Dilihat : 31 kali

Pagi di pasar tradisional selalu memiliki ritme sendiri. Aroma sayur segar, bumbu dapur, dan gorengan panas bercampur dengan teriakan pedagang yang saling bersahutan. Dimas melangkah pelan di lorong sempit pasar, kantong kain lusuh tergantung di bahunya. Tujuannya jelas: lapak Lina.

 

Lina sedang sibuk menata dagangannya. Tangannya cekatan memindahkan tomat dari keranjang ke meja, lalu menyusun sabun batangan tanpa merek di rak kayu. Wajahnya segar meski keringat membasahi pelipis.

 

"Pagi, Mas Dimas," sapa Lina sambil menoleh.

 

"Pagi, Mbak Lina. Ada bayam segar?"

 

"Ada, nih. Baru diantar dari desa sebelah. Masak sendiri atau mau saya bikinin sayur bening sekalian?"

 

Dimas tertawa. "Kalau Mbak yang masak, nanti saya jadi pelanggan tetap tiap hari."

 

Lina tersipu, lalu menimbang bayam itu dan memasukkannya ke kantong. Interaksi singkat itu seperti ritual kecil yang selalu membuat pagi Dimas lebih cerah.

 

***Seiring waktu, hubungan mereka semakin dekat. Dimas sering membantu Lina membongkar barang dagangan di pagi hari atau mengangkat karung beras ke gudang kecil di belakang lapak. Sebaliknya, Lina kadang menyiapkan makan siang untuk Dimas ketika ia sedang sibuk mengurus lahan sejengkalnya.

 

Sore itu, Dimas mengajak Lina duduk di bangku kayu Lapangan Sejengkal. Anak-anak berlarian di depan mereka, bermain kelereng dan kejar-kejaran.

 

"Kamu nggak pernah bosan duduk di sini?" tanya Lina.

 

"Justru di sini aku merasa tenang. Kota ini terlalu ramai, Lina. Tapi di lapangan ini, aku ingat kenapa aku bertahan."

 

Lina menatapnya lama. "Kamu beda sama orang-orang kota yang aku kenal. Mereka sibuk cari yang lebih besar, lebih mahal, lebih mewah..."

 

Dimas tersenyum tipis. "Aku nggak butuh semua itu. Yang aku mau cuma hidup yang cukup dan orang yang mau jalan barengku, apa adanya."

 

***Namun, tak semua orang memahami pilihan itu. Suatu hari, Dimas mengajak Lina makan di warung bakso langganannya. Saat mereka duduk, seorang teman lama Dimas, Reno, tiba-tiba datang.

 

"Eh, Dim! Lama nggak ketemu," sapa Reno. Lalu matanya melirik ke Lina. "Pacar lo? Kenapa lo nggak ajak dia makan di restoran keren? Masa ngajak cewek makan di warung begini?"Dimas tersenyum dingin. "Karena di sini baksonya enak dan harganya jujur. Gue nggak perlu suasana mewah buat ngobrol sama orang yang gue sayang."

 

Reno tertawa singkat, tapi nadanya meremehkan. Lina hanya diam, meski di matanya ada sedikit kesal. Dimas menggenggam tangannya di bawah meja, memberi isyarat bahwa ia tak perlu memikirkan komentar itu.

 

***Beberapa hari kemudian, Dimas menyiapkan hadiah untuk Lina. Bukan perhiasan atau tas bermerek, melainkan sebuah buku catatan kulit yang ia buat sendiri. Sampulnya dijahit dari potongan kulit bekas, dan di halaman pertama ia tulis: *"Untuk Lina, agar setiap hari punya cerita."*

 

Saat Dimas memberikannya, Lina menatap lama buku itu sebelum tersenyum lebar. "Mas, ini indah sekali. Lebih berharga dari barang mahal mana pun. Karena ini kamu yang buat."Mereka duduk di pinggir lapangan, membolak-balik halaman kosong yang menunggu untuk diisi. Matahari sore memantulkan warna keemasan di wajah mereka.

 

***Kebersamaan mereka penuh hal-hal kecil: berjalan kaki menyusuri gang saat malam, menonton pertunjukan musik jalanan, atau sekadar duduk minum kopi di warung Ujang. Tak ada unggahan foto di media sosial, tak ada pamer. Dunia mereka hanya berisi percakapan tulus.

 

Suatu malam hujan, mereka berteduh di bawah emper toko. Hujan turun deras, membasahi jalan dan menciptakan genangan.

 

"Mas," kata Lina, "kalau kita punya uang banyak, apa kita akan hidup beda?"

 

Dimas berpikir sejenak. "Mungkin rumah kita lebih nyaman, tapi prinsipku nggak akan berubah. Aku nggak mau hubungan kita diukur dari harga barang."

 

Lina mengangguk. "Aku juga. Kalau cinta harus dibungkus merek, berarti itu bukan cinta, tapi pamer."

 

***Namun godaan datang dari tempat yang tak terduga. Seorang pelanggan kaya raya menawari Lina pekerjaan di tokonya yang menjual barang impor bermerek. Gajinya besar, tapi syaratnya: Lina harus berpakaian dan berpenampilan sesuai standar "kelas atas".

 

Lina bercerita pada Dimas malam itu. "Mas, aku bingung. Gajinya lumayan buat nambah tabungan. Tapi aku nggak nyaman harus pura-pura jadi orang lain."

 

Dimas menatapnya penuh pengertian. "Kalau kamu terima, pastikan itu nggak mengubah siapa kamu. Tapi kalau kamu merasa itu mengubah, mungkin uang itu nggak sepadan."Setelah berpikir semalaman, Lina menolak tawaran itu. Keputusan itu membuatnya lega, meski banyak yang bilang ia bodoh.

 

***Minggu berikutnya, Dimas dan Lina ikut kerja bakti di Lapangan Sejengkal. Mereka membersihkan rumput liar dan memperbaiki bangku kayu. Warga lain menggoda mereka, "Wah, calon pengantin nih!"

 

Lina tertawa sambil melirik Dimas. "Kalau pun iya, pernikahan kita nanti nggak akan ada gedung megah atau gaun ratusan juta."

 

Dimas menimpali, "Tapi ada nasi liwet, tenda sederhana, dan semua tetangga."

 

Mereka saling pandang dan tersenyum, seolah tak perlu berkata lagi. Dalam hati, mereka tahu: cinta mereka tumbuh bukan dari apa yang dipamerkan, tapi dari apa yang dijaga.

 

***Di buku catatan hadiah dari Dimas, Lina menulis kalimat pertama: *"Cinta tak butuh merek. Ia hanya butuh dua hati yang mau berjalan beriringan."*

 

Dan begitulah, di tengah kota yang terobsesi dengan kemewahan, Dimas dan Lina membuktikan bahwa kebahagiaan sejati sering kali datang dari hal-hal yang paling sederhana.

 

***Beberapa hari setelah kerja bakti, Dimas mengajak Lina berjalan ke pasar desa di pinggiran kota. Mereka menempuh perjalanan dengan bus kota tua yang penuh penumpang dan aroma minyak kayu putih. Tujuannya sederhana: mencari bibit tanaman untuk lahan sejengkal yang baru dibelinya.

 

Pasar desa itu berbeda dengan pasar kota. Lapaknya lebih sederhana, tapi suasananya hangat. Seorang penjual bibit menyapa mereka ramah, menawarkan berbagai jenis sayuran dan bunga. Dimas memilih bibit cabai dan kangkung, sementara Lina tertarik pada bunga matahari."Kalau bunga ini tumbuh di lahan kamu, nanti pas mekar pasti indah banget," kata Lina sambil membayangkan.

 

Dimas tersenyum. "Aku tanam di bagian depan, biar setiap orang yang lewat lihat indahnya. Termasuk kamu."

 

***Di perjalanan pulang, mereka melewati rumah-rumah penduduk desa. Anak-anak bermain lompat tali, ibu-ibu menjemur pakaian sambil bercakap. Pemandangan itu membuat Lina terdiam.

 

"Aku kadang iri sama mereka," katanya pelan. "Nggak ada tekanan buat terlihat keren. Mereka cuma hidup."

 

Dimas mengangguk. "Itu yang aku cari. Hidup yang nggak diburu gengsi."

 

***Beberapa hari kemudian, Lina mendapat undangan dari teman SMA-nya untuk menghadiri pesta ulang tahun di hotel bintang lima. Ia ragu, tapi akhirnya memutuskan pergi, mengajak Dimas menemaninya.

 

Saat malam pesta, lampu kristal dan lantai marmer menyambut mereka. Para tamu berpakaian mewah, parfum mahal tercium di udara. Lina memakai gaun sederhana pinjaman dari tetangga, sementara Dimas mengenakan kemeja bersih tanpa merek.

 

Beberapa orang memandang mereka dari ujung kepala hingga kaki. Ada yang berbisik-bisik, ada yang pura-pura tersenyum.

 

"Mas, kita pulang aja?" bisik Lina.

 

"Kenapa? Kita diundang, berarti kita punya hak ada di sini. Nggak perlu malu," jawab Dimas tenang.

 

Mereka menikmati hidangan, meski tatapan orang terasa menusuk. Namun di akhir malam, Lina sadar sesuatu: ia tidak lagi merasa harus membuktikan apapun. Ia cukup bahagia bisa berdiri di samping orang yang membuatnya nyaman.

 

***Di suatu sore hujan, Dimas mengajak Lina ke lapangan untuk menanam bibit cabai dan bunga matahari yang mereka beli. Hujan rintik-rintik membasahi rambut mereka, tapi keduanya tertawa lepas.

 

"Kalau nanti bunga ini mekar, kita foto ya," kata Lina.

 

Dimas mengangguk. "Tapi bukan buat dipamerin di media sosial. Buat kita aja, kenangan pribadi."

 

***Beberapa minggu kemudian, bibit itu tumbuh subur. Bunga matahari mulai menunjukkan kelopak kuningnya. Lina menatapnya dengan bangga.

 

"Aku baru ngerti, Mas. Cinta itu kayak nanam bunga. Perlu sabar, dirawat setiap hari. Nggak bisa instan."

 

Dimas tersenyum. "Dan nggak perlu pupuk mahal atau pot mewah, yang penting tanahnya subur dan disiram dengan perhatian."

 

***Suatu malam, di warung kopi Ujang, mereka berbincang tentang masa depan.

 

"Kamu nggak takut kita nyesel nggak ikut arus orang lain?" tanya Lina.

 

"Kalau ikut arus, kita mungkin punya barang mahal, tapi bisa kehilangan hal-hal yang bikin kita benar-benar bahagia," jawab Dimas.

 

Lina menghela napas, lalu tersenyum. "Kalau gitu, aku mau terus jalan sama kamu. Nggak peduli merek apa yang kita punya... atau nggak punya."

 

***Dan begitulah, hari-hari mereka dipenuhi dengan tawa sederhana, kerja bersama di lahan sejengkal, dan obrolan panjang tentang hidup. Cinta mereka bertumbuh, bukan di dalam kotak perhiasan atau di balik etalase toko, melainkan di tanah biasa yang mereka rawat bersama.

 

***Beberapa bulan kemudian, Dimas mengajak Lina untuk melihat lahan sejengkal miliknya yang terletak di pinggiran kota, sekitar dua jam perjalanan dengan kereta ekonomi. Perjalanan mereka sederhana: hanya membawa bekal nasi bungkus dan botol air minum.

 

Di dalam kereta, mereka duduk bersebelahan sambil melihat sawah dan perkampungan berganti cepat di luar jendela. Lina meletakkan kepalanya di bahu Dimas.

 

"Aku suka perjalanan kayak gini. Nggak terburu-buru, nggak mahal, tapi rasanya damai," kata Lina.

 

Dimas menatap keluar jendela. "Perjalanan kayak gini yang bikin aku ingat, kebahagiaan nggak selalu ada di tempat mahal."

 

Setiba di lokasi, lahan itu memang kecil, hanya cukup untuk beberapa pohon dan sebidang kebun sayur. Namun di tepi lahan, berdiri sebuah rumah panggung milik pasangan tua, Pak Surya dan Bu Rini.

 

Pasangan itu menyambut mereka dengan teh hangat. Mereka bercerita bagaimana mereka hidup bersama puluhan tahun tanpa harta berlimpah, tapi selalu saling mendukung.

 

"Cinta itu bukan cuma soal kata-kata manis," kata Bu Rini. "Itu soal mau tetap bertahan, meski hari-hari nggak selalu indah."

 

Lina tertegun, lalu memandang Dimas. Dalam tatapan itu, ia melihat masa depan yang ingin ia jalani.

 

***Namun tak semua orang memandang hubungan mereka dengan rasa hormat. Saat menghadiri arisan keluarga, seorang sepupu Lina, Maya, melontarkan komentar sinis.

 

"Kamu tuh cantik, Lin. Sayang banget kalau nikah sama orang yang nggak punya apa-apa. Lihat tuh tas kamu, nggak bermerek. Kalau sama yang lebih mapan, kamu bisa punya semuanya."

 

Lina menahan diri, tapi Dimas yang duduk di sebelahnya tersenyum tenang. "Maya, kita semua punya definisi 'punya segalanya' yang berbeda. Buat aku, punya Lina, punya tanah sejengkal yang aku rawat, dan hidup yang nggak diburu utang, itu udah segalanya."

 

Maya terdiam, suasana meja makan jadi senyap. Lina meremas tangan Dimas di bawah meja sebagai tanda terima kasih.

 

***Malam itu, di perjalanan pulang, Lina berkata, "Mas, terima kasih udah jawab mereka dengan tenang. Aku takut kalau kamu marah."

 

Dimas tersenyum. "Kalau kita marah, mereka cuma ingat kemarahan kita, bukan pesan kita. Aku mau mereka ingat bahwa kita bahagia, tanpa harus sesuai standar mereka."

 

***Beberapa minggu kemudian, hujan deras melanda kota. Saluran air di dekat rumah kontrakan Dimas meluap, membanjiri halaman. Tanpa pikir panjang, Dimas dan Lina membantu tetangga mengangkat barang-barang ke tempat aman.

 

Di tengah kekacauan itu, Lina melihat sisi lain Dimas: ia rela basah kuyup dan kedinginan demi membantu orang lain, tanpa mengharapkan balasan. Malam itu, setelah semuanya reda, Lina menatap Dimas lama-lama.

 

"Mas, aku sadar sesuatu," kata Lina pelan. "Cinta kita bukan cuma nggak butuh merek, tapi juga nggak butuh pembuktian ke orang lain. Yang penting kita tahu nilainya."

 

Dimas tersenyum hangat. "Dan nilai itu cuma kita yang tahu."

 

***Mereka kembali ke rutinitas sederhana: bekerja, mengurus lahan sejengkal, dan berbagi waktu di pasar atau lapangan. Namun setiap momen kecil kini terasa lebih berarti. Dari secangkir kopi panas di pagi hari, hingga berjalan kaki di malam berangin, semuanya menjadi bagian dari cerita cinta yang mereka bangun.

 

Dan di buku catatan kulit hadiah Dimas, halaman-halaman mulai terisi oleh kisah hari-hari itu. Foto bunga matahari, resep sayur bening, hingga coretan puisi singkat. Semua menjadi bukti bahwa kebahagiaan bisa lahir dari hal-hal kecil yang tulus.

 

***Beberapa hari setelah banjir, Lina menerima kabar bahwa ibunya di kampung sakit. Tanpa pikir panjang, Dimas menawarkan untuk menemaninya pulang, meski itu berarti ia harus meninggalkan pekerjaannya selama beberapa hari.

 

Perjalanan menuju kampung Lina memakan waktu delapan jam dengan bus antarkota. Selama di perjalanan, Lina bercerita banyak tentang masa kecilnya: bermain di sawah, membantu ibunya di dapur, dan bagaimana ia belajar berdagang dari sang ibu. Dimas mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengajukan pertanyaan kecil.

 

Sesampainya di rumah, ibu Lina terkejut melihat Dimas ikut datang. "Wah, ini yang sering kamu ceritain?" tanya ibunya sambil tersenyum lemah.

 

"Iya, Bu," jawab Lina sambil memegang tangan ibunya.

 

Dimas membantu membersihkan rumah, menimba air dari sumur, dan memasak bubur untuk ibu Lina. Meski baru pertama kali bertemu, ia memperlakukan ibu Lina seperti keluarganya sendiri. Malam itu, setelah semua beristirahat, Lina duduk di beranda bersama Dimas.

 

"Mas, kamu tahu nggak? Waktu lihat kamu ngobrol sama Ibu tadi, aku ngerasa... kamu bagian dari keluarga ini," kata Lina dengan mata berkaca-kaca.

 

Dimas tersenyum hangat. "Kalau kamu izinkan, aku mau jadi bagian keluarga ini selamanya."Lina tertawa kecil, pipinya memerah. "Itu lamaran, ya?"

 

"Anggap saja begitu," jawab Dimas sambil menggenggam tangannya.

 

***Beberapa minggu setelah kembali ke kota, hubungan mereka semakin kokoh. Tanah sejengkal yang mereka rawat kini mulai menghasilkan: cabai-cabai merah ranum siap dipanen, bunga matahari mekar sempurna. Mereka memutuskan untuk membagi hasil panen cabai kepada tetangga, dan bunga matahari itu mereka biarkan berdiri tegak sebagai tanda harapan.

 

Pada suatu sore, mereka duduk di bangku kayu dekat bunga itu. Angin sore berhembus lembut.

 

"Mas, kadang aku masih heran. Di kota ini semua orang sibuk pamer, tapi kita malah sibuk menanam," kata Lina.

 

"Biarin aja. Kita menanam bukan cuma buat makan, tapi buat ingetin diri sendiri kalau hal-hal kecil pun bisa jadi besar kalau dirawat," jawab Dimas.

 

Lina mengangguk, lalu bersandar di bahu Dimas. "Kalau gitu, aku mau terus nanam sama kamu. Sejengkal demi sejengkal, sampai kita tua."

 

Dimas mengecup keningnya. "Itu janji, ya."

 

*** Epilog ***Bertahun-tahun kemudian, buku catatan kulit yang Dimas berikan pada Lina kini penuh tulisan, foto, dan coretan kecil. Ada halaman yang menceritakan banjir, ada yang memuat resep warisan ibu Lina, ada pula foto mereka di depan bunga matahari pertama.

 

Di halaman terakhir, Lina menulis: *"Kami tak punya merek terkenal, tak punya rumah mewah, tak punya harta berlimpah. Tapi kami punya satu sama lain, sejengkal tanah, dan cinta yang cukup untuk menghidupi seribu hari. Dan itu lebih dari cukup."*Dimas menutup buku itu, menatap Lina, dan tersenyum. Mereka tahu, kebahagiaan mereka tidak pernah diukur oleh dunia luar—dan itu yang membuatnya tak ternilai.


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 11 Cinta Tak Butuh Merek