Dilihat : 27 kali

***Sore itu, meja panjang di balai warga penuh oleh piring-piring berisi makanan sederhana: tumis kangkung dari kebun warga, ikan asin yang dibeli bersama dari pasar grosir, sambal terasi buatan Bu Rini, dan nasi hangat yang mengepul harum. Semua orang duduk melingkar, bercengkerama, dan saling menyuapi cerita tentang hari mereka.

 

Komunitas kecil yang dibangun Dimas kini sudah punya belasan anggota tetap. Mereka mengelola lahan sejengkal masing-masing, saling bertukar hasil panen, dan membantu satu sama lain saat ada yang kekurangan. Malam itu, suasana hangat dan akrab, seperti keluarga besar tanpa ikatan darah.

 

Namun kehangatan itu terusik ketika seorang tamu tak diundang muncul di ambang pintu balai: seorang pria berjas rapi, ditemani dua orang staf yang membawa map tebal dan laptop."Selamat malam. Maaf mengganggu," kata pria itu dengan senyum diplomatis. "Perkenalkan, saya Arman dari PT Mandiri Raya Properti. Kami punya tawaran yang mungkin menarik untuk komunitas ini."

 

Semua mata tertuju padanya. Dimas, yang duduk di ujung meja, memberi isyarat agar tamu itu duduk. "Silakan, Pak Arman. Apa yang ingin Bapak sampaikan?"

 

Arman membuka mapnya dan mulai menjelaskan. Perusahaan mereka tertarik untuk membeli beberapa lahan kecil di sekitar komunitas, termasuk beberapa lahan sejengkal milik anggota. Sebagai gantinya, mereka akan membangun pusat pertanian modern, lengkap dengan fasilitas irigasi otomatis, gudang pendingin, dan pasar permanen. Semua anggota akan mendapat kompensasi uang tunai yang jumlahnya "lebih dari cukup", plus kesempatan bekerja di fasilitas baru itu.

 

"Dengan sistem kami, hasil panen bisa meningkat tiga kali lipat. Kalian tidak perlu repot mengurus semuanya sendiri. Tinggal tanam, panen, dan terima hasilnya," ujar Arman, suaranya penuh keyakinan.

 

Beberapa anggota terlihat tertarik. Mata mereka berbinar mendengar kata "tiga kali lipat" dan "kompensasi". Namun Dimas merasakan ada yang ganjil. "Lalu, lahan yang sudah kami beli dengan susah payah akan jadi milik perusahaan, begitu?" tanyanya."Secara teknis, iya. Tapi kalian akan menjadi bagian dari program kami. Tidak ada yang dirugikan," jawab Arman cepat.

 

***Setelah tamu itu pulang, meja makan menjadi medan diskusi panas. Ujang, yang biasanya tenang, kali ini terlihat ragu. "Dim, aku nggak mau kehilangan lahanku. Tapi tawaran itu... sulit ditolak. Kita bisa dapat modal besar."

 

Lina ikut bicara. "Mas, kalau mereka memang serius membantu, bukankah itu bisa mempercepat kita berkembang?"

 

Pak Rasid menggeleng pelan. "Aku sudah lihat banyak seperti mereka. Awalnya manis, tapi ujungnya... kita cuma jadi buruh di tanah kita sendiri."

 

Sarah, yang aktif mengurus dapur umum, menatap semua orang. "Tapi kita juga nggak bisa menutup mata. Ada anggota yang benar-benar butuh uang sekarang. Kalau kita menolak, mereka mungkin akan merasa terpaksa ikut keputusan mayoritas."

 

***Malam itu, Dimas pulang dengan langkah berat. Di rumah kontrakan, ia duduk di meja kayu kecil sambil menatap buku catatan komunitas. Di halaman depan, tertulis visi mereka: *"Berkecukupan bersama, tanpa bergantung pada pihak yang mengikat."*

 

Ia memejamkan mata. Di kepalanya, dua suara saling bertarung. Satu berkata, "Ambil kesempatan itu. Hidup akan lebih mudah." Suara lain membalas, "Apa artinya hidup mudah kalau semua yang kau bangun hilang kendalinya?"

 

Lina duduk di sebelahnya, membawa dua cangkir teh hangat. "Mas, aku tahu ini berat buat kamu. Tapi... kamu nggak harus memutuskan sendirian. Kita semua ada di sini."Dimas menatap Lina lama, lalu tersenyum lemah. "Aku cuma takut kita kehilangan arah."

 

***Keesokan harinya, kabar tentang tawaran PT Mandiri Raya Properti sudah menyebar ke luar komunitas. Ada beberapa warga sekitar yang datang dan bercerita bahwa perusahaan itu pernah masuk ke daerah lain, awalnya membantu, tapi akhirnya membeli seluruh lahan dan menggusur warga yang tidak sejalan dengan kebijakan mereka.

 

Dimas memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam. Ia mengajak Sarah dan Ujang menemui seorang aktivis lingkungan bernama Bu Ratna, yang dikenal vokal menentang korporasi perampas lahan. Di rumah kecilnya yang penuh buku dan pot tanaman, Bu Ratna menunjukkan berita-berita lama, foto-foto, dan testimoni warga yang jadi korban.

 

"Kalau mereka sampai masuk, kalian harus siap kehilangan kendali. Semua akan diatur sesuai target perusahaan, bukan kebutuhan warga," ujar Bu Ratna tegas.

 

***Di sisi lain, ada juga anggota komunitas yang mengadakan pertemuan kecil tanpa sepengetahuan Dimas. Mereka membicarakan bagaimana tawaran itu bisa mengubah hidup mereka: cicilan lunas, anak bisa sekolah di tempat lebih baik, dan rumah diperbaiki. Bagi mereka, uang tunai sekarang jauh lebih nyata dibanding janji masa depan yang belum pasti."Dim itu baik, tapi kadang terlalu idealis," kata salah satu anggota. "Kalau kita terus begini, sampai kapan mau maju?"

 

Pertemuan rahasia itu mulai membentuk kubu pro-tawaran. Mereka bahkan sudah menghitung berapa uang yang akan didapat dan rencana penggunaannya. Ada yang ingin membuka toko kelontong, ada yang ingin membeli sepeda motor baru, ada pula yang sekadar ingin menutup hutang lama.

 

***Malam sebelum rapat besar, Dimas duduk sendirian di kebun kecilnya. Kilas balik datang bertubi-tubi: bagaimana dulu ia dan Pak Rasid berjalan kaki jauh hanya untuk mengukur tanah sejengkal pertama, bagaimana ia memanggul karung pupuk sendiri, bagaimana Lina membantu menanam bibit di bawah hujan, bagaimana mereka semua berkumpul pertama kali di balai warga yang sekarang.

 

Ia memegang segenggam tanah, meremasnya. "Kalau ini hilang, semua perjuangan kita ikut hilang," gumamnya.

 

Lina datang menghampiri. "Mas, aku tahu kamu takut. Tapi kita juga nggak bisa memaksa semua orang berpikir sama. Kadang... yang bisa kita lakukan cuma menjaga apa yang memang jadi bagian kita, sekuat mungkin."

 

Dimas menarik napas panjang. "Aku akan coba yakinkan mereka. Kalau gagal... setidaknya aku sudah berusaha."

 

***Hari rapat tiba. Semua anggota berkumpul, suasana tegang. Dimas membuka dengan suara mantap, "Kita akan memutuskan bersama. Tapi ingat, keputusan ini bukan hanya tentang kita, tapi juga tentang siapa yang akan menguasai tanah ini setelah kita."

 

Diskusi berlangsung panjang. Saling silang pendapat memenuhi ruangan. Sebagian mengangkat tangan untuk menerima tawaran, dengan alasan realistis. Sebagian lagi menolak mentah-mentah. Ujang yang semula ragu, kini condong menolak setelah mendengar cerita Bu Ratna. Namun, ada beberapa wajah yang jelas-jelas gelisah menunggu hasil suara.

 

Akhirnya, suara mayoritas condong ke satu arah. Namun sebelum keputusan final diumumkan, Dimas berkata, "Besok aku akan mengirim jawaban kita ke PT Mandiri Raya Properti. Malam ini... pikirkan lagi, sekali saja, apa yang benar-benar kita inginkan."

 

***Malam itu, Dimas berjalan sendirian di jalan setapak menuju rumah. Angin malam membawa aroma tanah basah. Ia melihat lahan sejengkal miliknya, berdiri kokoh di bawah cahaya bulan. Dalam hatinya, ia tahu bab ini belum selesai.

 

*Bersambung...*

 

***Keesokan harinya, suasana balai warga lebih ramai dari biasanya. PT Mandiri Raya Properti kembali datang, kali ini bukan hanya Arman, tetapi juga seorang wanita berpenampilan elegan yang memperkenalkan diri sebagai Direktur Pemasaran, Bu Maya. Mereka membawa proyektor, spanduk besar bergambar konsep pusat pertanian modern, dan bahkan video testimoni dari daerah lain yang katanya sudah sukses bekerja sama dengan mereka."Lihat, ini contoh fasilitas kami di Kabupaten Seruni," ujar Bu Maya sambil memutar video. Gambar-gambar gedung kaca, deretan sayuran segar yang ditata rapi, dan warga tersenyum lebar memenuhi layar.

 

Beberapa anggota komunitas terpesona. "Wah, rapi banget," bisik seorang ibu muda.Dimas memperhatikan dengan hati-hati. Ia tak bisa memungkiri bahwa fasilitas itu terlihat mewah. Tapi ia juga memperhatikan detail kecil: seragam pekerja yang semua bertuliskan logo perusahaan, bukan nama komunitas. Dan tidak ada lagi lahan-lahan kecil yang diurus mandiri—semuanya seragam, semuanya dikelola dari kantor pusat.

 

***Rapat kembali dibuka. Kali ini, perdebatan lebih keras. Joko, salah satu anggota termuda, berdiri dengan suara meninggi, "Kita ini mau maju atau mau stuck terus? Tawaran ini peluang emas! Kita nggak usah capek-capek, tinggal ikut sistem mereka."

 

Pak Rasid membalas dengan nada tegas, "Kalau kita ikut, tanahmu itu sudah bukan tanahmu lagi, Jo. Besok-besok kamu cuma jadi pekerja di tanah yang kamu jual."

 

"Ya nggak apa-apa kalau gajinya bagus! Hidup butuh uang, Pak!" Joko menukas.Sarah mencoba menenangkan, "Teman-teman, tolong dengarkan semua sisi. Kita di sini bukan musuhan, kita cari jalan tengah."

 

Tapi suara-suara pro dan kontra makin meninggi. Ada yang memukul meja, ada yang memilih diam tapi gelisah. Beberapa bahkan keluar ruangan sebentar untuk menghindari panasnya suasana.

 

***Sore itu, setelah rapat bubar tanpa keputusan, Dimas memanggil beberapa orang yang masih ragu. Ia mengajak mereka berjalan ke kebun komunitas, menunjukkan lahan-lahan kecil yang penuh tanaman. "Lihat ini. Setiap bedeng punya cerita. Ada yang ditanam sambil anaknya sakit, ada yang ditanam sambil hujan badai. Kalau kita serahkan semua ini, cerita-cerita itu hilang. Diganti sistem yang mungkin nggak peduli sama kita."

 

Namun Joko, yang ikut dalam kelompok itu, hanya mengangkat bahu. "Cerita nggak bisa bayar sekolah anak, Dim."

 

***Malam harinya, di rumah, Lina menemukan Dimas duduk termenung di beranda, memandangi jalan gelap di depan rumah. "Mas, kamu nggak makan?" tanyanya sambil membawa piring."Belum lapar," jawab Dimas singkat.

 

Lina duduk di sebelahnya. "Aku lihat kamu makin tertekan. Kamu takut mereka terpecah?"Dimas mengangguk. "Bukan cuma itu. Aku takut... kalau mereka terima tawaran itu, semua yang kita perjuangkan selama ini sia-sia."

 

"Mas," Lina menggenggam tangan Dimas, "hidup itu kadang harus mengalah di satu sisi untuk menang di sisi lain. Kalau memang harus kehilangan sebagian, yang penting kita masih bisa mempertahankan inti dari semua ini."

 

Dimas menghela napas panjang. Kata-kata Lina masuk akal, tapi hatinya tetap berat.

 

***Beberapa hari kemudian, PT Mandiri Raya Properti mengirim undangan resmi untuk presentasi final. Mereka ingin jawaban segera. Undangan itu dibagikan ke semua anggota, termasuk mereka yang sudah cenderung menolak.

 

Hari presentasi, aula kelurahan disewa. Suasananya formal, bahkan ada katering mewah. Bu Maya memulai dengan kalimat, "Kami tidak hanya menawarkan kemitraan, kami menawarkan masa depan yang lebih baik."

 

Mereka memaparkan rencana pembangunan detail: jadwal, biaya, keuntungan yang dibagi per tahun. Angka-angka di layar menggiurkan, membuat sebagian anggota terdiam terpaku.Di akhir sesi, Bu Maya menatap semua orang. "Kami butuh komitmen. Kalau tidak minggu ini, kami akan mencari lokasi lain."

 

Ancaman halus itu membuat beberapa anggota panik. "Kalau kita nolak, nanti kita nyesel," bisik salah satu ibu.

 

***Malam itu, Dimas mengumpulkan kubu yang menolak dan yang masih ragu. "Kalau kalian mau ikut, aku nggak bisa melarang. Tapi aku minta satu hal: jangan tinggalkan prinsip kita. Kalau bisa, buat kontrak yang jelas. Jangan serahkan semua tanpa syarat."Ujang menepuk bahu Dimas. "Kalau mereka nggak mau syarat, berarti memang niatnya nggak bersih."

 

***Hari pemungutan suara tiba. Suasana tegang. Setiap orang menuliskan pilihannya di kertas kecil, lalu memasukkannya ke kotak. Saat dihitung, hasilnya tipis: 8 setuju, 7 menolak.Dimas terdiam. Ia merasa seperti baru saja kalah perang. Namun ia berdiri dan berkata, "Baik. Mayoritas memilih setuju. Tapi aku akan pastikan kontraknya adil. Kalau tidak, kita batal."Beberapa orang menghela napas lega, yang lain tersenyum puas. Tapi di hati Dimas, badai baru saja dimulai.

 

***Larut malam, Dimas berjalan sendirian ke kebunnya. Bulan purnama menggantung tinggi, menerangi barisan tanaman. Ia berjongkok, menyentuh tanah, dan berbisik, "Aku janji nggak akan biarkan kalian hilang begitu saja."

 

Dari kejauhan, suara motor mendekat. Sebuah amplop dilempar ke dekat kakinya. Saat dibuka, isinya fotokopi kontrak yang sudah disiapkan PT Mandiri Raya Properti. Di sudutnya, ada catatan tulisan tangan: *"Hati-hati. Mereka sudah siapkan pasal jebakan."*

 

Wajah Dimas menegang. Ia tahu ini belum berakhir.*Bersambung...*

 

***Keesokan paginya, Dimas membawa amplop berisi kontrak itu ke rumah Pak Rasid. Lelaki tua itu membaca lembar demi lembar dengan kening berkerut. "Dim, lihat pasal ini," katanya sambil menunjuk satu bagian yang tercetak dengan huruf kecil. "Ini artinya setelah lima tahun, hak kelola sepenuhnya ada di perusahaan. Kalau mereka mau ganti sistem atau menutup lahan, kita nggak bisa protes."

 

Dimas merasakan amarah bercampur cemas. "Jadi benar ada jebakan," gumamnya.Mereka memutuskan untuk memeriksa lokasi lain yang sudah bekerja sama dengan PT Mandiri Raya Properti. Ujang dan Sarah ikut. Perjalanan memakan waktu tiga jam dengan motor, melewati sawah-sawah luas dan desa-desa sepi.

 

Sesampainya di Desa Karangjati, mereka disambut pemandangan yang kontras: di sisi kiri jalan, terdapat deretan rumah permanen yang tampak rapi, namun di sisi kanan, lahan kosong terbentang, dipagari kawat tinggi dengan papan bertuliskan *"Akses Terbatas – Milik PT Mandiri Raya Properti"*. Tak ada lagi warga yang mengurus lahan di dalam pagar itu.

 

Seorang pria tua yang sedang duduk di warung kopi bercerita, "Dulu kami senang waktu mereka datang. Katanya mau bantu. Tahun pertama memang baik, hasil panen bagus, kami dapat gaji rutin. Tapi lama-lama, mereka mulai kurangi tenaga kerja. Banyak yang di-PHK. Sekarang, separuh warga sudah pindah karena nggak ada lagi kerjaan."

 

Cerita itu membuat dada Dimas terasa sesak. Sarah mencatat semua detail di buku kecilnya, sementara Ujang memotret pagar dan papan peringatan itu.

 

***Malamnya, Dimas mengadakan pertemuan rahasia di rumahnya dengan beberapa anggota yang menolak tawaran. "Kita harus sampaikan fakta ini sebelum kontrak ditandatangani. Kalau perlu, kita adakan rapat darurat."

 

Namun, kabar bocor. Kubu pro yang sudah tak sabar langsung menuduh Dimas menyebarkan ketakutan. "Kamu cuma mau proyek ini gagal karena nggak sesuai ide kamu!" teriak Joko di depan umum.

 

Perdebatan pecah lagi, kali ini di tengah pasar. Orang-orang mulai berkerumun, sebagian memihak Dimas, sebagian lagi menganggapnya penghalang kemajuan.

 

***Lina menjadi penengah. Ia mengajak kedua kubu untuk duduk bersama di balai warga tanpa agenda resmi, hanya makan malam bersama. Anehnya, suasana hangat itu perlahan mencairkan emosi. Beberapa anggota yang tadinya marah mulai mendengar cerita dari Desa Karangjati. Foto-foto pagar kawat itu beredar dari ponsel ke ponsel.

 

"Kalau mereka bikin pagar seperti ini di sini, kita mau apa?" tanya salah satu ibu sambil menunjuk foto.

 

Tapi masih ada yang ragu. "Itu kan di desa lain. Belum tentu di sini sama," sahut yang lain.

 

***Dimas tahu ia butuh langkah terakhir yang meyakinkan semua orang. Ia mengajak perwakilan dari Lembaga Bantuan Hukum dan seorang jurnalis lokal untuk hadir di pertemuan final. Jurnalis itu membawa rekaman wawancara dengan mantan pekerja PT Mandiri Raya Properti di wilayah lain. Suara dalam rekaman terdengar jelas: "Awalnya janji manis, tapi lama-lama kami kehilangan semua. Kontrak itu jebakan."

 

Saat rekaman diputar, suasana ruangan hening. Beberapa anggota terlihat saling pandang dengan wajah cemas.

 

Bu Maya dari pihak perusahaan, yang juga hadir, berusaha membantah. "Itu kasus lama, sekarang sistem kami sudah berbeda."

 

Namun Ujang berdiri dan berkata lantang, "Kalau memang sudah berbeda, hapus pasal itu dari kontrak."

 

Bu Maya terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Itu standar perusahaan, tidak bisa diubah."

 

Kata-kata itu seperti peluru yang memecahkan semua keraguan. Perlahan, bahkan sebagian kubu pro mulai goyah.

 

***Akhirnya, pemungutan suara ulang diadakan. Kali ini, hasilnya berbeda: 10 menolak, 5 setuju. Sorak kecil terdengar dari kubu penolak. Dimas merasa beban di pundaknya berkurang, meski ia tahu konsekuensinya: perusahaan itu mungkin akan mencoba cara lain untuk masuk.Setelah rapat bubar, Dimas berdiri di depan lahan komunitas, memandang semua orang yang masih sibuk membereskan kursi. "Kita mungkin baru menang satu babak. Tapi ini bukti kalau kita bisa melawan, asal bersama-sama."

 

Lina menghampirinya, tersenyum bangga. "Mas, ini baru permulaan."Dimas mengangguk. "Iya. Permulaan untuk mempertahankan sejengkal demi sejengkal yang kita punya."

 

Di kejauhan, lampu mobil terlihat mendekat perlahan, berhenti di ujung jalan. Seseorang di dalamnya memotret mereka dari kejauhan. Dimas merasakan bulu kuduknya berdiri.Ia tahu, babak berikutnya akan lebih berat.*Bersambung...*


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 13 Kapitalisme Di Meja Makan