Dilihat : 42 kali

Sabtu sore, Dimas duduk di taman kecil yang tidak jauh dari kos-kosannya. Biasanya, taman itu sepi, hanya didatangi oleh beberapa anak kecil dan pedagang keliling. 

 

Tapi hari itu, ada seorang pria tua yang menarik perhatiannya. Ia mengenakan kemeja batik lusuh, topi rajut, dan sedang memberi makan burung-burung kecil di rerumputan.

 

Dimas duduk di bangku yang sama. Pria tua itu menoleh dan tersenyum ramah.

 

"Jarang yang suka duduk di sini sore-sore," katanya.

 

"Mungkin karena gak ada WiFi, Pak," jawab Dimas sambil tertawa kecil.

 

Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya pria itu memperkenalkan diri sebagai **Pak Rasid**, pensiunan PNS yang kini tinggal di sekitar situ. Obrolan ringan berubah serius ketika Pak Rasid menyinggung soal tanah.

 

"Dulu saya juga punya mimpi beli tanah luas. Tapi makin ke sini, saya sadar, sejengkal tanah di banyak tempat lebih bernilai daripada seluas-luasnya di satu tempat."

 

Dimas penasaran. "Maksudnya, Pak?"

 

"Kalau kamu beli tanah kecil-kecil, sejengkal demi sejengkal, di banyak tempat—bahkan yang dianggap gak strategis—kamu bukan cuma pegang nilai investasi. Kamu pegang jembatan silaturahim."

 

Pak Rasid membuka ponselnya dan menunjukkan peta digital. Di sana ada titik-titik kecil di berbagai wilayah: Bekasi, Cianjur, Banyuwangi, bahkan satu di Sabah, Malaysia.

 

"Itu semua saya beli bukan buat bangun rumah. Tapi buat punya alasan ke sana. Setiap saya datang, saya bisa kenal tetangga baru, ngobrol sama warga, bahkan kadang numpang tidur di masjid setempat. Peluang silaturahim itu gak bisa dibeli."

 

***

 

Ucapan itu menempel kuat di benak Dimas. Ia mulai mencari informasi tentang kavling kecil, tanah desa, dan bahkan lahan produktif bekas sawah. Ia sadar, dengan gajinya yang kecil, ia tak bisa menyaingi investor besar. Tapi ia bisa mulai dari sejengkal.

 

Dua minggu kemudian, Dimas berhasil membeli sebidang kecil tanah di lereng Gunung Salak. Harganya murah, hanya cukup untuk satu pondok kecil. Tapi perasaannya luar biasa.Ia menelepon Pak Rasid.

 

"Pak, saya udah beli tanah sejengkal. Di Bogor."

 

Pak Rasid hanya tertawa senang. "Nah, sekarang kamu punya alasan ke Bogor tiap tahun. Jangan lupa bawa oleh-oleh."

 

***Hari itu, Dimas menulis catatan:

 

"Tanah sejengkal bukan sekadar investasi. Ia adalah pintu untuk bertemu dunia lain. Dunia di mana nama kita mungkin belum dikenal, tapi sapaan kita ditunggu."

 

Dan untuk pertama kalinya, Dimas merasa memiliki sesuatu. Bukan hanya properti, tapi kemungkinan—akan petualangan, pertemanan, dan masa depan yang tak ditentukan oleh uang semata.---*To be continued...*


Tag :

Kibul Gonzales Hs Part 4 Tanah Sejengkal