Dilihat : 19 kali

Dimas sudah tiga bulan bekerja di perusahaan barunya sebagai digital strategist. Meski gajinya tidak tinggi, ia menikmati fleksibilitas yang ditawarkan. Ia bisa bekerja dari mana saja, bahkan sesekali dari taman kota atau kafe kecil milik temannya. Tapi hari itu, ia mulai merasa ada sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Proyek yang ia kerjakan selama dua bulan terakhir—sebuah kampanye media sosial untuk produk lokal ramah lingkungan—membuahkan hasil luar biasa. Penjualan klien naik signifikan, dan perusahaan mendapat kontrak lanjutan yang nilainya jauh lebih besar dari sebelumnya.

Namun, ketika pengumuman bonus diberikan, nama Dimas tidak ada dalam daftar penerima. Ia merasa heran dan sedikit kecewa. Bukan karena mengharapkan uang lebih, tapi karena merasa jerih payahnya tidak dihargai secara layak.

Ia memberanikan diri berbicara dengan atasannya, Mbak Rani, yang dikenal adil namun tegas.

"Mbak, saya cuma mau tanya... kontribusi saya di kampanye kemarin apakah dinilai?"

Mbak Rani menatap Dimas serius.

"Dinilai, tentu. Tapi kamu masih kontrak, Mas Dimas. Bonus hanya untuk karyawan tetap."

Dimas mengangguk, namun hatinya menolak diam.

"Saya paham, tapi... apakah sistem ini adil? Kalau hasil kerja saya membantu mendatangkan nilai besar untuk perusahaan, apakah tidak layak kalau saya dapat dividen yang sepadan?"

Malam harinya, Dimas tidak bisa tidur. Ia merasa sedang berdiri di batas: antara bersyukur dan menuntut hak. Ia menulis di catatannya:

"Dividen bukan hanya untuk pemilik modal. Keringat juga butuh dihargai, meski hanya setetes."

Keesokan harinya, ia kembali berbicara dengan Mbak Rani. Kali ini ia membawa data: engagement rate, konversi iklan, hingga pertumbuhan akun media sosial selama kampanye. Semua hasil kerja yang ia pimpin.

Mbak Rani membaca semua dengan seksama.

"Kamu benar, Mas Dimas. Mungkin sudah waktunya kita evaluasi ulang sistem kompensasi."

Beberapa hari kemudian, manajemen perusahaan memutuskan untuk membuat skema kompensasi tambahan bagi karyawan kontrak berdasarkan performa proyek. Dimas menjadi karyawan pertama yang menerima kompensasi tersebut. Bukan dalam bentuk bonus besar, tapi sebagai dividen keringat: penghargaan simbolis dan uang tambahan yang cukup untuk membeli sepeda lipat impiannya.

Sore harinya, ia bersepeda mengelilingi taman kota sambil tersenyum. Bukan karena ia merasa menang, tapi karena tahu bahwa ia telah memperjuangkan haknya tanpa menjatuhkan siapa pun.

Dan malam itu, ia menulis:

"Keringat tidak selalu dihargai di awal. Tapi kalau kau punya data, suara, dan keberanian—keringatmu bisa jadi dividen, bukan sekadar kenangan."

To be continued..


Tag :

Kibul Gonzales HS Part 6 Dividen Keringat

Jasa Car Branding di Cimahi Bandung dan Sekitarnya!

Jasa Car Branding: Membawa Bisnis Anda ke Jalanan Cimahi - Bandung dan Sekitarnya.. Memperkenalkan Car Branding: Sebuah Pengantar Dalam dunia bisnis yang kompetitif seperti sekarang, menciptakan kehadiran yang berkesan dan meningkatkan visibilitas ...

Suplai Skincare Probiotik Diskon Khusus Langsung ke Kota Anda

MANFAAT SKINCARE PROBIOTIK UNTUK KULIT - Suplai Skincare Probiotik Diskon Khusus Langsung ke Kota Anda seowa Mengobati Jerawat Membantu memulihkan keseimbangan mikrobioma yang sehat pada kulit. Probiotik juga menghasilan peptide antrimikroba ( ...

Penerimaan Anggota Tentara Preman Pasar Global!

Rp 45

🚀 Bergabunglah menjadi Tentara Preman Pasar Global! 🌐 Apakah Anda siap memasuki dunia perdagangan global dengan keberanian dan pengetahuan yang mendalam? Kami membuka kesempatan luar biasa bagi Anda untuk menjadi bagian dari Tentara Preman ...