Dilihat : 10 kali

Pagi hari sebelum pernikahan, Dimas terbangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di teras rumah kecilnya,

 

menghirup aroma tanah basah sisa hujan semalam. Tanah sejengkal ini, yang dulu dianggap remeh, kini menjadi pusat dari semua yang ia perjuangkan.

 

*** Persiapan Sehari Sebelumnya ***Sehari sebelumnya, suasana pasar penuh riuh. Para pedagang menutup lapak lebih cepat agar bisa membantu.

 

Ujang membawa papan kayu dan meja panjang dari warungnya. Sarah mengatur para ibu untuk membuat kue dan hidangan sederhana, sementara Pak Rasid mengawasi proses pemasangan tenda.

 

"Awas jangan terlalu kencang talinya, nanti bambunya patah," seru Pak Rasid sambil memegang tongkatnya. Meski sudah renta, semangatnya tak pernah padam.Dimas berjalan berkeliling, memastikan semua berjalan lancar. Ia tersenyum melihat warga saling bahu-membahu.

 

Setiap orang memberi kontribusi: anak-anak membuat hiasan dari kertas warna-warni, para remaja mempersiapkan sound system bekas acara tahun lalu,

 

dan para bapak memotong bambu untuk membuat gapura sederhana di depan halaman rumah.

 

Di dapur umum, aroma bawang goreng dan santan menguar ke seluruh penjuru. Lina membantu memotong sayuran sambil sesekali tertawa kecil mendengar candaan ibu-ibu.

 

Di matanya, ini bukan hanya persiapan pesta, tapi bukti bahwa mereka memiliki keluarga besar yang saling peduli.

 

*** Malam Sebelum Hari H ***Malamnya, Dimas dan Lina duduk di teras, memandangi bintang-bintang yang sesekali tertutup awan. "Aku ingat pertama kali kita ketemu di pasar," kata Dimas. "Kamu jualan kebutuhan harian, aku beli sabun dan beras. Nggak pernah nyangka kita akan sampai di sini."

 

Lina tersenyum. "Aku juga nggak nyangka. Tapi aku suka caramu melihat dunia, Dim. Sederhana, tapi penuh makna."

 

"Aku cuma berusaha hidup sesuai kemampuanku," jawab Dimas pelan. "Dan ternyata, itu cukup membawa kita sampai sini."

 

*** Hari Pernikahan ***Pagi itu, udara segar membawa semangat baru. Lampion-lampion kertas yang dipasang semalam bergoyang pelan tertiup angin.

 

Anak-anak berlarian di halaman sambil membawa bunga kertas. Para ibu sibuk menata hidangan, sementara para bapak mengatur kursi.

 

Pak Rasid menghampiri Dimas sebelum acara dimulai. "Ingat, Nak," katanya dengan nada tegas namun hangat,

 

"Tanah ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini bukti bahwa kamu bisa menanam sesuatu yang akan bertahan. Jangan pernah lepaskan tanpa alasan yang benar-benar kuat."

 

Dimas mengangguk, merasakan berat namun hangatnya pesan itu.

 

*** Prosesi ***Pernikahan dimulai sederhana. Dimas mengenakan kemeja putih bersih, Lina memakai kebaya krem dengan selendang tipis.

 

Di hadapan penghulu, mereka mengucapkan janji dengan suara bergetar. Di sekitar mereka, warga pasar menjadi saksi sekaligus keluarga.

 

Tidak ada dekorasi mewah, hanya tanaman hias dan bunga kertas. Tapi suasananya hangat. Anak-anak tertawa, orang tua tersenyum,

 

dan semua orang merasakan kebahagiaan yang tulus.

 

*** Pesta Rakyat ***Setelah prosesi selesai, meja panjang dipenuhi hidangan: nasi liwet, ayam goreng, sambal, sayur asem, dan kue basah.

 

Musik akustik dari gitar Ujang mengiringi suasana. Beberapa warga bercerita tentang masa lalu Dimas.

 

"Aku ingat dulu Dimas cuma punya motor tua yang sering mogok," kata seorang bapak sambil tertawa. "Sekarang, lihat dia! Punya rumah di tanah sendiri, dan istrinya cantik!"

 

Tawa meledak di meja. Dimas hanya menggeleng, tersenyum malu.

 

Seorang ibu tua mendekat pada Lina. "Nak, kamu beruntung. Lelaki ini tidak hanya tahu caranya mencari uang, tapi juga tahu cara hidup."

 

*** Malam Hari ***Malam tiba, lampion menyala di setiap sudut halaman. Musik berubah menjadi lagu-lagu pelan. Beberapa warga mulai pulang,

 

tapi banyak juga yang masih bertahan, duduk mengelilingi api unggun kecil di tengah halaman.Dimas dan Lina duduk di teras, memandangi suasana itu. "Kalau aku lihat ke belakang," kata Dimas,

 

"semua ini berawal dari keputusan-keputusan kecil. Nggak beli merek mahal, belanja di pasar, beli tanah sejengkal.

 

Semua kelihatannya remeh, tapi ternyata membentuk hidup kita."

 

Lina menggenggam tangan Dimas. "Dan semua itu akan kita teruskan. Kita jaga, kita wariskan."

 

*** Epilog ***Di hari-hari berikutnya, rumah sejengkal ini menjadi tempat berkumpulnya warga. Mereka bercerita,

 

merencanakan pasar bersama, atau sekadar minum teh sore. Filosofi sejengkal tanah menyebar ke banyak orang.

 

Ada yang mulai menabung untuk membeli sebidang kecil, ada yang mengubah cara belanja, semua terinspirasi dari perjalanan Dimas.

 

Bagi Dimas, sejengkal ini adalah lambang bahwa hidup tidak harus megah untuk berarti.

 

Selama ada cinta, kebersamaan, dan keberanian untuk hidup sesuai prinsip, sejengkal akan terasa seluas dunia.
*** Kilas Balik yang Menyatu ***Malam semakin larut, namun halaman kecil itu belum juga sepi. Dimas berdiri sejenak, membiarkan pikirannya berjalan mundur seperti film yang diputar terbalik.Ia melihat dirinya yang dulu—anak baru di kota, membawa koper yang terlalu ringan dan harapan yang terlalu berat.

 

Ia melihat kamar kos sempit dengan kipas angin berderit, juga kalender promosi yang ia gunakan untuk menghitung hari gajian.

 

Gaji kecil, hidup mahal. Ia tersenyum getir mengingat betapa seringnya ia menahan lapar sambil menghitung koin di saku.

 

Namun dari sana, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti mengencangkan ikat pinggang; kadang berarti mengendurkan keinginan.

 

Ia mengingat hari ketika ia memutuskan berhenti mengejar merek.

 

Sepasang sepatu tanpa logo menyelamatkan tabungannya. Kaos polos, tas kain, jam tangan bekas—semuanya cukup.

 

Di pasar, ia bertemu Lina yang menawarkan sabun batangan dan beras kemasan. Percakapan pertama mereka berlangsung canggung namun jujur.

 

Sejak saat itu, Dimas tahu: rasa nyaman tidak datang dari label, melainkan dari tatapan yang bisa dipercaya.

 

Ingatan berikutnya adalah hari ketika ia beralih dari minimarket ke pasar tradisional.

 

Di sana ia bertemu Ujang, pemilik warung yang tak pelit berbagi cerita harga grosir dan musim panen.

 

Dari Ujang, Dimas belajar satu prinsip: "Kalau kamu tahu asalnya, kamu tahu nilainya."Itu yang membuatnya rela bangun lebih pagi hanya untuk membeli cabai langsung dari tengkulak kecil yang jujur.

 

Lalu datanglah Pak Rasid. Seorang pensiunan yang berjalan pelan namun berbicara tegas."Beli tanah sejengkal di banyak tempat," kata Pak Rasid kala itu. "Jangan menumpuk di satu titik. Biar akarmu punya banyak kemungkinan."

 

Dimas mengikuti nasihat itu—sejengkal demi sejengkal—hingga hari ini, di atas sejengkal pertamanya, ia duduk di teras rumah kecilnya.

 

Ia juga mengingat ketika ia memilih gaji yang tidak lewat ambang pajak saat wawancara kerja baru.

 

Teman-temannya menertawakan. Namun ia tertawa belakangan—karena waktunya yang lapang membawanya pada pasar, pada orang-orang, pada hidup yang ia inginkan.

 

Di tempat kerja, ia mulai bicara soal keadilan upah, soal dividen keringat. Ia tidak selalu menang, tapi suaranya membuat banyak orang berani.

 

Lalu ada dapur umum—wajan raksasa, asap yang menari, dan tawa di tengah kesulitan. Di sana ia bertemu Sarah.

 

Dari Sarah, ia belajar berbagi tanpa berlebihan. Bahwa menolong bukan berarti mengosongkan piring sendiri, melainkan memperbanyak sendok di meja.

 

Ia mengingat masa lalu yang kelam—kegagalan, hutang kecil yang terasa besar, malam-malam cemas. Hingga suatu ketika, ia memutuskan hidup di hari ini saja.

 

Masa depan tidak lagi menjadi hantu; masa lalu tidak lagi menjadi jangkar. Yang ada hanya langkah berikutnya—sejengkal berikutnya.

 

Ia ingat perlawanan: teman kerja yang di-PHK semena-mena, surat-surat yang ia ketik, rapat-rapat panjang yang melelahkan.

 

Hak adalah harga mati, pikirnya waktu itu—dan pikiran itu tidak pudar sampai malam ini.Puncak ingatan datang pada tanah sejengkal yang dulu nyaris ia jual saat pengembang datang dengan angka-angka menggiurkan.

 

Ia menolak—dan keputusan itu mengubah siapa dirinya. Harga diri ternyata bisa berdiri di atas tanah, bahkan yang luasnya hanya cukup untuk dua langkah.

 

Ketika penggusuran ilegal terjadi, hampir saja ia runtuh. Tapi komunitas memegang bahunya, menegakkan punggungnya kembali.

 

Akhirnya ia sampai di hari pasar dan perlawanan. Mereka membangun pasar, mencium bau kayu basah, memaku papan terpal, mengangkat meja.

 

Pasar itu tumbuh menjadi nadi. Dan malam ini, di rumah di atas sejengkal pertama, semua kisah itu bertaut seperti anyaman tikar.

 

*** Ucapan-ucapan yang Tinggal di Kepala ***Menjelang tengah malam, warga berkumpul membuat lingkaran.

 

Masing-masing diminta menyampaikan satu kalimat untuk Dimas dan Lina—kalimat yang tidak harus manis, tapi harus jujur.

 

Ujang mengangkat gelas teh. "Dim, kau mengajariku bahwa rugi kecil bukan selalu kalah. Kadang itu biaya sekolah."

 

Tawa pecah.

 

Sarah menatap Lina, suaranya bening. "Terima kasih sudah menjaga ritme. Di dunia yang ingin berlari, kalian mengingatkan kami untuk melangkah."

 

Rudi—yang dulu paling pesimis soal pasar—menggaruk kepala. "Aku minta maaf sudah sering ragu.

 

Ternyata ragu tidak membuat kita aman, cuma membuat kita terlambat bahagia."

 

Seorang ibu muda, Rina, maju membawa dua botol sambal buatannya. "Ini hadiah kecil. Produk pertama yang laku karena pasar kita.

 

Kalau kalian lapar tengah malam, ingat kami semua pernah kenyang berkat kalian."

 

Pak Rasid menutup sesi dengan suara parau namun jernih. "Sejengkal bukan sekadar ukuran, melainkan cara pandang.

 

Kalau kamu bisa adil pada sejengkal, kamu akan adil pada seluas apapun. Kalau kamu bisa bahagia di sejengkal, kamu akan bahagia di manapun."

 

*** Hadiah-hadiah yang Tak Dibungkus ***Hadiah datang tidak selalu dalam kardus. Ada yang menawarkan tenaga—Pak Waryo membuatkan rak buku dari sisa papan.

 

Ada yang menawarkan waktu—dua pemuda berjanji piket membersihkan parit selama sebulan agar halaman tidak banjir.

 

Ada yang menawarkan ide—Sarah mengusulkan "Perpustakaan Sejengkal", lemari kecil di teras yang boleh diakses siapa saja.

 

Lina menyentuh rak buku baru itu, matanya berbinar. "Kita isi dengan buku tentang kebun, ekonomi rumah tangga, dan cerita anak," katanya.

 

Dimas menambahkan, "Dan satu buku kosong. Biar orang mengisi kisah mereka sendiri."

 

*** Pohon yang Dititipkan Masa Depan ***Keesokan paginya, sebelum matahari meninggi, Dimas dan Lina menanam pohon nangka di sudut halaman.

 

Tanah dibuka pelan, akar kecil dicecap air, lalu diselimuti kembali.

 

Anak-anak bertepuk tangan melihat pancang bambu dipasang. Ujang menuliskan tanggal di sepotong kayu: hari ketika pohon dititipkan masa depan.

 

"Kalau nanti berbuah, sebagian kita bikin sayur lodeh, sebagian lagi kita bagi ke tetangga yang baru punya bayi," kata Lina.

 

"Dan sebagian kita jadikan tanda bahwa rezeki tidak harus disimpan semua," sahut Dimas.

 

*** Surat yang Tidak Dikirim ***Siang itu, ketika rumah kembali lengang, Dimas duduk menulis surat kepada dirinya yang berusia dua puluh tiga tahun—usia ketika ia pertama kali datang ke kota.

 

"Jangan khawatir soal kelihatan miskin," tulisnya. "Lebih menakutkan terlihat kaya tapi lapar kasih sayang, lapar tujuan.

 

Beli sejengkal kalau bisa, dan kalau belum bisa, pinjam keyakinan dari orang-orang baik di sekitarmu.

 

Merek tidak menambah rasa kenyang. Minimarket tidak menambah sapa. Tanah tidak menambah langit, tapi menambah pijakan."

 

Surat itu ia lipat dan masukkan ke rak "Perpustakaan Sejengkal". Ia tidak berniat mengirimnya ke mana pun. Cukup disimpan oleh rumah.

 

*** Percakapan tentang Esok ***Sore datang dengan angin yang membawa bau hujan.

 

Lina menjemur kain tirai yang baru dicuci. "Dim, bagaimana kalau kita jadwalkan pertemuan bulanan di rumah? Bukan rapat, hanya pertemuan," usulnya.

 

"Setiap orang bercerita satu hal yang ia syukuri dan satu hal yang ia khawatirkan."

 

Dimas mengangguk. "Biar esok tidak menumpuk di kepala, ya? Kita bagi bebannya."

 

Mereka membuat daftar kecil di kertas cokelat: "Pertemuan Sejengkal — Minggu terakhir setiap bulan."

 

Di bawahnya, Lina menulis: "Tidak ada pamer. Tidak ada malu. Yang ada hanya cerita."

 

*** Tamu-Tamu Tak Terduga ***Menjelang magrib, tiga mahasiswa antropologi yang pernah meneliti pasar datang membawa cetakan foto-foto lama.

 

Ada foto Dimas menenteng papan terpal, Lina menakar bumbu, Ujang tertawa sambil mengangkat ikan, Sarah memimpin rapat dengan tangan berlumur tepung.

 

"Ini untuk rumah," kata mereka.

 

Dimas menempelkan foto-foto itu di dinding ruang tamu, di atas rak buku. Dinding kayu itu kini bercerita.

 

Tak lama, seorang wartawan radio yang pernah mewawancarai Dimas datang tanpa mikrofon, hanya membawa buah tangan: bibit pohon kelor.

 

"Buat sayur bening," katanya. Lina tertawa. "Buat obat juga, kalau terlalu banyak rapat."

 

*** Malam Kedua: Pesta Tanpa Panggung ***Malam berikutnya, warga kembali berdatangan tanpa undangan tertulis. Mereka membawa apa saja yang ada di rumah.

 

Seseorang membawa kacang rebus, yang lain membawa tape singkong, ada pula yang membawa kompor kecil untuk memasak di halaman.

 

Anak-anak berlatih menampilkan dongeng pendek tentang "Sejengkal Sakti"—kisah tanah kecil yang menolak dijual kepada raksasa karena ingin tetap menjadi tempat bermain.

 

Di tengah tawa, Rudi berbisik pada Dimas, "Aku ingin belajar menanam. Bukan untuk dijual, tapi untuk makan malam keluarga."

 

Dimas menepuk bahunya. "Besok kita mulai. Sejengkal di belakang rumahmu cukup untuk kangkung dan cabai."

 

*** Mengikat Ulang yang Sudah Terikat ***Beberapa hari setelah pesta, Dimas mengajukan ide ke koperasi: "Program Sejengkal Bergilir."Intinya sederhana—koperasi meminjamkan modal kecil bergilir untuk membeli lahan sempit atau alat produksi mikro,

 

dengan syarat penerima menuliskan jurnal pengalaman selama enam bulan. Jurnal itu akan disimpan di Perpustakaan Sejengkal.

 

Sarah menambahkan aspek lain: "Kelas Sabtu Pagi"—belajar pembukuan sederhana, hukum dasar, dan negosiasi harga bagi pedagang.

 

Lina menawarkan "Dapur Ramah Sisa"—kelas memasak agar sisa bahan tidak terbuang.

 

Ujang mengusulkan "Rantai Dingin Murah"—boks es berbagi untuk ikan agar kualitas terjaga tanpa biaya besar.

 

Pada rapat koperasi, ide-ide itu disetujui dengan tepuk tangan.

 

Tidak ada seremoni besar, hanya keputusan yang segera dikerjakan.

 

"Perlawanan paling kuat," kata Pak Rasid, "adalah rutinitas yang baik."

 

*** Musim yang Berganti ***Bulan-bulan berlalu. Pohon nangka tumbuh satu jengkal lebih tinggi.

 

Lampu kecil di teras dinyalakan setiap senja, menandai jam pulang pasar.

 

Di halaman, kursi tambahan dipasang; rak buku bertambah penuh oleh sumbangan.Ada buku resep dari nenek-nenek yang tulisannya miring, ada buku catatan utang yang diselesaikan dengan senyuman, ada juga buku gambar anak-anak dengan sketsa pasar dan rumah sejengkal.

 

Sekali waktu, kabar kurang enak datang: dinas kembali memeriksa izin pasar.

 

Kali ini, koperasi sudah siap. Dokumen ditunjukkan, prosedur dilalui, tidak ada celah berarti.

 

Pihak retail mencoba membuka toko baru lebih dekat lagi, namun warga sudah punya kebiasaan: sarapan beli di pasar dulu, sisanya boleh di tempat lain.

 

Kebiasaan itulah benteng yang tak terlihat.

 

*** Surat Balasan dari Masa Depan ***Suatu malam, Dimas menemukan selembar kertas terselip di buku kosong "Kisah Pengunjung".

 

Tulisan tangan yang belum rapi: "Om Dimas, saya suka pasar ini. Nanti kalau saya besar, saya mau punya kebun sejengkal.Boleh nggak Om ngajarin? — Adit, kelas 4 SD."

 

Dimas tersenyum. Ia menuliskan balasan di bawahnya: "Boleh. Minggu depan kita tanam kangkung bareng."

 

*** Hujan, Listrik Padam, dan Tawa ***Hujan lebat turun suatu malam, listrik padam, dan halaman berubah gelap.Warga yang sedang rapat spontan menyalakan lilin. Ujang membawa panci besar, memasak mie godog untuk semua.

 

Sarah bercerita hantu pasar yang takut pada harga yang jujur—semua tertawa.

 

Dalam gelap, Dimas menyadari: cahaya tidak perlu selalu datang dari listrik. Terkadang datang dari panci panas yang dibagi.

 

*** Menjaga dan Dijaga ***Pak Rasid mulai lebih sering duduk. Kesehatannya menurun, tapi matanya masih tajam.Suatu siang ia memanggil Dimas. "Aku titip satu hal. Jangan biarkan rumah ini jadi monumen yang kaku.

 

Biarkan ia tetap hidup—berisik, berdebu, kadang berantakan. Karena rumah yang terlalu rapi biasanya jarang dipakai."

 

Dimas tertawa kecil, lalu mengangguk sungguh-sungguh.

 

*** Pidato yang Tak Direncanakan ***Pada perayaan pasar berikutnya, panitia meminta Dimas memberi sambutan.

 

Ia berdiri di atas peti kayu, menatap kerumunan yang berdesak namun tertib.

 

"Terima kasih sudah membuat sejengkal ini terasa lapang," katanya.

 

"Kalau suatu hari aku tidak ada, jangan menanyakan di mana aku. Lihat saja di mana tangan-tangan saling menolong—aku ada di sana.

 

Lihat di mana harga tidak membuat orang malu—aku ada di sana. Lihat di mana anak-anak berlari tanpa takut—aku ada di sana."

 

Hening sejenak, lalu tepuk tangan panjang mengisi udara.

 

*** Esok yang Dinanti, Bukan Ditakuti ***Menutup malam, Dimas dan Lina kembali ke teras.

 

Di pangkuan Lina, tertidur buku kecil berisi daftar pinjaman bergilir.

 

Di meja, ada bibit cabai baru. Di rak, ada surat Adit yang akan datang menanam Minggu depan.Dimas menatap langit. Tidak semua tenang—akan ada musim paceklik, akan ada harga naik, akan ada pengawasan lagi.

 

Namun kini ia tidak lagi takut. Karena esok bukan hantu; esok adalah tamu—yang akan disambut jika datang, dan dibiarkan pergi jika terlalu bising.

 

Ia menoleh pada Lina. "Terima kasih sudah memilih hidup di sini."

 

Lina menjawab tanpa menoleh, "Terima kasih sudah membuat di sini terasa seperti di mana pun kita bisa bermimpi."

 

*** Penutup yang Terbuka ***Pagi berikutnya, Dimas menulis satu kalimat terakhir di kertas cokelat dan menempelkannya di dinding dekat pintu:

 

"Sejengkal yang abadi bukan tanahnya, melainkan kebiasaan baik yang ditanam di atasnya."

 

Ia menutup pintu rumah, melangkah menuju pasar, menyapa orang-orang dengan senyum yang sama—senyum yang pernah menyelamatkannya dari hari-hari kelam.

 

Di saku kemejanya, ada kertas kecil berisi daftar belanja: cabai rawit, gula aren, dan paku ukuran dua inci.

 

Di hatinya, ada daftar yang lebih panjang: orang-orang yang harus ia jaga, cerita-cerita yang harus ia dengar, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang harus ia ulang.

 

Dan begitulah, sejengkal itu terus bertambah—bukan ke samping, melainkan ke dalam.

 

*** Tamat ***


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 17 Sejengkal Yang Abadi

Nenek Sudah tua (Inspired by Burung Kakatua) ~ Aisha. S.V.

let's play to support : https://bit.ly/push-rank ================== connect & support: ytb : https://www.youtube.com/@PushRankMusicStudio ytb kids : https://www.youtube.com/@PushRankMusicKids tiktok : https://www.tiktok.com/@pushrank.music ...

Indahnya Pelangi (Inspired by Pelangi Pelangi) ~ Aisha. S.V.

let's play to support : https://bit.ly/push-rank ================== connect & support: ytb : https://www.youtube.com/@PushRankMusicStudio ytb kids : https://www.youtube.com/@PushRankMusicKids tiktok : https://www.tiktok.com/@pushrank.music ...

Ibu Tiri (Inspired By Ratapan Anak Tiri) ~ Aisha. S.V.

let's play to support : https://bit.ly/push-rank ================== connect & support: ytb : https://www.youtube.com/@PushRankMusicStudio ytb kids : https://www.youtube.com/@PushRankMusicKids tiktok : https://www.tiktok.com/@pushrank.music ...

Hari Ulang Tahun ~ Aisha. S.V.

let's play to support : https://bit.ly/push-rank ================== connect & support: ytb : https://www.youtube.com/@PushRankMusicStudio ytb kids : https://www.youtube.com/@PushRankMusicKids tiktok : https://www.tiktok.com/@pushrank.music ...

Bintang Ceria (Inspired By Bintang Kecil) ~ Aisha S.V.

let's play to support : https://bit.ly/push-rank ================== connect & support: ytb : https://www.youtube.com/@PushRankMusicStudio ytb kids : https://www.youtube.com/@PushRankMusicKids tiktok : https://www.tiktok.com/@pushrank.music ...

Balonku Masih Lima ~ Aisha S.V.

let's play to support : https://bit.ly/push-rank ================== connect & support: ytb : https://www.youtube.com/@PushRankMusicStudio ytb kids : https://www.youtube.com/@PushRankMusicKids tiktok : https://www.tiktok.com/@pushrank.music ...

Suplai dan Produsen Telor di Cimahi

Suplai dan Produsen Telor di Cimahi: Sebuah Panduan Mendalam   Cimahi, sebuah kota di Jawa Barat, telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan distribusi telur yang penting di Indonesia. Pasar telur di ...