Dilihat : 11 kali

Pagi itu, Dimas terbangun bukan oleh suara ayam atau riuh pasar, melainkan deru mesin berat. Dari jendela rumahnya, ia melihat debu mengepul di kejauhan, tepat di arah salah satu tanah sejengkal yang selama ini ia rawat. Tanpa pikir panjang, ia meraih jaket dan berlari.

 

Sesampainya di lokasi, pemandangan yang ia lihat membuat napasnya tercekat: sebuah buldoser sedang meratakan petak tanah kecilnya, sementara beberapa pekerja berseragam oranye mengangkut tiang bambu penanda batas lahan. Tidak ada surat peringatan, tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

 

"Berhenti! Ini tanah saya!" teriak Dimas sambil berlari mendekat. Namun seorang pria berbadan besar menghadangnya. "Kami hanya menjalankan perintah. Kalau mau protes, ke kantor proyek saja."

 

"Proyek apa? Ini lahan pribadi!"

 

Namun suara Dimas tenggelam di antara deru mesin. Dalam hitungan menit, tanaman yang ia rawat berbulan-bulan berubah menjadi tanah kosong yang rata.

 

***Siang itu, Dimas duduk di beranda rumah, tatapannya kosong. Lina mencoba bicara, tapi Dimas hanya menggeleng. "Aku nggak tahu lagi, Lin. Rasanya semua perjuangan kemarin sia-sia. Mereka bisa ambil seenaknya."

 

Berita penggusuran itu cepat menyebar di komunitas. Ujang datang membawa kabar bahwa tanah itu kini masuk dalam peta proyek jalan yang katanya "milik pemerintah", namun tidak ada proses ganti rugi yang jelas.

 

Sarah, yang mendengar, langsung bergerak. "Kita nggak bisa diam. Ini jelas melanggar hukum. Kita kumpulkan bukti dan saksinya."

 

***Hari-hari berikutnya, Dimas dan komunitas melakukan investigasi. Mereka mendatangi kantor kelurahan untuk mencari arsip tanah. Petugas awalnya enggan membantu, beralasan dokumen lama sudah dipindahkan ke gudang arsip yang berdebu. Dimas tak menyerah. Bersama Ujang dan Sarah, mereka membongkar tumpukan map kusam, memotret setiap halaman yang berhubungan dengan lahan tersebut.

 

Di tengah pencarian, mereka menemukan peta lama yang jelas-jelas menunjukkan lahan itu terdaftar atas nama Dimas. "Ini bukti kuat, Dim," kata Sarah sambil memegang lembaran kertas yang sudah menguning. "Kita salin dan amankan."

 

Selain dokumen, mereka juga mewawancarai warga sekitar. Mbah Sardi, tetua kampung, bercerita bahwa sejak dulu tanah itu milik keluarga Dimas. "Aku masih ingat, waktu bapakmu menanam pohon mangga di sana," ucapnya lirih.

 

***Namun tidak semua orang berani membantu. Beberapa warga takut bicara karena khawatir proyek itu membawa 'orang kuat' yang bisa membalas dendam. Bahkan di komunitas sendiri, muncul suara-suara yang menyarankan Dimas untuk menyerah.

 

"Dim, kalau melawan, kita semua bisa kena masalah," ujar seorang anggota bernama Rudi. "Mending kita terima saja ganti rugi yang mereka tawarkan, walau kecil."

 

Perdebatan memanas. Dimas hampir kehilangan kesabaran. "Kalau kita diam sekarang, besok-besok tanahmu, tanahnya Ujang, tanah siapa saja bisa mereka ambil. Apa kamu mau begitu?"Suasana hening. Meski tidak semua setuju, mayoritas tetap memutuskan untuk melawan.

 

***Puncak ketegangan terjadi ketika komunitas menggelar aksi protes di lokasi proyek. Mereka membawa spanduk besar bertuliskan: "Sejengkal Kami, Hak Kami!" dan "Jalan untuk Semua, Bukan untuk Segelintir Orang!"

 

Anak-anak muda memainkan musik akustik, ibu-ibu membawa nasi bungkus untuk para peserta, dan para tetua berdiri di barisan depan. Dimas, dengan suara lantang, berkata di depan kamera wartawan, "Sejengkal ini mungkin kecil, tapi artinya besar. Ini harga diri kami!"

 

Petugas keamanan mencoba membubarkan massa, namun mereka duduk melingkar, saling bergandengan tangan. Lina berada di samping Dimas, menggenggam tangannya erat. "Aku di sini, Mas," bisiknya.

 

***Aksi itu membuat proyek dihentikan sementara. Perwakilan pemerintah datang untuk menenangkan situasi, berjanji akan mengadakan mediasi ulang. Meskipun belum ada hasil konkret, setidaknya mereka berhasil membuat pihak proyek mundur selangkah.

 

Malam itu, di balai warga, suasana hangat terasa. Semua orang berkumpul, makan bersama, dan membicarakan langkah selanjutnya. Dimas berdiri, menatap wajah-wajah yang lelah namun penuh tekad.

 

"Aku kehilangan satu sejengkal tanah, tapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih besar: keyakinan bahwa kita bisa bangkit bersama."

 

Lina tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Mas, kita belum menang, tapi kita sudah berdiri lagi."

 

***Di luar, langit sore berwarna jingga. Bagi Dimas, itu adalah pertanda bahwa badai yang baru saja mereka lewati akan digantikan oleh hari-hari baru yang lebih cerah.
***Keesokan harinya, Dimas dan Sarah memutuskan untuk pergi ke kantor kecamatan. Mereka berharap mendapatkan salinan dokumen yang bisa memperkuat posisi mereka. Ruangan arsip terletak di lantai dua, berdebu dan penuh tumpukan map lusuh. Seorang pegawai tua bernama Pak Bima menyambut mereka.

 

"Dimas? Kau anaknya Pak Suryo, kan?" tanya Pak Bima sambil menyipitkan mata. Dimas terkejut, ia tidak menyangka ada orang yang masih mengenal ayahnya.

 

"Iya, Pak. Bapak kenal Ayah?"

 

Pak Bima tersenyum. "Kami dulu sering duduk satu meja di balai desa. Dia orang baik, tak pernah mau ambil yang bukan haknya. Tanah yang kamu perjuangkan itu dulu jadi kebanggaan dia. Aku akan bantu sebisa mungkin."

 

Pak Bima lalu mengeluarkan map merah dari lemari besi. Di dalamnya ada dokumen pengesahan tanah dengan tanda tangan lurah lama, lengkap dengan stempel resmi. "Simpan baik-baik ini. Kalau perlu, aku bersedia jadi saksi."

 

***Sementara itu, di komunitas, perdebatan kembali mencuat. Rudi, yang sejak awal bersikap pesimis, mengumpulkan beberapa anggota untuk membicarakan opsi menerima ganti rugi."Kita harus realistis. Melawan hanya akan menguras tenaga. Apa kalian mau anak-istri kelaparan?" katanya di tengah forum.

 

Dimas menatapnya tajam. "Rudi, kalau kita jual prinsip, berapa harganya? Sejuta? Sepuluh juta? Tanah ini bukan cuma soal uang. Ini warisan, ini hak kita."

 

Suasana memanas, tapi Ujang menengahi. "Kita semua lelah, tapi menyerah sekarang sama saja mengundang mereka datang lagi. Ingat, sekali mereka berhasil, akan ada korban berikutnya."

 

Rudi terdiam. Walau wajahnya masih menyiratkan keraguan, ia tidak lagi melanjutkan argumen.

 

***Malam itu, Lina duduk di teras bersama Dimas. Hujan turun rintik-rintik, membasahi jalan setapak di depan rumah. Dimas memegang dokumen dari Pak Bima, memandanginya seolah itu adalah permata.

 

"Mas, aku tahu kamu capek," kata Lina pelan. "Tapi lihatlah, kita nggak sendirian. Ada Sarah, Ujang, bahkan orang-orang yang dulu nggak percaya sekarang mulai mendukung."

 

Dimas menghela napas. "Aku takut, Lin. Bukan cuma takut kalah, tapi takut nggak sanggup melindungi semua ini."

 

Lina menggenggam tangannya. "Takut itu wajar. Tapi selama kita masih melangkah, kita belum kalah."

 

***Beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan datang. Salah satu anggota komunitas yang diam-diam berpihak pada proyek membocorkan rencana bahwa pihak perusahaan akan membawa aparat untuk mengamankan lokasi dan memulai pekerjaan kembali.Kabar itu menyulut semangat baru. "Kita harus siap," kata Sarah. "Aksi damai kemarin berhasil membuat mereka mundur, tapi kali ini kita harus lebih kuat."

 

Mereka pun mulai menyiapkan strategi: membentuk barisan yang rapi, menyiapkan poster baru, dan mengatur tim dokumentasi untuk merekam semua kejadian. Anak-anak muda berlatih yel-yel, sementara para tetua mengatur logistik makanan dan minuman.

 

***Di malam sebelum aksi, Dimas duduk sendirian di dalam rumah. Ia menulis di buku catatannya: *'Mungkin aku akan kehilangan tanah ini. Tapi aku tidak akan kehilangan harga diri. Dan selama harga diri itu ada, sejengkal demi sejengkal bisa kita rebut kembali.'*

 

Ia menutup buku itu, lalu memandang ke luar jendela. Hujan telah berhenti, dan bulan muncul di balik awan. Esok hari akan menjadi hari yang panjang.

 

***Pagi berikutnya, mereka berkumpul di lapangan kecil dekat lokasi proyek. Jumlah peserta lebih banyak dari sebelumnya. Ada wajah-wajah baru yang ikut, beberapa di antaranya adalah warga kampung sebelah yang juga khawatir tanah mereka akan menjadi target berikutnya.

 

Di kejauhan, truk proyek sudah mulai mendekat. Suara mesin berat kembali terdengar, tapi kali ini bukan hanya Dimas yang berdiri di depannya—ratusan orang membentuk dinding manusia.Ketegangan memenuhi udara. Seorang mandor proyek melangkah maju. "Minggir! Kami punya izin!"

 

Sarah mengangkat dokumen dari Pak Bima tinggi-tinggi. "Kalau punya izin, tunjukkan! Karena kami juga punya bukti hak kami!"

 

Suasana hening sejenak, lalu sorak-sorai warga meledak. Kamera media menyorot setiap momen. Dimas berdiri di tengah kerumunan, dadanya berdegup, matanya menyala penuh tekad.

 

Hari itu, mereka tidak hanya mempertahankan sejengkal tanah. Mereka mempertahankan martabat.

 

*Bersambung ke Part 15...*

 

***Malam itu, setelah rapat komunitas, Dimas pulang dengan langkah pelan. Setiap sudut jalan yang ia lewati mengingatkannya pada masa kecilnya. Tanah sejengkal yang kini menjadi sengketa pernah menjadi tempat ia berlari-lari bersama teman-teman. Ayahnya sering mengajaknya ke sana untuk menanam pohon atau sekadar duduk di bawah rindangnya pohon mangga.

 

Kilasan kenangan itu begitu jelas. Ayahnya pernah berkata, "Dim, tanah ini kecil, tapi kalau kamu rawat, dia akan menjaga kamu." Kalimat itu kini terasa seperti janji yang harus ia tepati, apapun taruhannya.

 

***Kampung pun berubah sejak penggusuran itu. Dulu suasananya hangat, anak-anak bermain kelereng, ibu-ibu ngobrol sambil menjemur pakaian, dan aroma masakan dari dapur warga bercampur di udara. Sekarang, debu dari proyek jalan menyelimuti tanaman, suara mesin menggantikan kicau burung, dan beberapa warga memilih menutup pintu rapat-rapat.

 

Di warung Ujang, percakapan menjadi singkat. Orang-orang mulai berhati-hati bicara, takut salah kata dan dilaporkan ke pihak proyek. Ujang menghela napas, "Beginilah, Dim. Mereka belum merasakan kena, jadi belum mau bersuara."

 

Dimas hanya mengangguk. Ia tahu, rasa takut itu nyata.

 

***Menjelang aksi lanjutan, persiapan dilakukan lebih matang. Sarah mengatur tim dokumentasi: beberapa orang memegang kamera, yang lain membawa perekam suara untuk mengabadikan setiap percakapan dengan pihak proyek. Lina memimpin dapur umum, memastikan semua peserta aksi mendapat makanan dan minuman.

 

Beberapa pemuda membuat mural besar di papan triplek yang akan dipasang di depan lokasi: lukisan tangan-tangan warga yang saling menggenggam, dengan tulisan "Sejengkal untuk Semua" di bawahnya. Anak-anak kecil membantu mewarnai, membuat suasana sedikit lebih ringan.

 

***Dua malam sebelum aksi, hujan deras mengguyur kampung. Dimas dan Lina duduk di teras, menyaksikan air mengalir di selokan. Suara hujan menenangkan, tapi hati Dimas tetap gelisah."Mas, kalau besok mereka datang dengan lebih banyak orang, apa yang akan kita lakukan?" tanya Lina.

 

"Kita tetap berdiri. Kalau kita mundur sekarang, kita mengajarkan ke anak-anak bahwa hak itu bisa diambil begitu saja."

 

Lina memandang wajah Dimas lama. "Aku takut kehilangan kamu, bukan cuma tanahnya."Dimas tersenyum tipis. "Aku juga takut kehilangan diriku sendiri kalau aku menyerah."

 

***Hari aksi pun tiba. Langit mendung, udara lembab. Ratusan orang berkumpul, membawa spanduk, poster, dan semangat yang menggebu. Ada bapak-bapak yang membawa kentongan, ibu-ibu yang menyiapkan kopi panas di termos besar, dan remaja-remaja yang mengibarkan bendera komunitas.

 

Dari kejauhan, deru truk proyek terdengar semakin dekat. Aparat berseragam mulai berdatangan, memasang garis pembatas. Mandor proyek maju dengan wajah datar, namun matanya terlihat ragu melihat banyaknya warga.

 

Dimas melangkah maju, diapit Ujang dan Sarah. Ia mengangkat dokumen dari Pak Bima tinggi-tinggi. "Tanah ini sah milik kami! Jangan sentuh sejengkal pun sebelum masalah ini selesai di meja mediasi!"

 

Seorang aparat mencoba membujuk, "Pak, ini demi pembangunan. Mohon kerja samanya."Dimas menatap lurus. "Pembangunan tanpa keadilan adalah perampasan."

 

Sorak-sorai warga menggema, disusul nyanyian yel-yel yang memecah suasana tegang.

 

***Aksi itu berlangsung berjam-jam. Meski lelah, warga tidak bergeming. Hingga akhirnya, pihak proyek memutuskan mundur untuk hari itu. Tidak ada kemenangan mutlak, tapi ada satu hal yang jelas: suara mereka tidak bisa diabaikan.

 

Malam harinya, di balai warga, Dimas duduk bersama Lina. Lampu minyak menerangi wajah mereka.

 

"Mas, kita belum menang," kata Lina.

 

"Tapi kita sudah membuat mereka berhenti," jawab Dimas. "Dan itu langkah pertama menuju kemenangan."

 

***Di luar, bintang-bintang bertaburan di langit. Dimas memejamkan mata sejenak, membiarkan dirinya merasakan kehangatan dukungan komunitas. Ia tahu, perjuangan belum selesai, tapi sekarang ia tidak lagi sendirian.

 

*Bersambung ke Part 15...*

 

***Dua hari setelah aksi, pihak kecamatan memanggil perwakilan warga dan perusahaan untuk mediasi. Ruang rapat sederhana itu penuh dengan kursi plastik, kipas angin berdecit di sudut ruangan. Dimas, Ujang, dan Sarah duduk di satu sisi meja, sementara mandor proyek bersama dua orang dari manajemen duduk di sisi lain.

 

Camat membuka pertemuan, "Kita di sini untuk mencari solusi, bukan untuk saling menjatuhkan. Saya harap semua pihak menahan emosi."

 

Mandor proyek mencondongkan badan, nada suaranya datar. "Kami hanya menjalankan perintah. Lahan ini sudah diincar untuk pengembangan infrastruktur sejak lama. Warga harus memahami bahwa ini untuk kemajuan."

 

Dimas menatap langsung ke matanya. "Kemajuan untuk siapa? Untuk kami yang tinggal di sini, atau untuk laporan keuangan kalian?"

 

Suasana tegang. Seorang staf kecamatan mencoba menengahi dengan menanyakan bukti kepemilikan. Dimas menyerahkan dokumen dari Pak Bima. Mandor proyek memandangnya sekilas, lalu berbisik pada rekannya.

 

***Usai rapat, Dimas dan Sarah berjalan keluar. "Mereka nggak akan berhenti, Dim," kata Sarah sambil menyalakan rokok. "Tapi aku lihat tadi, mereka mulai goyah."

 

"Aku juga lihat. Mereka nggak nyangka kita punya dokumen sekuat ini," jawab Dimas. Ia memandang langit sore yang berwarna oranye. "Kita harus siap kalau mereka main kotor."

 

***Malam itu, kabar baik datang. Komunitas dari kampung sebelah, yang juga pernah menghadapi masalah serupa, mengirim pesan bahwa mereka akan datang membantu jika aksi lanjutan dilakukan. Mereka bahkan siap membawa panggung dan pengeras suara untuk orasi.

 

Keesokan paginya, beberapa perwakilan komunitas itu datang. Ada Pak Rano, lelaki paruh baya yang wajahnya keras namun ramah. "Saya pernah kehilangan sawah karena proyek tol. Nggak mau lihat orang lain ngalamin hal yang sama," katanya sambil menepuk bahu Dimas.Kehadiran mereka membuat semangat warga naik. Rudi, yang dulu pesimis, kini mulai aktif membantu mempersiapkan logistik.

 

***Seminggu kemudian, mediasi kedua diadakan. Kali ini, jumlah warga yang hadir di luar kantor kecamatan berlipat ganda. Mereka berdiri sambil membawa spanduk dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Media lokal meliput dari pagi hingga siang.

 

Di dalam ruang rapat, pihak proyek mulai menunjukkan tanda-tanda ingin bernegosiasi. Mereka menawarkan ganti rugi lebih tinggi. Namun Dimas, setelah berkonsultasi dengan warga, tetap menolak. "Bukan soal nilainya. Ini soal prinsip."

 

***Malam harinya, Dimas duduk bersama Sarah di pos ronda. Lampu bohlam redup menggantung di atas mereka. "Kamu nggak takut, Dim?" tanya Sarah tiba-tiba.

 

"Takut," jawab Dimas jujur. "Tapi kalau kita berhenti, aku akan lebih takut lagi... takut menyesal seumur hidup."

 

Sarah mengangguk pelan. "Kadang aku iri sama keberanianmu. Aku juga ingin punya keyakinan sekuat itu."

 

"Kamu sudah punya, Sar. Kalau nggak, kamu nggak akan ada di sini."

 

***Di kejauhan, suara mesin terdengar samar. Dimas menatap gelap malam, merasakan angin membawa aroma tanah basah. Perjuangan masih panjang, tapi ia tahu bahwa setiap hari mereka bertahan, mereka semakin dekat pada kemenangan.

 

Dan entah bagaimana, ia bisa merasakan bahwa badai yang lebih besar sedang menunggu di depan.*Bersambung ke Part 15...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 14 Krisis Dan Kebangkitan

Promo Buat Software Bisnis Terbaik Sendiri

Rp 650.000

seowaBerkembang Lebih Jauh- Membuat Software Bisnis Online Sendiri yang Menguntungkan Dengan biaya yang terjangkau, bisnis dapat mengalokasikan sumber daya ke area lain yang membutuhkan perhatian lebih intensif, meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. ...

Jasa Buat Software Bisnis Terbaik Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Online- Langkah Menuju Kemapanan Bisnis Perubahan paradigma bisnis selama pandemi global mendorong perusahaan untuk mengadopsi solusi inovatif, di mana pembuatan aplikasi software dengan biaya terjangkau melalui promo menjadi pilihan ...

Promo Buat Software Bisnis Terbaik

Rp 650.000

seowaBisnis yang Terdepan- Membuat Software Bisnis Online yang Terkemuka Penawaran istimewa ini sejalan dengan semangat inovasi, memungkinkan perusahaan untuk menjadi pionir dalam penerapan teknologi terbaru tanpa harus menjadi ahli koding. Kibul Gonzales ...

Jasa Buat Software Bisnis Terbaik

Rp 650.000

seowaInovasi Bisnis Digital- Membuat Software Bisnis yang Terhubung secara Luas Penawaran istimewa ini menciptakan lingkungan di mana bisnis dapat dengan mudah mengintegrasikan teknologi baru tanpa mengalami kesulitan teknis yang signifikan. Kibul Gonzales ...

Promo Buat Software Bisnis Online

Rp 650.000

seowaMerintis Jalan- Membuat Software Bisnis Sendiri yang Menginspirasi Jawaban efektif terhadap kebutuhan teknologi ditemukan melalui pemanfaatan platform bermetode low-code, memberikan solusi yang lebih efisien dan hemat biaya. Kibul Gonzales Hs Part 14 Krisis ...

Jasa Buat Software Bisnis Online

Rp 650.000

seowaInovasi Digital- Membuat Software Bisnis yang Mengguncang Pasar Promosi ini bukan hanya mengenai penawaran khusus, tetapi juga tentang memberikan akses terhadap alat-alat teknologi yang memungkinkan bisnis untuk terus berkembang. Kibul Gonzales Hs ...

Promo Buat Software Bisnis

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Sendiri- Petunjuk Praktis untuk Meraih Kesuksesan Dalam keseluruhan, pembuatan aplikasi software di bidang bisnis sendiri melalui promo dengan metode low-code bukan hanya solusi praktis, tetapi juga investasi cerdas untuk ...

Jasa Buat Software Bisnis

Rp 650.000

seowaKesuksesan Digital- Membuat Software yang Digunakan dalam Bisnis Sendiri Pembuatan aplikasi software sendiri melalui promo ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan perusahaan pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan teknologi mereka. ...

Promo Buat Software Yang Digunakan Dalam Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaMenjelajahi Peluang- Membuat Software House dan Bisnis Sendiri Kesempatan istimewa ini memberikan nilai tambah dengan memungkinkan bisnis untuk merancang aplikasi tanpa harus mengeluarkan anggaran besar untuk keahlian koding. Kibul Gonzales Hs Part 14 ...

Jasa Buat Software Yang Digunakan Dalam Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Terbaik- Kunci Keberhasilan di Era Digital Promosi ini bukan hanya mengenai penawaran khusus, tetapi juga tentang memberikan akses terhadap alat-alat teknologi yang memungkinkan bisnis untuk terus berkembang. Kibul Gonzales ...