Dilihat : 5 kali

Jakarta, pukul 05.45 pagi.

 

Dimas bangun dengan suara dering alarm dari ponsel bututnya yang layar depannya sudah retak. Sinar matahari belum sempat menembus tirai jendela kos-kosan sempit berukuran 2x3 meter yang ia sewa seharga 800 ribu sebulan. Di luar, suara motor ojek online sudah ramai, menandai dimulainya pertempuran baru di hari itu.

 

Ia menatap langit-langit sebentar, lalu menghela napas panjang. "Ayo, hidup dimulai," gumamnya, meskipun tubuhnya enggan untuk beranjak.

 

Dimas adalah anak rantau dari sebuah desa kecil di pinggiran Purwokerto. Setelah lulus kuliah dengan gelar sarjana komunikasi yang ia banggakan, ia pindah ke ibu kota dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan bergengsi. Namun kenyataannya jauh dari ekspektasi. Ia bekerja sebagai admin media sosial untuk sebuah perusahaan startup kecil, dengan gaji hanya 3,5 juta rupiah per bulan. Potong sewa kos, makan, transportasi, dan sedikit pulsa—habis. Tidak ada ruang untuk sakit, apalagi liburan.

 

Pagi itu, ia sarapan seadanya: nasi putih sisa semalam dan telur dadar yang sudah dingin. Ia menolak beli kopi sachet yang biasa ia minum karena harus berhemat. Ia tahu, sekalipun nilainya kecil, pengeluaran kecil yang berulang bisa membuat dompetnya berdarah.

 

Di dalam TransJakarta menuju kantornya di bilangan Kuningan, Dimas berdiri, memegang erat pegangan besi karena tidak kebagian tempat duduk. Di sekelilingnya, orang-orang dengan wajah letih menatap kosong ke layar ponsel masing-masing. Ia teringat kembali percakapan dengan temannya kemarin malam, Reno, yang bekerja di kantor besar dengan gaji dua kali lipat dirinya.

 

"Lo tuh harus upgrade gaya hidup, Dim. Pake baju yang branded dikit kek. Biar diliat profesional."

 

Dimas hanya tersenyum waktu itu. Tapi pagi ini, dengan napas sempit dan mata kantuk, ia merasa sedih. Bukan karena tidak punya baju mahal, tapi karena di dunia ini, terlalu banyak orang yang diukur dari apa yang mereka pakai, bukan dari apa yang mereka kerjakan.

 

Sesampainya di kantor, Dimas langsung disambut oleh wajah sinis atasannya. "Telat lima menit, Mas Dimas. Udah tiga kali minggu ini."

 

Dimas hanya mengangguk dan minta maaf. Ia tahu, memperdebatkan lima menit tidak akan mengubah hidupnya. Namun, batinnya mulai merasa ada sesuatu yang salah dengan cara hidup yang ia jalani.

 

Setelah jam kantor selesai, Dimas duduk sendirian di taman kecil belakang kantor. Ia membuka catatan digital di ponselnya dan menulis: *"Tips bertahan hidup di kota besar: jangan beli produk bermerek, jangan beli di minimarket, dan jangan pernah berharap sistem akan berpihak padamu."*

 

Saat itulah ia bertemu dengan Lina, seorang perempuan muda yang menjual keripik rumahan. Mereka bertukar senyum. Lina menawarkan keripik singkong original tanpa label, tanpa merek, tanpa iklan.

 

"Berapa, Mbak?""Lima ribu aja, Mas. Tanpa merek, tapi rasa rumah."Dimas tertawa kecil. "Itu tagline bagus, Mbak.""Yang penting kenyang," jawab Lina.

 

Dan mungkin—itu benar. Yang penting kenyang.

 

Hari itu, Dimas pulang dengan secuil harapan. Mungkin ia belum sukses, belum punya rumah, belum punya tabungan. Tapi ia tahu, ada cara lain untuk bertahan. Dan itu semua akan ia mulai dari sejengkal langkah kecil.---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 1 Gaji Kecil Hidup Mahal

Sonic The Hedgehog Games Free Online No Download

Menghidupkan Kembali Kecepatan dan Petualangan dengan Sonic the Hedgehog Games Free Online No Download! Sonic the Hedgehog, ikon legendaris dari era klasik game, kembali memacu adrenalin Anda dalam pengalaman gaming yang seru ...

Susu Kambing Etawa SKEY

info susu kambing etawa : klik info lengkap seowa Kibul Gonzales Hs Part 1 Gaji Kecil Hidup Mahal ...