Dilihat : 54 kali

Pagi itu, Pasar Sejengkal masih berdenyut seperti biasa. Matahari baru muncul dari balik deretan rumah ketika Dimas sudah menjejakkan kaki di lorong tengah pasar. Udara dingin bercampur aroma kopi dan sayur segar. Suara tawa pedagang, teriakan ramah menawarkan dagangan, dan langkah kaki pembeli menjadi musik yang akrab di telinga.

 

Namun di tengah rutinitas itu, ada hal baru yang mengusik pikiran Dimas. Semalam, ia menerima pesan dari seorang teman lama di kampung halaman. Pesan singkat yang membuatnya terdiam lama: "Dim, coba ceritakan kehidupan di Pasar Sejengkal itu di internet. Orang-orang harus tahu."

 

Dimas awalnya ragu. Ia tak pernah merasa dirinya pandai menulis. Tapi ide itu mengendap. Pagi ini, sambil memandangi aktivitas pasar, ia merasakan dorongan kuat untuk menuliskan semuanya.

 

***Setelah pasar mulai sepi menjelang siang, Dimas pulang ke rumah. Ia duduk di meja kayu kecil, membuka laptop usang yang pernah ia beli bekas dari seorang mahasiswa. Jari-jarinya ragu di atas keyboard. Ia menarik napas panjang, lalu mulai mengetik.

 

Kalimat pertama yang ia tulis sederhana: "Di sebuah sudut kota, ada pasar kecil yang menolak tunduk."

 

Kata demi kata mengalir. Dimas menulis tentang hari pertama membangun pasar, tawa dan peluh gotong royong, ancaman dari retail besar, hingga bagaimana warga menemukan kembali arti kebersamaan. Ia tidak menulis dengan bahasa rumit, hanya bercerita apa adanya.Tanpa sadar, matahari mulai condong ke barat ketika ia menyelesaikan tulisan itu. Ia memberinya judul: "Pasar Sejengkal: Cerita Warga yang Bertahan."

 

***Malamnya, Dimas menunjukkan tulisannya kepada Lina dan Sarah di balai warga. Mereka membacanya dengan khidmat. Sesekali Lina tersenyum, kadang matanya berkaca-kaca."Dim, ini bagus sekali," kata Sarah. "Kamu berhasil membuat pembaca merasa seperti mereka ada di sini."

 

Lina menambahkan, "Kalau ini kita unggah di media sosial, pasti banyak yang membaca."

 

Awalnya Dimas keberatan. "Aku nggak mau kita jadi sorotan yang bikin masalah makin besar."

 

"Tapi justru dengan membagikan cerita ini, kita bisa mendapat dukungan lebih luas," ujar Sarah meyakinkan.

 

Akhirnya Dimas setuju. Mereka mengunggah tulisan itu ke blog komunitas yang selama ini dikelola Sarah, lalu membagikannya ke beberapa grup media sosial.

 

***Responsnya di luar dugaan. Dalam dua hari, tulisan itu dibaca ribuan orang. Komentar dukungan membanjiri laman blog dan grup. Ada yang menawarkan bantuan hukum gratis, ada yang ingin datang langsung berbelanja di pasar, bahkan ada komunitas dari luar negeri yang penasaran.

 

Media lokal kembali datang meliput, kali ini fokus pada kisah di balik layar. Dimas, yang biasanya enggan bicara di depan kamera, mulai belajar menyampaikan pesan dengan jelas. "Kami bukan melawan kemajuan," katanya, "tapi kami ingin kemajuan itu berpihak pada manusia, bukan hanya pada angka penjualan."

 

***Undangan demi undangan mulai berdatangan. Dimas diminta berbicara di forum komunitas, di kampus, bahkan di seminar kecil yang diadakan LSM. Ia selalu menolak bayaran, hanya meminta biaya transportasi. "Aku nggak mau ini jadi mata pencaharian baru," katanya kepada Lina. "Kalau niatnya bergeser, semua yang kita bangun bisa kehilangan maknanya."

 

Lina mengerti. "Tapi ingat, apa yang kamu bagikan itu berharga. Jangan meremehkan dampaknya."

 

Di salah satu forum, seorang mahasiswa bertanya, "Bang Dimas, kenapa memilih hidup seperti ini? Bukankah lebih mudah ikut arus, cari uang sebanyak-banyaknya, lalu pindah ke tempat yang lebih nyaman?"

 

Dimas tersenyum. "Karena hidup di hari ini itu lebih penting. Kalau kita terlalu sibuk mengejar masa depan atau terjebak di masa lalu, kita lupa menikmati apa yang ada sekarang. Pasar ini, orang-orang ini, adalah 'sekarang' yang ingin aku jaga."

 

***Namun tak semua kabar baik. Beberapa hari setelah tulisan itu viral, pihak retail besar mengirimkan peringatan hukum resmi, kali ini lebih keras. Mereka menuduh pasar melanggar hak usaha dan menyebabkan "kerugian ekonomi signifikan".

 

Rapat darurat digelar di balai warga. Suara-suara penuh emosi terdengar. Ada yang marah, ada yang takut.

 

"Kita sudah diincar sejak awal," kata Ujang. "Kalau sekarang mereka makin keras, artinya kita memang jadi ancaman."

 

Sarah mengangkat tangan, menenangkan. "Kita akan lawan secara hukum. Dukungan dari luar sudah cukup kuat. Beberapa pengacara siap membantu pro bono."

 

Dimas menatap wajah-wajah yang ia kenal baik. "Kita tidak akan menyerah. Tapi ingat, perjuangan ini bukan hanya tentang menang di pengadilan. Ini tentang mempertahankan cara hidup yang kita pilih."

 

***Hari-hari berikutnya, Dimas kembali ke rutinitas. Pagi di pasar, siang menulis, malam rapat atau menghadiri undangan berbicara. Meski lelah, ia merasa hidupnya penuh makna.

 

Suatu sore, setelah menyelesaikan wawancara dengan radio lokal, ia berjalan pulang bersama Lina. Langit sore berwarna oranye keemasan, angin membawa aroma laut dari arah barat.

 

"Kamu pernah nyesel nggak, Dim?" tanya Lina tiba-tiba.

 

"NyeseI?" Dimas berpikir sejenak. "Kalau soal uang, mungkin iya sedikit. Tapi kalau soal hidup... tidak. Karena aku bisa bangun setiap pagi dan tahu aku melakukan sesuatu yang berarti."

 

Lina tersenyum. "Aku harap aku bisa punya keyakinan sekuat itu."

 

"Kamu sudah punya, Lin. Kamu ada di sini, bersama kita, itu sudah membuktikannya."

 

***Menjelang akhir bulan, Pasar Sejengkal mengadakan perayaan kecil sebagai bentuk syukur. Ada pentas musik, lomba masak, dan bazar buku bekas. Dimas berdiri di tengah keramaian, memandangi wajah-wajah yang tertawa lepas.

 

Dalam hatinya, ia tahu jalan di depan masih panjang. Ancaman belum hilang, tantangan akan terus datang. Tapi ia juga tahu satu hal: ia memilih untuk hidup di hari ini, dan membiarkan esok menjadi cerita yang akan ia hadapi nanti.

 

***Keesokan harinya, pasar tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak subuh, pedagang sudah sibuk menata lapaknya. Ada yang menyusun cabai merah seperti piramida kecil, ada yang menggantung ikan-ikan segar di tiang bambu, dan ada pula yang memajang kerajinan tangan dari limbah kain. Bau harum rempah bercampur aroma kue basah membuat suasana pasar seperti pesta kecil setiap hari.

 

Dimas memutuskan untuk berjalan tanpa tujuan pasti, hanya menikmati setiap interaksi. Di lapak Bu Wati, ia melihat seorang anak kecil memilih pisang dengan serius. "Mau yang kuning atau yang masih agak hijau?" tanya Bu Wati lembut.

 

"Yang kuning, biar bisa langsung dimakan," jawab si anak sambil tersenyum.

 

Dimas tertawa kecil. "Kamu pintar sekali memilih." Anak itu tersipu malu.

 

Momen-momen kecil seperti inilah yang ingin ia abadikan dalam tulisannya. Bukan hanya tentang jual beli, tapi tentang rasa kemanusiaan yang lahir di tempat sederhana.

 

***Saat kembali menulis di rumah sore itu, Dimas mencoba menggambarkan suasana pasar dengan detail. Ia menulis tentang suara sandal yang beradu dengan lantai semen, tentang tawa lepas yang kadang pecah di tengah transaksi, tentang tangan-tangan kasar yang terbiasa bekerja keras namun selalu siap membantu orang lain.

 

Tulisan keduanya ia beri judul "Pasar yang Bernapas". Kali ini ia mengirimkan naskah ke media komunitas online yang lebih besar. Tak lama, redaksi menghubungi dan meminta izin untuk mempublikasikannya. Dimas setuju, asalkan foto-foto yang digunakan adalah hasil karya warga pasar sendiri.

 

Artikel itu kembali meledak. Kali ini, wartawan dari luar kota datang. Mereka ingin melihat langsung pasar yang menjadi bahan perbincangan. Pedagang awalnya gugup, tapi Dimas menenangkan mereka. "Kita tidak sedang diuji. Kita hanya bercerita tentang kehidupan kita."

 

***Namun, tak semua pihak senang. Retail besar yang sejak awal menjadi lawan diam-diam mengirimkan tim pengacara untuk "mengunjungi" pasar. Mereka tidak datang dengan ancaman langsung, tapi dengan bahasa manis yang sarat jebakan.

 

"Kami ingin mengajak kerja sama," kata salah satu pengacara saat bertemu Dimas di sebuah warung kopi dekat pasar. "Kami akan membeli seluruh lahan pasar ini, membangun pusat perbelanjaan modern, lalu memberi kalian ruang khusus di dalamnya."

 

Dimas menatapnya datar. "Itu bukan kerja sama, itu pengambilalihan. Pasar ini lahir dari tangan kami sendiri. Kami tidak butuh atap kaca untuk merasa berhasil."

 

Pengacara itu tersenyum tipis, lalu meninggalkan kartu namanya. "Pikirkan lagi. Tawaran kami terbatas waktu."

 

***Malam itu, Dimas menceritakan kejadian tersebut di rapat warga. Suasana tegang, beberapa orang mulai bimbang.

 

"Kalau mereka benar-benar membeli lahannya, kita bisa dapat uang banyak," kata seorang pedagang muda.

 

"Lalu setelah itu? Kita akan membayar sewa di tempat yang dulunya milik kita sendiri," jawab Ujang. "Kita akan kehilangan kendali."

 

Sarah mencoba menenangkan. "Kita tetap pada prinsip. Tapi kita harus siap secara hukum. Jangan biarkan celah yang bisa dimanfaatkan."

 

Dimas merasa beban di pundaknya semakin berat. Tapi ia juga tahu, ini adalah ujian penting. Jika mereka berhasil melewati ini, masa depan pasar akan jauh lebih aman.

 

***Beberapa hari kemudian, Dimas menerima undangan untuk berbicara di sebuah acara komunitas kreatif di pusat kota. Tema acaranya: "Menghidupkan Ekonomi Lokal di Era Globalisasi".

 

Di panggung sederhana itu, ia menceritakan perjalanan Pasar Sejengkal dari nol. Ia tidak menutupi kesulitan, bahkan menceritakan pertengkaran kecil yang pernah terjadi antar pedagang. "Kami bukan sempurna," katanya. "Tapi kami belajar bahwa keberlangsungan lebih penting daripada kesempurnaan."

 

Tepuk tangan panjang menggema. Beberapa peserta mendekatinya setelah acara, menawarkan ide-ide baru. Ada yang ingin membuat festival kuliner tahunan, ada yang ingin mengadakan lokakarya kerajinan tangan di pasar.

 

***Hubungannya dengan Lina juga semakin dekat. Mereka sering berbincang lama di lapak sayur saat pasar mulai sepi. Pernah suatu kali, Lina berkata, "Kalau suatu hari kita sudah tidak lagi di pasar ini, apa yang akan kamu lakukan?"

 

Dimas terdiam sejenak. "Mungkin aku akan mencari tempat baru untuk memulai lagi. Tapi aku rasa, selama ada orang-orang seperti kamu di sekitarku, aku nggak akan kehilangan arah."

 

Lina tersenyum, lalu melanjutkan menata tomat. Jawaban itu sederhana, tapi hangat.

 

***Puncak bulan itu adalah perayaan kecil-kecilan di pasar. Warga sepakat mengadakan "Malam Lampion". Semua lorong pasar dihiasi lampion buatan sendiri dari bambu dan kertas warna-warni. Anak-anak berlarian sambil membawa lampion kecil, sementara para orang tua menikmati hidangan bersama.

 

Dimas berdiri di tengah pasar, memandangi semua itu. Dalam hatinya ia berkata, "Inilah hari ini. Dan dari hari ini, esok akan lahir dengan sendirinya."

 

Ia tahu, perjalanan belum selesai. Tapi untuk malam itu, ia memilih untuk menikmati setiap detik, tanpa terburu-buru memikirkan apa yang akan datang.

 

***Beberapa hari kemudian, pasar mendapat kunjungan dari rombongan kecil yang tidak biasa: tiga orang dengan kamera besar dan ransel lusuh. Mereka memperkenalkan diri sebagai mahasiswa jurusan antropologi dari universitas di luar kota. "Kami membaca tulisan Bapak di internet," kata salah satunya sambil tersenyum kagum. "Kami ingin meneliti bagaimana pasar tradisional seperti ini bertahan di tengah gempuran modernisasi."

 

Dimas mengajak mereka berkeliling. Ia memperkenalkan satu per satu pedagang, menceritakan latar belakang dan kisah unik masing-masing. Bu Wati, misalnya, dulunya bekerja di pabrik garmen sebelum memutuskan berjualan sayur. Pak Darma, tukang ikan, ternyata mantan pelaut yang pernah mengelilingi Asia Tenggara. Semua kisah itu direkam dengan penuh rasa ingin tahu.

 

Mereka terkesan bukan hanya oleh barang yang dijual, tetapi oleh hubungan antar pedagang dan pembeli yang terasa akrab. "Ini bukan sekadar pasar," kata salah satu mahasiswa itu. "Ini seperti komunitas yang bernapas."

 

***Tulisan Dimas juga mulai memberi pengaruh tak terduga. Rina, seorang ibu muda yang tinggal beberapa blok dari pasar, membaca kisahnya dan terinspirasi untuk memulai usaha kecil membuat sambal kemasan. Ia membawa beberapa botol sambal ke pasar dan menitipkannya di lapak Ujang. Sambalnya laku keras.

 

"Kalau bukan karena tulisan Mas Dimas, saya mungkin nggak akan berani," katanya suatu pagi. "Saya pikir siapa yang mau beli sambal buatan saya? Ternyata banyak."

 

Cerita Rina menyebar cepat, memotivasi warga lain untuk mencoba usaha kreatif. Dalam waktu sebulan, pasar punya tambahan tiga pedagang baru yang semuanya memulai dari skala rumahan.

 

***Sementara itu, pihak retail besar tidak tinggal diam. Setelah pendekatan hukum tak berhasil, mereka mencoba strategi "halus": mengirimkan truk besar berisi produk-produk murah tepat di depan jalan menuju pasar, lengkap dengan promosi besar-besaran. Beberapa pembeli tergoda untuk mampir ke truk itu sebelum masuk ke pasar.

 

Dimas dan pedagang lain segera berdiskusi. "Kita tidak bisa melarang mereka," kata Ujang, "tapi kita bisa membuat pembeli lebih betah di pasar."

 

Mereka sepakat mengadakan promo "Hari Pasar Ramah": setiap pembeli yang berbelanja di tiga lapak berbeda akan mendapat kupon kopi gratis di warung tengah pasar. Ide sederhana itu berhasil menarik pembeli kembali. Bahkan pembeli yang sempat mampir ke truk retail akhirnya kembali lagi ke pasar karena suasananya jauh lebih hangat.

 

***Suatu malam, setelah semua kegiatan pasar selesai dan lampu-lampu mulai dimatikan, Dimas duduk sendirian di bangku kayu di sudut balai warga. Di depannya, secangkir teh jahe mengepulkan uap hangat. Ia membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Kali ini, ia tidak menulis untuk publik, melainkan untuk dirinya sendiri.

 

"Terkadang aku takut dengan masa depan," tulisnya pelan. "Bukan takut pada apa yang akan terjadi, tapi takut kehilangan rasa syukur pada hari ini. Pasar ini mungkin suatu saat hilang, tanah bisa tergusur, orang-orang bisa pergi. Tapi jika hari ini aku hadir sepenuhnya, mungkin itu cukup."

 

Ia menutup buku itu dengan hati yang lebih ringan.

 

***Beberapa minggu kemudian, undangan datang dari sebuah stasiun radio nasional. Mereka ingin mewawancarai Dimas tentang "model perlawanan komunitas di tengah gempuran kapitalisme modern". Dimas tertawa mendengar judul itu. "Kita bukan sedang berperang besar," katanya pada Lina. "Kita cuma berusaha hidup dengan cara kita sendiri."

 

Meski begitu, ia menerima undangan itu. Wawancara berlangsung santai tapi penuh makna. Penyiar radio bahkan berjanji akan datang langsung ke Pasar Sejengkal untuk melihat suasananya sendiri.

 

***Malam perayaan "Malam Lampion" yang sebelumnya diadakan, kini menjadi agenda tahunan. Kali ini, jumlah pengunjung membludak. Lampion-lampion buatan warga tergantung rapi di setiap sudut, menebarkan cahaya hangat. Ada panggung kecil tempat anak-anak menari, ada sesi mendongeng untuk anak-anak di tikar besar, dan aroma sate ayam bercampur wangi kue pancong memenuhi udara.

 

Dimas berjalan di antara keramaian, menyapa satu per satu warga. Ia melihat Lina membantu anak-anak menyalakan lampion, Sarah membagikan teh manis kepada pengunjung, dan Ujang sibuk menjaga antrian pembeli sate.

 

Di tengah semua itu, Dimas berhenti sejenak, memandangi langit yang dihiasi ratusan cahaya kecil. "Mungkin inilah yang dimaksud hidup untuk hari ini," pikirnya. "Bukan mengabaikan masa depan, tapi memastikan hari ini begitu berarti sehingga esok punya fondasi yang kuat."

 

***Menjelang akhir acara, seorang bocah kecil menarik bajunya. "Om Dimas, terima kasih ya, Pasar Sejengkal ini seru banget," katanya polos.

 

Dimas tersenyum, lalu jongkok agar sejajar dengan si bocah. "Kamu juga yang bikin pasar ini seru, karena kamu datang dan ikut main."

 

Bocah itu tertawa, lalu berlari kembali ke teman-temannya. Dimas berdiri, merasakan getaran kebahagiaan yang sederhana namun dalam.

 

***Esok paginya, ia kembali ke pasar seperti biasa. Suasana kembali normal, tapi hati Dimas masih dipenuhi rasa hangat dari malam sebelumnya. Ia tahu, tantangan belum selesai. Tapi ia juga tahu, setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperkuat apa yang telah mereka bangun.

 

Ia mengangkat kepalanya, tersenyum pada matahari pagi. "Hari ini untuk esok," gumamnya. "Esok untuk yang abadi."*Bersambung ke Part 17...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 16 Hari Ini Untuk Esok