Dilihat : 32 kali

Fajar baru saja menyingsing ketika Dimas sudah berdiri di halaman balai warga. Udara pagi masih segar, bau tanah basah dari sisa hujan semalam menenangkan pikiran. Di depannya, bentangan spanduk putih sederhana terpampang jelas: "PASAR SEJENGKAL — MILIK WARGA, UNTUK WARGA." Huruf-hurufnya dicat tebal oleh anak-anak kampung semalam, tangan mereka belepotan cat, tawa mereka memenuhi udara.

 

Pasar ini lahir dari keresahan yang menumpuk selama berbulan-bulan. Setelah mempertahankan tanah sejengkal dari incaran pengembang, warga merasa punya energi baru. "Kalau kita bisa mempertahankan tanah, kenapa kita nggak bikin sesuatu yang bermanfaat dari tanah itu?" kata Ujang suatu malam di pos ronda. Ide itu cepat mendapat sambutan. Minimarket dan retail besar sudah terlalu lama mengatur harga dan kebiasaan belanja warga.

 

***Proses membangun pasar dimulai dari nol. Tanah kosong di pinggir jalan utama dibersihkan dari ilalang. Batu-batu besar dipindahkan. Warga mengumpulkan papan bekas dari proyek bangunan, drum plastik dari gudang tua, dan terpal warna-warni yang dulunya dipakai untuk hajatan.

 

Lina datang membawa termos teh manis dan pisang rebus. "Biar nggak kehabisan tenaga," katanya sambil menuang minuman ke gelas plastik. Dimas mengucapkan terima kasih, menyesap teh hangat itu, merasakan keakraban yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kota.

 

Sarah memegang kertas denah yang sudah lusuh. "Kita bikin jalur tengah selebar dua meter, cukup untuk dua gerobak. Lapak sayur di sini, ikan di sebelahnya. Pakaian bekas di sudut supaya nggak menghalangi bau makanan." Semua mengangguk setuju.

 

***Gotong royong berlangsung selama tiga minggu. Setiap sore, anak-anak pulang sekolah langsung ikut mengangkut batu kecil atau menyapu tanah. Tua muda bekerja tanpa bayaran, hanya berbekal semangat. Dimas bahkan sempat meminjamkan motornya untuk mengangkut kayu dari desa sebelah.

 

Ada satu sore yang tak terlupakan: seorang bapak tua, Pak Waryo, datang membawa kursi kayu buatannya sendiri untuk dipakai di lapak kopi. "Biar pembeli bisa duduk santai," katanya. Wajahnya cerah, seolah memberi kursi itu adalah kebahagiaan tersendiri.

 

Malam terakhir sebelum pembukaan, warga berkumpul untuk rapat evaluasi. Kopi panas mengepul, gorengan tersaji di atas meja panjang. "Kalau besok ramai, kita harus siap. Jangan sampai stok habis di tengah hari," kata seorang pedagang ikan. Ujang menambahkan, "Dan ingat, ini bukan cuma soal jualan. Ini simbol perlawanan."

 

***Hari pembukaan tiba. Langit cerah, angin sepoi-sepoi membuat terpal bergoyang lembut. Aroma sayur segar, rempah, dan ikan asin bercampur menjadi satu. Suara musik dangdut pelan mengalun dari speaker bekas, memberi suasana meriah.

 

Pembeli mulai berdatangan sejak pukul enam pagi. Mereka penasaran, sebagian lagi memang ingin mendukung. Lina sibuk di lapak bumbu, melayani ibu-ibu yang membeli kemasan kecil lada bubuk. "Kalau di minimarket sepuluh ribu, di sini cuma enam ribu," katanya sambil tersenyum.

 

Media lokal datang meliput. Wartawan mewawancarai Dimas. "Tujuan kami sederhana," ujarnya di depan kamera. "Kami ingin membuktikan bahwa warga bisa mandiri, tanpa harus tunduk pada harga dan aturan yang dibuat pihak luar."

 

***Namun kabar pasar alternatif ini cepat sampai ke telinga pihak retail besar. Dua hari kemudian, seorang pria berjas rapi bernama Andri datang ke balai warga. "Kami dengar kalian membuka pasar tanpa izin resmi. Itu melanggar peraturan zonasi," katanya dengan nada ramah namun tegas.

 

Dimas menatapnya tanpa gentar. "Pasar ini berdiri di tanah milik warga, untuk warga. Kami tidak melanggar aturan."

 

Andri tersenyum tipis. "Baiklah, tapi kami punya kuasa hukum. Kami akan periksa lebih lanjut."Begitu Andri pergi, rapat warga memanas. Ada yang khawatir akan digusur lagi. Tapi Dimas menenangkan, "Kalau mereka sudah kirim peringatan, artinya mereka menganggap kita ancaman. Dan itu tanda kita berada di jalan yang benar."

 

***Ancaman itu ternyata nyata. Seminggu setelahnya, surat resmi dari dinas perdagangan kota datang, berisi teguran dan daftar persyaratan yang harus dipenuhi. Biaya izinnya mahal. Beberapa pedagang mulai ragu. "Kalau kita penuhi syarat, modal kita habis," kata pedagang sayur.

 

Sarah mengangkat tangan, meminta semua diam. "Kita cari cara. Ada komunitas lain yang berhasil jalankan pasar rakyat tanpa tunduk penuh pada aturan berat. Kita belajar dari mereka."

 

***Rombongan kecil warga mengunjungi pasar rakyat di pinggiran kota yang sudah berjalan lima tahun. Di sana, pengelolanya bercerita tentang koperasi, sistem iuran ringan, dan tim hukum yang siap membantu jika ada masalah. Inspirasi itu dibawa pulang.

 

Warga sepakat membentuk koperasi kecil. Modal awal berasal dari iuran pedagang dan sumbangan sukarela. Lina menjadi bendahara, telaten mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran. Sarah mengatur jadwal piket kebersihan. Ujang bertugas mencari pasokan barang langsung dari petani dan nelayan, memotong rantai distribusi.

 

***Retail besar merespons dengan cara yang sudah diduga: mereka mengadakan promo besar-besaran di minimarket terdekat, menurunkan harga barang di bawah harga modal pedagang Pasar Sejengkal. Omset pasar turun drastis.

 

Dimas mengumpulkan pedagang. "Kita nggak bisa menang kalau ikut perang harga. Yang kita jual bukan cuma barang, tapi rasa kebersamaan, pelayanan, dan kualitas. Itu yang mereka nggak punya."

 

***Pelan tapi pasti, strategi itu berhasil. Pelanggan mulai kembali. Mereka merasakan perbedaan: sayur lebih segar, ikan lebih baru ditangkap, harga wajar tanpa jebakan promo. Anak-anak suka berlari-lari di pasar, disapa pedagang yang sudah mereka kenal.

 

Pada suatu Sabtu sore, pasar mengadakan acara musik kecil. Pemuda kampung memainkan gitar, anak-anak menari di depan lapak sayur. Suasana hangat itu menguatkan tekad semua orang untuk mempertahankan pasar.

 

Suatu sore lainnya, ketika pasar mulai sepi, Dimas berdiri di ujung lorong memandang lapak-lapak yang sedang berkemas. Lina datang membawa dua gelas teh manis. "Capek?""Capek," jawab Dimas sambil tersenyum, "tapi ini capek yang bikin hati tenang. Kita membangun sesuatu yang nggak bisa dibeli."

 

Lina menatapnya, matanya berkilat. "Dan ini baru awal."

 

***Minggu ketiga sejak pasar dibuka, geliatnya semakin terasa. Lorong tengah mulai ramai sejak subuh, bahkan sebelum terbit matahari. Para pedagang menata dagangan dengan rapi, seolah pasar ini sudah menjadi denyut nadi kampung. Di ujung barat, lapak kopi milik Pak Waryo selalu penuh sejak pukul lima pagi. Aroma kopi tubruk panas bercampur bau tempe goreng yang digoreng di wajan besar. Tawa para lelaki tua yang bermain catur di meja kayu menambah warna.

 

Dimas berjalan pelan menyusuri lorong, menyapa setiap pedagang. "Pagi, Bu Rini! Sayurnya segar banget hari ini."

 

"Pagi, Dim. Ini dari kebun sendiri, tanpa pupuk kimia," jawab Bu Rini sambil tersenyum.

 

Di lapak ikan, Ujang sedang menimbang gurame untuk seorang pembeli. "Hati-hati bawa pulangnya, Bu. Ikan ini baru diangkat dari kolam jam tiga pagi."

 

Pembeli itu mengangguk puas. "Nggak nyesel belanja di sini."

 

***Namun di balik senyum itu, ada keresahan. Beberapa pedagang mulai merasa tertekan dengan promo gila-gilaan dari minimarket besar di pinggir jalan. Harga gula dan minyak goreng di sana jatuh drastis, hampir setengah dari harga normal. Banyak pembeli tergoda untuk belanja di sana, membuat omset pasar turun di hari-hari tertentu.

 

Dalam rapat malam di balai warga, suasana panas. "Kalau begini terus, kita bisa bangkrut," keluh seorang pedagang sembako.

 

"Bertahan sedikit lagi," sahut Dimas. "Mereka sengaja perang harga untuk mematikan kita. Tapi begitu kita tumbang, harga akan mereka naikkan lagi."

 

Lina menambahkan, "Kita harus kasih alasan yang kuat kenapa orang tetap mau ke sini. Bukan cuma soal harga."

 

Sarah mengusulkan ide acara mingguan. "Bagaimana kalau setiap Sabtu sore kita adakan 'Pasar Musik'? Ada hiburan, ada makanan khas, jadi orang datang bukan cuma buat belanja, tapi juga buat kumpul."

 

Semua setuju. Malam itu juga mereka mulai membentuk panitia kecil.

 

***Sabtu pertama dengan konsep baru itu sukses besar. Anak-anak muda memainkan musik akustik, ibu-ibu menyiapkan stan makanan ringan. Ada yang menjual kue putu, es dawet, hingga sate ayam. Pengunjung datang bukan hanya dari kampung sendiri, tapi juga dari desa sekitar. Suasana ramai membuat hati semua orang hangat.

 

Namun kesuksesan itu kembali memancing perhatian pihak luar. Beberapa hari kemudian, surat dari dinas perdagangan kembali datang. Kali ini lebih tegas: jika pasar tidak memiliki izin resmi dalam dua minggu, mereka akan menutup paksa.

 

Kabar itu membuat sebagian pedagang panik. Tapi Dimas mencoba menenangkan, "Kita masih punya waktu. Kita ajukan izin lewat koperasi, sambil tetap jalan seperti biasa. Kalau kita tutup, kita kalah sebelum bertarung."

 

***Proses pengajuan izin tidak mudah. Formulir panjang, biaya administrasi besar, dan beberapa persyaratan terasa dibuat untuk menyulitkan pasar rakyat. Sarah bolak-balik ke kantor dinas, berdebat dengan petugas. Lina menyusun laporan keuangan koperasi, memastikan semuanya transparan.

 

Suatu sore, ketika Lina sedang menata catatan di lapaknya, Dimas datang membawa kabar, "Kita dapat dukungan dari LSM yang fokus membela pasar rakyat. Mereka siap membantu advokasi."

 

Lina tersenyum lega. "Syukurlah. Aku sempat takut kita nggak kuat hadapi ini sendirian."

 

***Hari-hari berikutnya, pasar justru semakin ramai. Dukungan moral datang dari berbagai komunitas. Beberapa aktivis mahasiswa mengadakan diskusi publik di tengah pasar, membicarakan pentingnya kedaulatan ekonomi lokal. Media sosial mulai ramai membicarakan Pasar Sejengkal sebagai simbol perlawanan warga kecil.

 

Pada suatu malam, Dimas duduk di teras rumah sambil memandangi bintang. Lina datang membawa dua cangkir kopi. "Capek?" tanyanya.

 

"Capek, tapi puas. Lihat semua orang bekerja sama... rasanya semua perjuangan ini ada artinya," jawab Dimas.

 

Lina mengangguk, menatap langit bersama. "Kalau kita bisa bertahan sampai akhir tahun, aku yakin pasar ini akan jadi cerita yang menginspirasi banyak orang."

 

***Konflik dengan retail besar belum berakhir, tapi setiap langkah yang mereka ambil kini terasa lebih mantap. Pasar Sejengkal bukan lagi sekadar tempat berjualan, tapi pusat kehidupan, tempat orang saling mengenal, saling membantu, dan saling menguatkan.

 

Dan di lubuk hati Dimas, ia tahu, ini bukan akhir. Ini baru permulaan.*Bersambung ke Part 16...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 15 Pasar Dan Perlawanan

Promo Buat Software Crm Untuk Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Sendiri- Cara Mengubah Visi Menjadi Kenyataan Penawaran istimewa ini sejalan dengan semangat inovasi, memungkinkan perusahaan untuk menjadi pionir dalam penerapan teknologi terbaru tanpa harus menjadi ahli koding. Kibul Gonzales ...

Jasa Buat Software Crm Untuk Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaInovasi Digital- Membuat Software Bisnis Online yang Menciptakan Trend Ketersediaan promo untuk membuat aplikasi software dengan biaya terjangkau membuka pintu bagi inovasi di tingkat yang sebelumnya sulit diakses oleh bisnis kecil. Kibul ...

Promo Buat Software Untuk Bisnis

Rp 650.000

seowaLangkah Lebih Jauh- Membuat Software Aplikasi Bisnis yang Terkini Dukungan terhadap langkah-langkah bisnis kecil dan menengah tidak hanya tentang biaya, tetapi juga memberikan mereka akses ke alat yang mendukung pertumbuhan bisnis secara ...

Jasa Buat Software Untuk Bisnis

Rp 650.000

seowaBisnis yang Terdepan- Membuat Software Bisnis Online Sendiri yang Menonjol Bisnis yang memanfaatkan promo ini akan menemukan bahwa pembuatan aplikasi software di bidang bisnis sendiri dapat dilakukan dengan cepat dan efisien, memberikan ...

Promo Buat Software Yang Digunakan Dalam Bisnis

Rp 650.000

seowaLangkah Demi Langkah- Membuat Software CRM yang Tepat untuk Bisnis Sendiri Pengaruh pandemi global telah mendorong perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, di mana transformasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ...

Jasa Buat Software Yang Digunakan Dalam Bisnis

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Online- Langkah Menuju Kemapanan Bisnis Platform bermetode low-code tidak hanya menjawab kebutuhan teknologi, tetapi juga mengoptimalkan pengeluaran bisnis dengan cara yang efisien. Kibul Gonzales Hs Part 15 Pasar Dan Perlawanan ...

Promo Buat Aplikasi Software Di Bidang Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaPintu Gerbang Kesuksesan- Membuat Software House dan Bisnis Sendiri Transformasi digital menjadi landasan utama bagi perusahaan yang ingin tetap relevan di era perubahan yang cepat, dengan promo sebagai langkah konkret menuju inovasi. ...

Jasa Buat Aplikasi Software Di Bidang Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaBisnis yang Terhubung- Membuat Software CRM untuk Transformasi Bisnis Promo ini memberikan dampak positif pada fleksibilitas bisnis, memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan bisnis. Kibul Gonzales Hs Part 15 Pasar ...

Promo Buat Software Bisnis Online Sendiri

Rp 650.000

seowaBerkembang Lebih Jauh- Membuat Software Bisnis Online Sendiri yang Menguntungkan Platform bermetode low-code tidak hanya memotong biaya pengembangan, tetapi juga mengurangi waktu yang diperlukan untuk membawa aplikasi baru ke pasar. Kibul Gonzales ...

Jasa Buat Software Bisnis Online Sendiri

Rp 650.000

seowaPintu Keberhasilan- Membuat Software Bisnis Terbaik dengan Kecerdasan Dengan biaya yang terjangkau, bisnis dapat mengalokasikan sumber daya ke area lain yang membutuhkan perhatian lebih intensif, meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. Kibul Gonzales ...

Promo Buat Peluang Bisnis Software House Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Software Bisnis Terbaik- Rangkul Era Digital dengan Percaya Diri Dengan minimnya keterlibatan koding, bisnis dapat merancang aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa perlu menjadi ahli dalam bahasa pemrograman. Kibul Gonzales ...

Jasa Buat Peluang Bisnis Software House Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Langkah Besar- Membuat Software Bisnis Online yang Revolusioner Bisnis kecil dan menengah mendapatkan dukungan melalui promo istimewa yang menawarkan pembuatan aplikasi software di bidang bisnis sendiri dengan biaya terjangkau dan proses ...

Promo Buat Software Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaBisnis yang Berkembang Pesat- Membuat Software Bisnis Sendiri yang Tepat Pemanfaatan metode low-code tidak hanya mempercepat proses transformasi digital, tetapi juga memberikan solusi hemat biaya yang sangat diinginkan oleh bisnis kecil dan ...

Jasa Buat Software Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaMembuat Jejak Digital- Software Bisnis Sendiri untuk Pemula Dengan minimnya keterlibatan koding, bisnis dapat merancang aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa perlu menjadi ahli dalam bahasa pemrograman. Kibul Gonzales Hs Part 15 ...

Promo Buat Software Untuk Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaRevolutionize Bisnis Anda dengan Menciptakan Software Aplikasi Bisnis Inovatif Bisnis yang memanfaatkan promo ini akan menemukan bahwa pembuatan aplikasi software di bidang bisnis sendiri dapat dilakukan dengan cepat dan efisien, memberikan keunggulan ...

Jasa Buat Software Untuk Bisnis Sendiri

Rp 650.000

seowaBisnis Digital- Membuat Software untuk Bisnis Sendiri yang Terdepan Pembuatan aplikasi software sendiri melalui promo ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan perusahaan pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan teknologi mereka. ...