lampu jalan berkelip-kelip, suara jangkrik terdengar jelas. Ia mulai merasakan beban yang berat. Apakah ia benar mempertahankan sesuatu yang berarti, atau hanya menghambat sesuatu yang lebih besar?

 

Pikirannya kacau. Tawaran uang yang terus meningkat menggodanya. Dengan jumlah itu, ia bisa membeli tanah lebih luas di tempat lain, atau memulai usaha baru. Tapi kemudian ia teringat wajah anak kecil yang berterima kasih padanya, dan suara Pak Jaya saat menyerahkan tanah itu lima tahun lalu.

 

***Keesokan paginya, sebuah rapat besar diadakan di balai desa. Hadir perwakilan pengembang, pejabat daerah, media lokal, dan puluhan warga. Dimas diminta berbicara mewakili kelompok yang menolak.

 

"Tanah ini bukan sekadar ruang kosong. Ini adalah bukti bahwa rakyat kecil masih bisa berkata 'tidak'. Kami tidak meminta proyek ini dibatalkan, kami hanya meminta agar tanah kami tidak diambil dengan paksaan. Jika benar proyek ini untuk rakyat, hormati hak rakyat."

 

Ruang rapat hening. Kamera wartawan mengarah ke wajah Dimas, merekam setiap kata. Beberapa wartawan menulis cepat di buku catatan.

 

Perwakilan pengembang mencoba merespons. "Kami memahami aspirasi Bapak Dimas, tapi semua ini demi kepentingan umum."

 

"Kalau demi kepentingan umum, buktikan dengan tidak mengorbankan yang lemah," sahut Dimas cepat.

 

***Minggu-minggu berikutnya penuh ketidakpastian. Kadang alat berat datang, kadang mundur. Media sosial terus ramai membahas kasus ini. Dukungan datang dari aktivis, mahasiswa, bahkan beberapa tokoh publik.

 

Suatu sore, Dimas mendapat surat dari seorang mahasiswa hukum di kota lain. Surat itu berbunyi: *"Terima kasih sudah memberi kami contoh bahwa hukum bukan hanya soal pasal, tapi soal keberanian mempertahankan hak."*

 

Surat itu membuatnya yakin, perjuangannya sudah melampaui sekadar mempertahankan tanah sejengkal.

 

***Akhirnya, sebuah kesepakatan dicapai di meja mediasi. Tanah sejengkal milik Dimas tidak akan dibangun, dan akan diakui sebagai "Zona Hijau Sosial" yang dapat digunakan warga untuk kegiatan bersama. Pengembang setuju, meski dengan wajah enggan.

 

Hari itu, warga merayakan kemenangan kecil ini dengan syukuran sederhana di tanah Dimas. Anak-anak bermain layang-layang, ibu-ibu menyiapkan hidangan, dan para bapak bercengkerama di bawah pohon.

 

Dimas berdiri di tengah, menatap sekeliling. Ia tahu perjuangan ini mungkin akan jadi cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut di kampung ini selama bertahun-tahun.

 

***Malamnya, ia menulis di buku catatan:

 

*"Warisan sejati bukan rumah megah atau rekening gemuk. Warisan sejati adalah nilai yang kita tinggalkan. Sejengkal tanah ini mengajarkan, bahwa harga diri tidak bisa diukur dengan meter persegi, tapi dengan seberapa jauh kita mau berdiri untuk mempertahankannya."*

 

Ia menutup buku itu, tersenyum, dan menatap bintang di langit. Di hatinya, ia tahu, warisan sejengkal ini akan tetap hidup, bahkan setelah ia tiada.

 

***Hari-hari setelah kesepakatan itu terasa berbeda. Meski seng-seng tinggi di sekeliling masih berdiri, tanah sejengkal Dimas kini terbuka untuk warga. Setiap sore, anak-anak berlarian di atasnya, kaki-kaki kecil mereka meninggalkan jejak di tanah merah yang lembut. Tawa mereka bercampur dengan suara burung-burung yang hinggap di pohon nangka di sudut lahan.

 

Kadang Dimas duduk di bangku kayu sederhana, menyaksikan mereka bermain. "Pak, main kelereng, yuk!" seru Bima, bocah berambut ikal yang sering memanggilnya. Dimas tersenyum dan ikut duduk di tanah, tangannya mengaduk-aduk lubang kelereng yang dibuat anak-anak.Di sisi lain lahan, dua ibu-ibu sedang menjemur gabah. "Untung Bapak nggak jual tanah ini. Kalau enggak, kami nggak punya tempat jemur," ujar Bu Wati sambil merapikan tikar anyaman tempat gabah dijemur.

 

***Suatu pagi, aroma masakan khas kampung tercium dari dapur rumah Bu Wati. Ia memanggil Dimas yang kebetulan lewat. "Pak Dimas, mampir sarapan. Ini ada sayur lodeh sama tempe goreng."

 

Mereka duduk di teras, ditemani angin pagi yang sejuk. Dari kejauhan, matahari muncul perlahan di balik gedung-gedung tinggi yang kini mendominasi cakrawala. Pemandangan itu aneh—kontras antara kehidupan sederhana kampung dan megahnya pembangunan.

 

"Kalau lihat gedung-gedung itu, saya kadang takut, Pak," ujar Bu Wati pelan. "Takut kalau suatu hari semua ini hilang."

 

Dimas menatap langit. "Selama masih ada orang yang mau menjaga, nggak semua akan hilang."

 

***Hari itu, ia memutuskan membersihkan lahan. Bersama beberapa pemuda kampung, mereka memotong ilalang, menanam beberapa pohon pisang dan singkong di sudut. "Biar tanahnya tetap hidup," kata Dimas sambil menusukkan bibit ke tanah.

 

Kegiatan itu mengundang tawa dan canda. Ada yang saling siram air, ada yang bergotong-royong mengangkat batu besar. Dimas merasa, inilah esensi memiliki tanah—bukan sekadar untuk dibangun atau dijual, tapi untuk dihidupkan.

 

***Sore menjelang, cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan, memantulkan warna keemasan di tanah merah itu. Beberapa anak duduk di rerumputan, mendengarkan cerita Pak Rahmat tentang masa muda. "Dulu, sebelum ada semua ini, di sini cuma sawah dan kebun. Orang saling kenal, saling bantu," ujarnya.

 

Dimas mendengarkan dengan khidmat. Ia sadar, tanah ini telah menjadi titik pertemuan generasi. Anak-anak, orang dewasa, dan orang tua semua punya kenangan baru yang lahir di atasnya.

 

***Namun tidak semua hari tenang. Sesekali, orang-orang asing datang memotret atau mengukur dari kejauhan. Meski mereka tidak lagi bisa memaksa, bayang-bayang ancaman itu tetap terasa. Dimas selalu membawa map berisi salinan sertifikat, berjaga-jaga kalau suatu hari ia harus menunjukkan bukti.

 

Di malam yang tenang, ia duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi. Suara jangkrik menjadi musik latar, sementara lampu-lampu kota di kejauhan berkedip seperti bintang. Dalam buku catatannya, ia menulis panjang:

 

*"Menjaga tanah ini berarti menjaga cerita. Setiap jejak kaki di atasnya adalah bab baru. Setiap tawa yang terdengar adalah kalimat yang mengisi halaman. Dan setiap kali aku menolak tawaran, itu seperti menolak menghapus satu bab penting dari buku kehidupan kampung ini."*

 

***Waktu berjalan. Musim hujan datang, membuat tanah menjadi becek. Anak-anak malah semakin gembira, bermain lumpur dan membuat perahu kecil dari daun pisang. Tawa mereka menggema, mengalahkan suara hujan yang menitik di seng-seng tinggi.

 

Dimas membantu Bu Wati menjemur gabah di sela-sela hujan, mengangkat tikar masuk ke beranda setiap kali awan gelap datang. "Repot, ya?" tanya Dimas.

 

"Repot itu biasa. Yang penting kita masih punya tempat," jawab Bu Wati sambil tersenyum.

 

***Suatu malam, Dimas bermimpi bertemu Pak Jaya, pemilik lama tanah itu. Dalam mimpi, Pak Jaya tersenyum sambil berkata, "Kamu jaga tanah ini baik-baik, Nak. Bukan untuk aku, tapi untuk mereka yang datang setelah kamu."

 

Dimas terbangun dengan hati berdebar. Mimpi itu terasa nyata, seolah pesan dari masa lalu yang harus ia pegang erat.

 

***Beberapa bulan kemudian, tanah itu menjadi lebih dari sekadar lahan kosong. Warga mulai menggunakannya untuk acara kecil—arisan, lomba 17 Agustus, bahkan pengajian malam Jumat. Setiap acara meninggalkan kenangan baru.

 

Pada lomba 17 Agustus, anak-anak berlari karung di atas tanah merah, debu beterbangan, tawa membahana. Para ibu bersorak, para bapak tertawa lebar. Dimas duduk di bangku kayu, merasa bangga.

 

***Malam itu, di bawah cahaya lampu bohlam yang tergantung di tengah tanah, warga berkumpul. Mereka memutuskan memberi nama resmi: *Lapangan Sejengkal*. Plang sederhana dipasang di sudut lahan.

 

Dimas berdiri di depan semua orang, suaranya bergetar. "Terima kasih sudah menjadikan tanah ini milik kita semua, bukan hanya milik saya. Semoga Lapangan Sejengkal ini jadi tempat kita menjaga kebersamaan, selamanya."

 

Tepuk tangan mengiringi kata-kata itu. Di hati Dimas, ia tahu—warisan sejengkal ini kini bukan hanya miliknya, tapi milik seluruh kampung.

 

***Di halaman terakhir catatannya, ia menulis:

 

*"Kadang, yang kita jaga bukan hanya benda, tapi makna. Tanah sejengkal ini mungkin tak pernah membuatku kaya harta, tapi membuatku kaya jiwa. Dan itu, tak akan pernah bisa dibeli dengan apapun."*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 10 Warisan Sejengkal

Promo Buat Software Bisnis Terbaik Sendiri

Rp 650.000

seowaBerkembang Lebih Jauh- Membuat Software Bisnis Online Sendiri yang Menguntungkan Dengan biaya yang terjangkau, bisnis dapat mengalokasikan sumber daya ke area lain yang membutuhkan perhatian lebih intensif, meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. ...

Jasa Buat Software Bisnis Terbaik Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Online- Langkah Menuju Kemapanan Bisnis Perubahan paradigma bisnis selama pandemi global mendorong perusahaan untuk mengadopsi solusi inovatif, di mana pembuatan aplikasi software dengan biaya terjangkau melalui promo menjadi pilihan ...

Promo Buat Software Bisnis Terbaik

Rp 650.000

seowaBisnis yang Terdepan- Membuat Software Bisnis Online yang Terkemuka Penawaran istimewa ini sejalan dengan semangat inovasi, memungkinkan perusahaan untuk menjadi pionir dalam penerapan teknologi terbaru tanpa harus menjadi ahli koding. Kibul Gonzales ...

Jasa Buat Software Bisnis Terbaik

Rp 650.000

seowaInovasi Bisnis Digital- Membuat Software Bisnis yang Terhubung secara Luas Penawaran istimewa ini menciptakan lingkungan di mana bisnis dapat dengan mudah mengintegrasikan teknologi baru tanpa mengalami kesulitan teknis yang signifikan. Kibul Gonzales ...

Promo Buat Software Bisnis Online

Rp 650.000

seowaMerintis Jalan- Membuat Software Bisnis Sendiri yang Menginspirasi Jawaban efektif terhadap kebutuhan teknologi ditemukan melalui pemanfaatan platform bermetode low-code, memberikan solusi yang lebih efisien dan hemat biaya. Kibul Gonzales Hs Part 10 Warisan ...

Jasa Buat Software Bisnis Online

Rp 650.000

seowaInovasi Digital- Membuat Software Bisnis yang Mengguncang Pasar Promosi ini bukan hanya mengenai penawaran khusus, tetapi juga tentang memberikan akses terhadap alat-alat teknologi yang memungkinkan bisnis untuk terus berkembang. Kibul Gonzales Hs ...

Promo Buat Software Bisnis

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Sendiri- Petunjuk Praktis untuk Meraih Kesuksesan Dalam keseluruhan, pembuatan aplikasi software di bidang bisnis sendiri melalui promo dengan metode low-code bukan hanya solusi praktis, tetapi juga investasi cerdas untuk ...

Jasa Buat Software Bisnis

Rp 650.000

seowaKesuksesan Digital- Membuat Software yang Digunakan dalam Bisnis Sendiri Pembuatan aplikasi software sendiri melalui promo ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan perusahaan pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan teknologi mereka. ...

Promo Buat Software Yang Digunakan Dalam Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaMenjelajahi Peluang- Membuat Software House dan Bisnis Sendiri Kesempatan istimewa ini memberikan nilai tambah dengan memungkinkan bisnis untuk merancang aplikasi tanpa harus mengeluarkan anggaran besar untuk keahlian koding. Kibul Gonzales Hs Part 10 ...

Jasa Buat Software Yang Digunakan Dalam Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Terbaik- Kunci Keberhasilan di Era Digital Promosi ini bukan hanya mengenai penawaran khusus, tetapi juga tentang memberikan akses terhadap alat-alat teknologi yang memungkinkan bisnis untuk terus berkembang. Kibul Gonzales ...